Bab 12: Agar Tidak Mendatangkan Masalah
Terlebih lagi, setelah nenek mengetahui tentang ruang dalam liontin giok itu, ia bisa dengan terang-terangan menikmati semua yang dibawa oleh ruang tersebut.
“Nenek, aku ingin memberitahumu sesuatu yang sulit dipercaya, tapi sungguh nyata adanya.”
Nenek Su menatap Su Yunwan dengan serius, “Baik, katakanlah.”
Su Yunwan tidak langsung menjelaskan, melainkan menggenggam tangan neneknya sambil berkata, “Nenek, sebentar lagi lingkungan di sekitarmu akan berubah, jangan sampai ketakutan.”
Nenek Su tak tahu apa yang akan dilakukan cucunya yang penuh rahasia, ia hanya mengangguk kaku, lalu seketika lingkungan di sekitarnya berubah drastis...
Semua reaksi nenek Su itu terekam jelas di hati Su Yunwan.
Di kehidupan sebelumnya, ketika Li Zian pertama kali mengikutinya masuk ke ruang itu, ia juga menunjukkan ekspresi ketakutan yang sama, bahkan lebih heboh dari nenek Su.
“Nenek, ini adalah tempat berharga peninggalan dewa, asalnya dari liontin giok milik ibuku. Setelah liontin itu terkena darah, secara alami terikat padaku...”
Su Yunwan berusaha menjelaskan dengan cara yang mudah diterima oleh neneknya.
Setelah mendengarkan penjelasan sang cucu, hati nenek Su yang awalnya dikejutkan perlahan berubah menjadi penerimaan.
Kemampuan menerima yang luar biasa itu sungguh di luar dugaan Su Yunwan.
Setelah berjalan-jalan di dalam ruang itu bersama Su Yunwan, nenek Su menggenggam tangan cucunya dan berpesan, “Yunwan, tempat berharga para dewa ini terlalu luar biasa, kau harus benar-benar menguasainya dan jangan sampai orang berniat buruk mengetahuinya, agar tak menimbulkan bencana.”
Tentu saja, Su Yunwan sangat paham akan hal itu.
Di kehidupan sebelumnya, hanya Li Zian yang mengetahui tentang ruang ini.
Li Zian tahu ruang ini menguntungkannya, tentu saja ia tak akan menceritakannya pada orang lain.
Lagipula, meski hubungan mereka berdua hanya sekadar di permukaan, mereka tetap hidup bersama setiap hari.
Tak mungkin ia harus bersikap seperti pencuri setiap kali ingin masuk atau memakai barang-barang di ruang itu. Apalagi, saat ia menggunakan hasil dari ruang itu, ia butuh seseorang untuk membantu mengalihkan perhatian.
Dalam hati Su Yunwan, meski Li Zian adalah orang yang hina, dalam urusan melindungi rahasia ruang itu, ia cukup bisa diandalkan.
Kali ini, ia mendapatkan ruang liontin itu lebih awal, saat neneknya masih hidup—orang yang paling dekat dengannya—sudah sepatutnya neneknya menikmati semua manfaat yang dibawa oleh ruang itu.
“Nenek, tenang saja. Aku tahu batasan. Aku tak akan sembarangan menceritakan soal ruang ini pada siapa pun.”
Yang dimaksud “siapa pun” oleh Su Yunwan, termasuk calon suaminya kelak, He Xiangbei.
Saat ini, ia belum mengenal baik sifat He Xiangbei. Tentu saja, setelah menikah nanti, ia akan mempertimbangkan apakah akan memberitahu tentang ruang liontin itu.
Seperti yang ia pikirkan tadi, dua orang yang hidup bersama setiap hari, jika ia sering menggunakan ruang dan hasilnya, pasti tak bisa disembunyikan.
Jika He Xiangbei memang dapat diandalkan, ia akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahunya tentang keberadaan ruang itu.
Sebaliknya, jika ternyata He Xiangbei bukan orang yang bisa ia percayai seumur hidupnya, ia akan menyembunyikan ruang itu, menunggu sampai mereka berpisah, lalu pergi bersama nenek dan menjalani hidup berkecukupan berdua dengan mengandalkan ruang tersebut.
Semua itu baru rencana Su Yunwan, keputusan akhirnya akan ia ambil setelah memperhatikan lebih jauh.
Setelah masuk ke dalam ruang, barulah nenek Su benar-benar paham, ternyata selama beberapa hari ini tubuhnya terasa lebih nyaman karena Yunwan diam-diam memberinya air mata air ajaib.
Dengan begitu, hidup sepuluh atau delapan tahun lagi bukan masalah. Kalau bisa, ia bahkan ingin membantu cucunya mengasuh anak kelak.
