Bab Seratus Empat Puluh Delapan: Pertempuran Antar Sekolah (Bagian Kedua)
Su Yuxiao menunjuk ke arah Meng Kaifeng dan memaki dengan suara tinggi, "Keparat, apa maksudmu?"
Segera setelah itu, Su Yuxiao mengarahkan jarinya kepadaku, "Zhang Nan, kemarilah! Jika punya nyali, berandal, mari kita bertarung satu lawan satu!"
Wang Haotian buru-buru menahan Su Yuxiao dan berkata, "Kak Xiao, biarkan aku yang menghadapi bajingan ini!"
Wang Haotian menunjuk ke arahku dan menantang, "Zhang Nan, kalau kau punya keberanian, majulah! Jangan hanya bisa banyak bicara!"
Aku menatap Su Yuxiao dan Wang Haotian dengan dingin sambil tersenyum sinis di dalam hati. Kalian benar-benar sombong dan tidak tahu diri, apakah kalian masih mengira aku adalah Zhang Nan yang dulu? Hari ini, aku akan membuat kalian memahami satu kebenaran: setelah tiga hari berpisah, seseorang harus dipandang dengan mata yang sepenuhnya baru.
Aku melangkah maju dengan gaya angkuh, memberi isyarat dengan jari kepada Su Yuxiao, lalu kepada Wang Haotian, dan terakhir kepada Jiang Hao, "Kalian majulah bersama-sama!"
Wang Haotian dibuat tertawa geli oleh sikapku, lalu melangkah lebar ke arahku, "Sialan, kubikin jera kau yang suka pamer ini!"
Namun, baru dua langkah berjalan, Wang Haotian sudah dicegat oleh Jiang Hao.
Jiang Hao merasa akubukanlah tandingannya dan ingin memamerkan kemampuannya di hadapan orang-orang dari SMA Negeri 2. Ia menepuk pundak Wang Haotian seraya berkata, "Haotian, biarkan aku yang maju!"
Meskipun kemampuan bertarung Wang Haotian sedikit lebih kuat daripada Jiang Hao, pengaruh kekuasaan Jiang Hao jauh lebih besar daripadanya.
Hubungan di antara mereka berdua sangat mirip dengan hubungan antara Meng Kaifeng dan Wu Yan sebelumnya.
Wang Haotian menggertakkan giginya, lalu mengangguk dengan perasaan enggan.
Jiang Hao berjalan menghampiriku dengan langkah santai, mengamatiku dari atas sampai bawah, lalu tersenyum meremehkan, "Kemarilah! Lihat bagaimana aku—"
Kata-kata Jiang Hao belum sempat selesai ketika aku melayangkan sebuah tendangan cepat ke pergelangan kakinya.
Jiang Hao langsung terjatuh ke tanah seketika.
Orang-orang yang menyaksikan pemandangan itu merasa sangat terkejut dan bingung, tidak tahu bagaimana caranya Jiang Hao bisa terjatuh begitu saja. Gerakanku terlalu cepat, dan serangan itu dilancarkan dari bawah sehingga tidak disadari oleh kebanyakan orang, meski Meng Kaifeng dan kelompoknya mengetahuinya.
Jiang Hao bangkit dari lantai, merenggangkan pergelangan kakinya, lalu berkata, "Bocah sialan, kau berani-aninya menyerangku secara diam-diam, aku akan—"
Belum sempat Jiang Hao merampungkan kalimatnya, aku kembali menendang pergelangan kakinya sekali lagi.
Jiang Hao gagal menghindar dan kembali tersungkur mencium bumi.
Kali ini, sebagian besar orang sudah melihat dengan jelas apa yang terjadi. Beberapa merasa sangat takjub, sebagian tampak berpikir keras, sementara yang lain menganggapnya remeh karena beranggapan itu hanyalah serangan pengecut.
Harga diri Jiang Hao terluka. Ia bangkit berdiri, menunjuk ke arahku dan berkata, "Zhang Nan, jika kau punya sedikit nyali—"
Tanpa menunggu ucapannya selesai, aku kembali meluncurkan tendangan ke arah pergelangan kaki Jiang Hao.
Jiang Hao kali ini sudah bersiap-siap. Begitu melihat kakinya kuangkat, ia langsung melompat mundur dan berhasil menghindari tendanganku.
Dengan nada bangga, Jiang Hao berkata, "Zhang Nan, bocah sepertimu tidak akan bisa—"
Kalimatnya terpotong oleh suara gedebuk ketika ia terjatuh untuk ketiga kalinya.
Aku menunduk menatap Jiang Hao yang sedang berbaring di dekat kakiku, lalu berkata dengan nada mempermainkan, "Apakah kau tadi ingin mengatakan, kenapa kali ini aku tidak berhasil menendangmu?"
Saat aku menendang Jiang Hao sebelumnya, aku sebenarnya sudah menduga bahwa ia akan menghindar. Oleh karena itu, tendangan pertama tadi hanyalah tipuan, dan tendangan kedua yang menyusul adalah serangan yang sebenarnya.
