Bab 24: Buku Cerita
Mereka sekarang berada di Kota Senja, sebuah tempat yang tidak terlalu makmur dan jumlah orang terpelajar pun sedikit. Selain itu, buku dan kertas yang dijual di toko buku harganya sangat mahal bagi rakyat biasa, sehingga wajar saja jika bisnis mereka sepi.
Nama Toko Buku Fajar bukanlah sesuatu yang asing bagi Su Yunwan. Pemilik toko ini adalah keluarga Fu, saudagar kerajaan terbesar di Kerajaan Xiahua. Di kehidupan sebelumnya, demi menghidupi dirinya, Su Yunwan pertama kali bekerja sama dengan Toko Buku Fajar. Setelah itu ia pun berkenalan dengan Tuan Muda Pertama keluarga Fu, dan mereka banyak menjalankan usaha bersama. Setelah Li Zian menjadi pejabat di istana, sebagian besar pengeluaran rumah tangga mereka ditutupi dari hasil kerja sama bisnis dengan keluarga Fu.
Pengelola toko sedang duduk lesu, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap ke arah pintu. Begitu melihat He Xiangbei masuk, semangatnya langsung bangkit.
“Xiangbei, kudengar kau akan menikah dalam beberapa hari ini, masih sempat mampir kemari?” Dari sikap sang pengelola, Su Yunwan dapat memastikan bahwa ia cukup akrab dengan He Xiangbei.
Tak lama kemudian, ia melihat seorang perempuan cantik yang berjalan di belakang He Xiangbei. Tepatnya, ia adalah seorang wanita dewasa, sebab Su Yunwan kini menyanggul rambutnya seperti layaknya seorang istri.
“Ini pasti istri barumu, ya?” Anak muda ini sungguh beruntung, istrinya cantik seperti bunga, di seantero desa dan kampung pun sulit mencari gadis secantik ini.
Melihat Pengelola Sun menatap Su Yunwan tanpa berkedip, tubuh tinggi besar He Xiangbei maju selangkah, menutupi pandangannya.
“Benar, ini istriku.”
Pengelola Sun mengangguk sambil tersenyum, terus-menerus memuji keberuntungan He Xiangbei. Dengan wajah datar, He Xiangbei meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.
“Pengelola Sun, buku-buku ini sudah selesai disalin, silakan dicek.”
Pengelola Sun langsung mengibaskan tangan, “Aku percaya pada hasil kerjamu, tak perlu diperiksa.”
Ia hanya menghitung jumlah buku yang dibawa He Xiangbei, “Ada dua belas buku, sesuai kesepakatan sebelumnya, dua ratus wen per buku, jadi semuanya dua tael empat qian perak.”
Setelah menerima perak itu, He Xiangbei mengangguk, “Terima kasih atas bantuan Pengelola Sun.”
“Kamu ini, sudah bertahun-tahun kerja sama, masih saja bersikap sopan begitu,” canda Pengelola Sun. Ia lalu bertanya, “Kali ini kamu mau bawa buku lagi untuk disalin?”
“Mau, kali ini sepuluh buku saja,” jawab He Xiangbei.
Pengelola Sun segera mengambilkan sepuluh buku yang telah dijilid rapi dan memberikannya pada He Xiangbei, “Buku cerita ini sedang laris, tetap dengan harga yang sama untuk penyalinan.”
Mendengar ucapan Pengelola Sun, barulah Su Yunwan memperhatikan bahwa buku-buku yang baru saja dibawa He Xiangbei adalah buku cerita. Di kehidupan sebelumnya, setelah menemukan ruang penyimpanan batu giok, uang pertama yang ia dan Li Zian dapatkan juga berasal dari buku cerita.
Di ruang penyimpanan tersebut terdapat banyak buku cerita menarik. Dulu, Li Zian juga kadang menyalin buku untuk dijual. Setelah Su Yunwan melihat buku-buku cerita di penyimpanan itu, ia pun mengusulkan agar Li Zian menyalinnya dan menjualnya sebagai karya asli, karena hasilnya jauh lebih besar daripada hanya sekadar menyalin buku biasa.
Li Zian mendengarkan saran itu, lalu menyalin sebuah buku cerita berjudul “Legenda Ular Putih.” Setelah menyalin sebagian, hal pertama yang mereka pikirkan adalah mengajak Toko Buku Fajar bekerja sama.
Entah apakah waktu mereka datang dulu lebih lambat dari sekarang, namun waktu itu pengelola Toko Buku Fajar bukanlah Pengelola Sun yang kini ada di hadapan mereka. Kalau tidak, Su Yunwan pasti akan langsung mengenali orangnya saat ia dan He Xiangbei masuk.
Di kehidupan sebelumnya, ketika ia dan Li Zian mengirimkan naskah “Legenda Ular Putih,” mereka disambut oleh seorang pengelola bermarga Li. Pengelola Li, saat mendengar mereka ingin menjual buku cerita, bersikap meremehkan, bahkan tak sudi melirik sebentar pun. Ia langsung mengusir mereka sambil berkata bahwa buku cerita bukanlah sesuatu yang bisa ditulis sembarangan, dan tidak usah mencari perkara.