Selain air mata air, yang paling menarik perhatian nenek Su adalah setengah petak tanah di dalam ruang itu.
Memang tidak banyak, tapi cucunya bilang, sepuluh hari di dalam ruang itu hanya setara satu hari di luar. Jika menanam sesuatu di sana, pertumbuhannya pasti sangat cepat.
Ada juga padang rumput di tepi sungai, bisa digunakan untuk memelihara ayam dan bebek. Kalau bisa, di pinggirnya bisa dibuatkan kandang babi, memelihara beberapa ekor babi gemuk. Dengan begitu, cucunya tak perlu khawatir soal makan minum di masa depan.
Su Yunwan tidak tahu rencana neneknya. Di kehidupan sebelumnya, ia memang pernah memelihara beberapa ayam di dalam ruang itu, hanya saja baunya terlalu menyengat, membuat lingkungan di dalam ruang jadi tak nyaman, akhirnya ia menyerah.
Andai tahu neneknya bahkan ingin memelihara babi di sini, Su Yunwan pasti akan tertawa geli.
Tentu saja, kalau neneknya benar-benar ingin, demi membuatnya bahagia, ia pun tak akan keberatan.
Di dalam ruang itu ada sebuah jendela kecil tak kasat mata, yang memungkinkan untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di luar.
Saat itu, dari jendela kecil itu, terdengarlah suara Liu Hehua.
“Aduh, Bibi Tua, Anda datang, silakan masuk ke dalam rumah.”
“Paman Besar, Bibi Besar, kalian juga masuklah untuk minum teh.”
“Aduh... mari-mari, silakan masuk...”
Orang yang disebut “Bibi Tua” oleh Liu Hehua adalah Wang, ipar perempuan nenek Su. Sejak muda mereka memang tak pernah akur, sejak keluarga mereka berpisah rumah pun tak pernah berhubungan lagi.
Untungnya mereka tidak tinggal sekampung, jadi tak ada kesempatan untuk bertengkar.
Orang seperti itu jelas tak akan diundang oleh nenek Su untuk menghadiri pesta pernikahan cucunya. Dapat dibayangkan, Wang datang pasti karena Liu Hehua sengaja mengundangnya untuk membuat nenek Su kesal.
Paman dan Bibi yang disebut oleh Liu Hehua pun adalah kerabat dari pihak keluarga Liu. Bagi Su Yunwan, mereka sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya ataupun neneknya, jadi mereka tak perlu keluar menyambut.
Namun, dengan begitu banyak orang yang datang, mereka tak mungkin terus bersembunyi di dalam ruang. Kalau ada yang ceroboh masuk ke kamar dan tidak menemukan siapa-siapa, pasti sulit dijelaskan.
Karena itu, Su Yunwan pun membawa neneknya keluar dari ruang.
Sekaligus, ia juga membawa beberapa kosmetik dari dalam ruang.
Kosmetik ini jauh lebih baik dari bedak dan pemerah pipi yang dijual di pasaran, hasil riasannya indah dan alami.
Dulu, ia memerlukan waktu lama untuk memahami cara menggunakan barang-barang itu.
Mengingat setelah menikah dan tinggal di rumah keluarga He, ia tak mungkin lagi tidur sendiri. Setelah riasan dibersihkan, kecantikan alaminya pasti tak akan bisa disembunyikan.
Karena itu, Su Yunwan pun tak lagi berusaha menutupi kecantikannya.
Berdiri di depan cermin tembaga yang tak terlalu besar, ia dengan hati-hati merias wajahnya, lalu mengenakan gaun pengantin merah dengan sulaman indah. Seluruh dirinya tampak seperti bidadari yang baru keluar dari lukisan.
Nenek Su pun sampai terpana.
Cucunya memang sejak lahir sudah cantik, setelah didandani seperti ini, benar-benar seperti bidadari turun ke bumi.
Waktu sudah hampir tiba, nenek Su bersiap menutupkan kerudung merah di kepala cucunya, namun tiba-tiba pintu kamar didorong kasar dari luar.
Sama-sama mengenakan baju pengantin merah, Su Shuangshuang masuk ke dalam.
Seandainya bekas luka di wajahnya yang sudah mengering diabaikan, ia juga tampak cantik.
Meski bordir di baju pengantinnya tidak sehalus milik Su Yunwan.
Meski ia hanya menyematkan satu tusuk konde perak tua di rambutnya.
Meski tubuhnya kalah jauh dari Su Yunwan.
Meski...
Tapi secara keseluruhan, Su Shuangshuang tetaplah gadis yang lumayan cantik. Sayangnya, hatinya telah bengkok!