Jiang Hao yang dijatuhkan tiga kali berturut-turut mulai merasa malu dan murka. Ia segera bangkit dari tanah, berniat untuk menyerangku balik.
Namun, aku sama sekali tidak memberinya kesempatan.
Sebelum Jiang Hao sempat berdiri dengan mantap, aku kembali mendaratkan tendangan di pergelangan kakinya.
Jiang Hao pun terjatuh ke tanah dengan suara gedebuk yang keras.
Semua orang menatapku dengan mata terbelalak karena terkejut, merasa bahwa kejadian ini sungguh di luar nalar.
Menjatuhkan Jiang Hao untuk pertama kalinya mungkin bisa dianggap sebagai sebuah kebetulan, begitu pula untuk yang kedua kalinya. Namun, jika itu terjadi hingga tiga atau empat kali, itu jelas bukan lagi sekadar kebetulan belaka.
Mana mungkin ada begitu banyak kebetulan di dunia ini.
Aku menatap Jiang Hao yang masih terbaring di tanah dan berkata, "Jiang Hao, apakah kau percaya? Aku bisa membuatmu tidak akan pernah bisa berdiri lagi!"
"Sialan, kau pikir aku ini orang bodoh?" Jiang Hao berteriak penuh amarah, lalu memaksakan diri bangkit berdiri.
Akan tetapi, sebelum ia sempat berdiri tegak, aku sudah kembali menendangnya hingga jatuh.
Setelah dijatuhkan sebanyak lima kali berturut-turut, Jiang Hao merasa harga dirinya telah hancur lebur. Sambil merangkak bangkit, ia memaki-maki dengan kalap, "Zhang Nan, jika kau punya keberanian, jatuhkan aku lagi kalau bisa!"
Kali ini, alih-alih berdiri tegak, Jiang Hao memilih untuk mengambil posisi setengah berjongkok.
Aku langsung melompat dengan gerakan tendangan samping, menghantamkan kaki ke arah dagunya.
Tendangan samping adalah jurus yang sangat lumrah dalam seni bela diri Taekwondo dan dapat dikuasai dengan mudah oleh banyak pemula.
Namun, akhir-akhir ini aku sangat menggemari teknik kuncian dan pertarungan jarak dekat, sehingga gerakan yang kurang praktis dan cenderung pamer seperti itu sudah lama kuabaikan.
Hari ini aku mendadak menggunakannya karena kebetulan situasinya pas.
Sebenarnya, untuk menghadapi orang seperti Jiang Hao, aku bisa saja melumpuhkannya dalam satu serangan mematikan.
Namun, demi memberikan efek kejut kepada orang-orang dari SMA Negeri 2, aku sengaja tidak melakukannya.
Ini ibarat menonton film Bruce Lee, di mana ia bisa merobohkan musuh hanya dengan teriakan singkat yang terasa kurang berkesan. Berbeda dengan film Jet Li, di mana ia bergerak lincah ke sana ke mari dengan penuh estetika, yang jauh lebih memukau.
Kini, semua orang benar-benar tertegun olehku, termasuk anak buahku sendiri dari SMA Negeri 1.
"Sejak kapan Kak Nan menjadi begitu hebat?" seorang pemimpin kelompok dari SMA Negeri 1 berbisik di tengah kerumunan.
"Entahlah! Keren sekali! Jangan-jangan kita benar-benar bisa memenangkan tawuran antar sekolah kali ini!" sahut pemimpin kelompok lainnya dengan penuh semangat.
"Belum tentu! Sehebat apa pun Zhang Nan, dia tetaplah sendirian. Tawuran antar sekolah adalah pertarungan kelompok, bukan adu jagoan tunggal!" Kak Xuan masih menunjukkan ketidaksukaannya padaku dan meragukan kekuatanku.
Aku pun malas membuang tenaga untuk mendebat Kak Xuan. Aku menatap Jiang Hao yang masih terkapar di tanah dan bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Jiang Hao menggerakkan bola matanya sejenak, lalu tiba-tiba berguling mendekatiku dengan maksud mencengkeram kakiku.
Aku melompat mundur selangkah, lalu menginjak tangan Jiang Hao dengan kuat.
Jiang Hao langsung menjerit kesakitan sejadi-jadinya!
Aku tersenyum dingin dan berkata, "Jiang Hao, jika kau ingin bermain trik picik di hadapanku, kau masih terlalu hijau!"
Aku mengangkat kakiku, lalu menendang perutnya dengan keras.
Jiang Hao langsung merangkul perutnya sambil berguling-guling di atas tanah.
Tujuan utamaku menggunakan Jiang Hao untuk meredam nyali orang-orang SMA Negeri 2 telah tercapai, sehingga dia tidak lagi berguna bagiku.
