Bab 4: Ada Sesuatu yang Ingin Aku Diskusikan denganmu
Su Yunwan sangat membenci keluarga Li yang dianggapnya seperti serigala berbulu domba, sehingga ia malas mendengarkan mereka berbicara dan langsung mengetuk pintu halaman keluarga He.
Yang mengejutkannya, yang membukakan pintu justru He Xiangbei sendiri.
He Xiangbei dan Su Yunwan sama-sama berasal dari Desa Maihe. Meskipun sebelumnya mereka jarang berinteraksi, mereka tidak asing satu sama lain.
He Xiangbei bertubuh tinggi lebih dari delapan kaki! Alisnya tegas, matanya tajam dan bersinar seperti bintang di langit malam. Seluruh penampilannya menunjukkan semangat dan pesona yang luar biasa, memancarkan daya tarik yang khas. Kulitnya yang kecokelatan memperlihatkan otot-otot kuat di balik pakaian yang dikenakannya, memberikan kesan aman sejak pandangan pertama.
Tak heran dulu Su Shuangshuang ngotot ingin menikah dengan He Xiangbei; kemungkinan besar ia terpesona oleh penampilan lelaki itu.
Merasa sedikit canggung karena ditatap oleh seorang gadis, He Xiangbei menutup mulut dengan kepalan tangan, lalu berdeham pelan. “Apa kau datang mencariku?”
He Xiangbei tak punya banyak tuntutan soal pernikahannya. Semua urusan ia serahkan pada ibunya, Nyonya Xu, sementara dirinya hanya perlu membawa pengantin perempuan masuk ke rumah pada hari pernikahan.
Karena itu, dengan Su Shuangshuang yang dulu bertunangan dengannya pun, ia tak punya banyak kesan, apalagi seperti sekarang, berhadapan sedekat ini dengan Su Yunwan.
Dalam hati, ia juga merasa cukup puas dengan Su Yunwan. Selain penampilannya yang menarik, gadis itu juga memiliki aura berbeda dari gadis desa kebanyakan, terlihat tenang dan dewasa.
Su Yunwan pun segera menahan pikirannya agar tidak melantur, lalu berkata pelan, “Aku ke sini ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
He Xiangbei menoleh ke dalam halaman rumahnya dan meminta maaf, “Ibuku dan adikku sedang ke kota. Bagaimana kalau kita bicara sambil berjalan?”
Meski tinggal tiga hari lagi sebelum menikah, akan jadi pembicaraan orang jika seorang pria dan wanita lajang berbicara berduaan di dalam halaman rumah. Itu bisa merusak nama baik seorang gadis.
Tak dapat disangkal, keputusan He Xiangbei sangat bijaksana dan penuh pertimbangan pada orang lain. Hal ini membuat Su Yunwan semakin merasa cocok dengannya.
“Baik, kita berjalan-jalan di desa saja sambil membicarakan keperluanku.”
Mereka berjalan satu di depan satu di belakang menuju kaki gunung, tempat yang sepi dari lalu-lalang penduduk desa sehingga mereka tak perlu bertegur sapa dengan banyak orang.
Su Yunwan merasa tidak perlu bertele-tele dengan urusan yang ingin disampaikannya, maka ia berbicara dengan sangat lugas.
“Kita sama-sama orang desa ini, aku yakin kau tahu keadaan keluargaku. Sejak kecil aku yatim piatu dan diasuh oleh nenek. Aku tidak percaya pada paman dan bibiku, takut setelah aku menikah mereka akan berlaku buruk pada nenek. Jadi aku ingin membicarakan satu hal denganmu, setelah menikah nanti, bolehkah aku tetap mengurus nenekku?”
Setelah mengutarakan semuanya, Su Yunwan menatap mata He Xiangbei, berharap bisa membaca reaksinya.
Namun, tatapan dalam milik He Xiangbei tetap tenang. Ia justru balik bertanya, “Kau ingin membawa nenekmu ikut tinggal di rumahku?”
Su Yunwan cepat-cepat menjelaskan, “Bukan, aku hanya ingin setiap hari bisa pulang melihatnya, sekalian mengantar makanan.”
Takut He Xiangbei salah paham, Su Yunwan menambahkan, “Tenang saja, aku punya mas kawin dan bisa menjahit, semua pengeluaran untuk nenekku tidak akan membebani keluarga He.”
Permintaan Su Yunwan bagi kebanyakan orang mungkin dianggap berlebihan.
Setelah menikah, ia tetap tinggal di Desa Maihe, jaraknya pun tidak jauh. Setiap hari pulang menjenguk nenek sangat mudah.