Li Zian merasa sikap pengelola itu sungguh merendahkan martabat seorang terpelajar, hingga akhirnya mereka berdebat di toko buku. Saat perdebatan itu, dari lantai dua toko turun seorang pemuda berpakaian mewah, dialah Tuan Muda Pertama keluarga Fu, Fu Hengxin.
Itulah pertama kalinya Su Yunwan berinteraksi dengan Fu Hengxin. Ia berdiri di tangga dan bertanya pada Pengelola Li apa yang sedang terjadi. Pengelola Li buru-buru menjelaskan bahwa Li Zian hendak menjual buku cerita ke toko buku, namun ia tidak membelinya sehingga terjadi perselisihan.
Awalnya mereka mengira Fu Hengxin juga akan meremehkan buku cerita itu, namun ternyata tidak. Ia justru mendatangi Li Zian dan bertanya apakah boleh melihat buku cerita yang ditulisnya.
Su Yunwan dan Li Zian barusan mendengar Pengelola Li memanggilnya “Tuan Muda,” dan menebak bahwa ia adalah pemilik toko, sehingga tanpa ragu menyerahkan naskah buku cerita itu pada Fu Hengxin.
Baru membaca bagian awal saja, Fu Hengxin sudah mengajak mereka naik ke atas untuk berbicara. Jelas sekali bahwa ia sangat tertarik dengan buku tersebut. Dan memang, setelah selesai membaca seluruh isi buku, ia langsung bertanya pada Li Zian apakah masih ada kelanjutannya.
Li Zian menjawab bahwa bagian selanjutnya masih harus ditulis. Setelah mendengar itu, Fu Hengxin pun langsung membahas kerja sama penerbitan buku cerita tersebut dengan Li Zian.
Setelah “Legenda Ular Putih” diterbitkan dan dijual, bukunya laris manis sampai tak cukup stok.
Kemudian, demi memperoleh lebih banyak keuntungan, Fu Hengxin memerintahkan orang-orangnya untuk membuat cetakan dan mencetak dalam jumlah besar.
(Di sini penulis ingin menjelaskan bahwa cerita ini adalah fiksi. Teknik cetak yang digunakan di sini berbeda dengan teknik cetak ukir dalam sejarah, hal ini ditulis hanya untuk menonjolkan perbedaan nilai antara penyalinan dan pencetakan. Pembaca dimohon tidak mempermasalahkan hal ini.)
Di Kerajaan Xiahua, teknik cetak membutuhkan tenaga dan biaya yang sangat besar. Jika bukan untuk buku-buku yang laris, para pedagang biasanya tidak memilih cara ini dan tetap mengandalkan penyalinan manual. Dari sini bisa dibayangkan betapa larisnya buku cerita “Legenda Ular Putih.”
Mengingat hal itu, Su Yunwan langsung mengambil salah satu buku cerita yang baru saja diserahkan He Xiangbei di atas meja. Judul buku itu adalah “Kepalan Baja Sakti.” Jika ia tidak salah menebak, isinya pasti kisah-kisah menarik tentang dunia persilatan.
Di kehidupan sebelumnya, ia juga membaca banyak buku cerita dengan tema serupa, yang kebanyakan hanya berganti nama namun isinya hampir sama.
Meletakkan kembali buku itu, Su Yunwan bertanya, “Pengelola Sun, apakah Anda menerima buku cerita di sini?”
Pengelola Sun sempat tertegun, lalu bertanya, “Nyonya He bisa menulis buku cerita?”
Ia tampak tidak percaya. Su Yunwan pun menoleh ke arah He Xiangbei yang tampak kebingungan, “Suamiku sepertinya punya beberapa ide.”
Pengelola Sun akhirnya paham! Ia memang merasa aneh, mana mungkin seorang wanita muda bisa menulis buku cerita?
“Kalau Xiangbei bisa menulis buku cerita, itu bagus sekali. Pasti lebih menguntungkan daripada hanya menyalin buku.”
He Xiangbei sama sekali tidak pernah terpikir untuk menulis buku cerita, ia tak mengerti maksud istrinya, tapi juga tidak membantah di hadapan orang lain.
Dengan tersenyum, Su Yunwan berkata kepada Pengelola Sun, “Kalau begitu, nanti akan saya suruh suami saya menulisnya. Kalau sudah selesai, mohon Pengelola Sun sudi menilai.”
Pengelola Sun menjawab tanpa ragu, “Tentu saja, kalau sudah jadi, bawa saja kemari untuk saya lihat.”
Setiap hari ia bekerja di toko buku, di waktu senggang hanya buku cerita inilah yang mengusir kebosanan. Meski tak bisa menulis, ia sangat suka membacanya!
He Xiangbei keluar dari toko buku bersama Su Yunwan dengan kepala penuh tanda tanya. Begitu di luar, ia menatap Su Yunwan dengan sorot mata penuh selidik.