Aku mendongakkan kepala dan melirik Su Yuxiao serta Wang Haotian dengan tatapan penuh makna, lalu berkata sambil tersenyum ramah kepada mereka berdua, "Sekarang giliran kalian! Apakah kalian ingin maju satu lawan satu, atau berniat mengeroyokku bersama-sama?"
Su Yuxiao dan Wang Haotian, yang sedari tadi memasang wajah garang dan bersumpah akan menghabisiku, kini kehilangan seluruh arogansi mereka.
Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi penuh keraguan di wajah masing-masing.
Untuk memprovokasi mereka lebih jauh, aku melambaikan tangan dan berkata, "Kurasa kalian berdua sebaiknya maju bersamaan saja! Biar tidak membuang-buang waktuku."
Wang Haotian memiliki emosi yang jauh lebih labil dibandingkan Su Yuxiao. Mendengar ucapanku yang bernada meremehkan itu, ia langsung lepas kendali.
Wang Haotian berjalan mendekatiku, menudingku seraya berkata, "Zhang Nan, majulah kalau kau punya nyali! Aku—"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku melayangkan tinju kiri ke arah wajahnya.
Secara insting, Wang Haotian langsung mengangkat lengan kanannya untuk menangkis.
Namun, ia sama sekali tidak tahu bahwa itu hanyalah tipuan. Belum sempat tinjunya menepis pukulanku, tinju kananku yang terkepal erat sudah lebih dulu menghantam telak ke perutnya.
Wang Haotian langsung membungkuk sambil memegangi perutnya di hadapanku, wajahnya berubah pucat pasi seperti hati babi. "Zhang Nan, kau... kau benar-benar... curang!"
Aku tersenyum santai dan berkata, "Kalau begitu, kau juga boleh berbuat curang!"
"Keparat kau!" Wang Haotian menahan rasa sakit di perutnya, lalu bangkit berdiri sambil mengayunkan tinju ke arah wajahku.
Alih-alih mundur, aku justru melangkah maju mendekatinya. Aku memutar tubuhku, menahan perutnya dengan pinggulku, lalu meraih kedua lengannya. Sambil membungkukkan badan, aku melakukan bantingan bahu dan melemparkan Wang Haotian hingga terbanting keras ke atas tanah dengan posisi telentang.
Wang Haotian meringis kesakitan akibat benturan tersebut.
Aku berjongkok di sampingnya, menepuk-nepuk pipinya perlahan, dan bertanya, "Bagaimana? Rasanya cukup menyenangkan?"
Wang Haotian kembali mengayunkan tinjunya ke arahku.
Aku langsung mencengkeram pergelangan tangannya, menggeser jariku ke bawah, membuka genggamannya, dan memutar jarinya ke arah punggung tangan.
"Argh! Argh! Oh!" Wang Haotian mengerang kesakitan saat jarinya ditekan, memaksanya untuk ikut berdiri demi menghindari rasa sakit yang lebih parah.
Begitu ia berdiri tegak, aku kembali berbalik dan melakukan bantingan bahu untuk kedua kalinya.
Dengan suara debuman yang nyaring, Wang Haotian kembali terbanting ke lantai.
Benturan kali ini jauh lebih telak, membuat Wang Haotian mengerang sambil memegangi pinggangnya dan berguling-guling di lantai.
Orang-orang dari SMA Negeri 2 benar-benar tercengang dan ketakutan melihat pemandangan itu, berdiri mematung tanpa mampu berbuat apa-apa.
Aku memutar tubuhku, mengabaikan Su Yuxiao yang masih terpaku, lalu menunjuk salah satu pemimpin kelompok SMA Negeri 2 di barisan depan dan berkata, "Kau, majulah!"
Pemimpin kelompok itu sontak mundur dua langkah secara reflek.
Aku lalu mengarahkan telunjuk ke pemimpin kelompok yang lain. "Kau, silakan maju!"
Orang itu juga buru-buru melangkah mundur, takut kalau-kalau aku akan menyeretnya keluar dari kerumunan.
Berikutnya, aku menunjuk beberapa pemimpin kelompok lainnya secara bergiliran. "Kau, kau, dan juga kau, jika punya nyali, majulah kalian semua sekaligus!"
Tak seorang pun dari mereka berani menatap mataku, dan semuanya langsung menundukkan kepala.
Wang Haotian adalah petarung terkuat kedua di SMA Negeri 2 setelah Su Yuxiao, dan kini ia bahkan tidak mampu berkutik di hadapanku. Apalagi mereka, yang tentu jauh lebih lemah, sehingga tidak akan berani mengambil risiko untuk maju sembarangan.
Dan inilah efek psikologis yang ingin kudapatkan.
"Zhang Nan, jangan bersikap angkuh! Sehebat apa pun kemampuan bertarungmu seorang diri, kau tidak mungkin bisa mengalahkan kami yang jumlahnya begitu banyak!" Su Yuxiao, yang menyadari tujuan dari tindakanku, langsung meneriakkan kalimat tersebut untuk memecah ketakutan mereka.