Namun, jika bertemu keluarga mertua yang picik dan tidak pengertian, hal seperti itu bisa jadi alasan untuk mempersulitnya, apalagi soal mengantar makanan untuk nenek.
Selesai berbicara, Su Yunwan berdiri tenang menunggu jawaban He Xiangbei. Jika lelaki itu tidak setuju, ia tak segan membatalkan pernikahan.
“Aku tidak keberatan.” Jawaban He Xiangbei justru membuat Su Yunwan sedikit terkejut. Di matanya, perempuan yang begitu berbakti pasti juga berakhlak baik.
Sebelum mengutarakan permintaannya, Su Yunwan sudah siap jika harus membatalkan pertunangan, namun tak disangka He Xiangbei setuju tanpa ragu.
Karena He Xiangbei tidak menentang, Su Yunwan pun lega dan tak punya ganjalan lagi.
Ia teringat kehidupan sebelumnya, setelah He Xiangbei menikah dengan Su Shuangshuang, suatu hari ia terluka saat berburu di gunung. Su Shuangshuang pun mulai membenci karena He Xiangbei tak lagi bisa mencari nafkah, hingga menjalin hubungan terlarang dengan anak kepala desa.
Bahkan, atas bujukan lelaki itu, Su Shuangshuang diam-diam menjual adik He Xiangbei, He Xiuxiu, lalu kabur membawa uang hasil penjualan bersama anak kepala desa.
Entah mengapa, Su Yunwan jadi merasa iba pada He Xiangbei.
Di kehidupan kali ini, giliran dirinya yang menikah dengan He Xiangbei. Selama lelaki itu memperlakukannya dengan baik, ia rela membantu keluarga He lepas dari nasib buruk tersebut.
Tentu saja, semua itu masih sekadar rencana dalam hati Su Yunwan.
Ia dan Su Shuangshuang sama-sama terlahir kembali ke masa sebelum menikah. Banyak hal telah berubah secara mendasar. Masa depan pun tak lagi pasti mengikuti jejak kehidupan sebelumnya. Yang bisa dilakukan Su Yunwan hanyalah menjalani hari demi hari.
Dengan penuh hormat, Su Yunwan membungkukkan badan pada He Xiangbei. “Terima kasih!” katanya, lalu berbalik pergi.
He Xiangbei memandangi punggung ramping yang tegak itu, tampak sedang memikirkan sesuatu...
Dengan hati puas, Su Yunwan pulang ke rumah Su. Begitu masuk halaman, ia langsung menyadari pintu kamarnya terbuka sedikit, sesuatu yang tak pernah ia lakukan.
Sejak kecil, ia terbiasa menutup pintu kamar rapat-rapat setiap keluar masuk. Jelas sekali, seseorang telah masuk ke kamarnya.
Su Yunwan segera melangkah cepat dan mendorong pintu. Ia mendapati Liu Hehua dan Su Shuangshuang sedang membongkar lemari pakaian, mencari sesuatu.
“Apa yang kalian lakukan?”
Mendengar suara itu, tubuh Liu Hehua dan Su Shuangshuang sempat terkejut. Namun, setelah tahu yang datang adalah Su Yunwan, mereka kembali tenang.
Su Shuangshuang langsung berkilah, “Kakak sepupu, aku dan ibu ingin membantumu membereskan barang-barang agar nanti saat kau menikah, kau tidak kerepotan.”
Alasan yang diucapkan begitu muluk dan penuh basa-basi.
Tak akan ada yang percaya!!!
Su Yunwan justru tersenyum sinis, “Wah, terima kasih banyak untuk bibi dan sepupu. Seperti kata pepatah, memberi tanpa menerima itu tidak sopan. Kalau kalian sudah repot-repot membantuku membereskan barang, aku juga tak pantas membiarkan kalian bekerja sendiri. Sekarang aku akan ke kamar sepupu untuk membantu membereskan barang-barangnya.”
Melihat Su Yunwan melangkah pergi tanpa menoleh, Su Shuangshuang panik.
Ia buru-buru mengejar dan meraih tangan Su Yunwan, “Hehe... Kakak sepupu, aku memang tidak punya banyak barang mas kawin. Semuanya sudah dibereskan oleh ibu.”
Su Yunwan tidak peduli, ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Su Shuangshuang dan tetap melangkah ke kamar sebelah.
Su Shuangshuang memberi isyarat pada Liu Hehua agar tetap menggeledah kamar, sementara ia mengikuti Su Yunwan masuk ke kamarnya sendiri.
Tanpa banyak bicara, Su Yunwan meniru cara ibu dan anak itu, mengacak-acak tumpukan selimut di atas ranjang, lalu melemparkannya ke samping dengan ekspresi muak.