Bab 24: Pengambilalihan Paksa?
Beberapa waktu yang lalu.
Karena produk suplemen pria mengalami kegagalan di pasaran, dihantam telak oleh Pil Daya Kuat, produk suplemen pria dari Grup Farmasi Hongguang pun mengalami kekalahan besar. Mereka telah menginvestasikan puluhan juta untuk riset dan pengembangan, namun bahkan belum balik modal seperspuluhnya.
Maka sang direktur grup bermaksud mengalihkan perhatian ke pasar perempuan. Mereka meluncurkan sebuah produk bernama “Penyelamat Menstruasi”, dengan tujuan menembus pasar wanita dan berharap produk ini laris manis di kalangan perempuan Tiongkok.
Pada hari peluncuran “Penyelamat Menstruasi”, demi memastikan produk ini laku, Grup Hongguang bahkan rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli trending topic di media sosial, serta mengundang artis wanita terkenal sebagai bintang iklan. Total biaya promosi mencapai empat hingga lima puluh juta.
Awalnya, semua orang di grup yakin produk ini pasti akan sukses besar. Tak disangka, tiba-tiba muncul satu produk bernama “Pil Ayam Hitam dan Burung Phoenix”.
Produk ini memiliki segmentasi yang persis sama dengan produk mereka, sama-sama ditujukan untuk wanita, khususnya masalah haid. Namun “Pil Ayam Hitam dan Burung Phoenix” sama sekali tidak melakukan promosi atau iklan apapun. Produk itu langsung meledak di pasaran!
Topik tentang produk ini terus menjadi perbincangan hangat, penjualannya meroket, bahkan sampai menutupi pamor “Penyelamat Menstruasi”. Produk mereka sama sekali tidak terlihat di pasaran. Grup Hongguang pun mengalami kerugian besar. Hati sang direktur grup, Li Hongguang, terasa berdarah. Beberapa hari belakangan ia bahkan sulit tidur, rambutnya memutih, matanya dipenuhi garis-garis merah. Setiap kali teringat “Pil Ayam Hitam dan Burung Phoenix”, ia semakin kesal.
Obat mereka tidak laku, sedangkan produk milik Toko Obat Lingzhi justru terjual dalam jumlah besar. Tanpa perbandingan tak ada rasa sakit, namun dengan perbandingan itu hasilnya benar-benar menohok. Produk mereka seluruhnya terdiri dari bahan kimia barat, biaya produksi tak lebih dari sepuluh yuan, tapi dijual seharga seratus tujuh puluh sembilan. Keuntungan belasan kali lipat dari obat barat, itu wajar, bukan?
Grup mereka bisa berkembang besar selama ini berkat kepiawaian dalam promosi dan periklanan. Tak peduli seperti apa khasiat obatnya, asalkan pemasaran dan iklan berjalan baik, penjualan pun pasti bagus. Awalnya ia mengira produk baru ini akan laris manis, namun ternyata kembali mengalami kekalahan telak.
Hingga akhirnya Toko Obat Lingzhi muncul, barulah Li Hongguang menyadari bahwa di hadapan khasiat sejati, seluruh pengalaman dan strategi pemasaran masa lalu sama sekali tidak berguna.
Mereka benar-benar kalah telak.
“Aku benar-benar tidak menyangka, sebuah toko obat kecil bisa mengancam grup sebesar kita,” gumam Li Hongguang. “Sebelumnya aku memang meremehkan Toko Obat Lingzhi ini. Kini ketika produk baru kita kembali gagal di pasaran, apa pendapat kalian?”
Li Hongguang menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
Saat itu, seorang pria paruh baya langsung mengangkat tangan, menandakan ingin bicara. Li Hongguang pun mengangguk, mempersilakan.
“Mengapa kita tak meniru saja metode pembuatan obat mereka?” ujarnya, memberikan isyarat yang semua orang paham.
Maksudnya sederhana: menjiplak! Meniru resep “Pil Ayam Hitam dan Burung Phoenix”, mengganti nama, lalu meluncurkan produk baru. Bukankah itu juga pasti laku keras di pasaran?
Mata para hadirin langsung berbinar, mereka serentak mengangguk.
“Benar juga.”
“Cara itu cukup masuk akal.”
“Saingan mana pun bisa kita pelajari.”
“Belajar tidak ada habisnya.”
“Kita harus meniru dan mengambil pelajaran dari yang lebih unggul.”
Orang-orang yang duduk di ruang rapat ini adalah para pebisnis kawakan yang telah makan asam garam dunia usaha. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, namun tak perlu mengatakannya terang-terangan. Semua sepakat dengan usulan itu.
Namun siapa sangka, seorang pria paruh baya berjubah putih menggelengkan kepala.
“Tak ada gunanya. Cara pembuatan obat Toko Obat Lingzhi itu sangat khusus. Meski kita tahu bahan-bahannya, kita tetap tidak bisa membuatnya. Jadi usulan ini tidak layak.”
Mendengar pendapatnya, semua orang terdiam. Mereka sadar betul, pria itu adalah kepala ahli farmasi Grup Hongguang, bergelar doktor farmasi. Jika ia saja mengatakan tidak bisa, maka jelas tidak bisa.
“Kalau begitu, satu-satunya jalan adalah dengan membeli Toko Obat Lingzhi dan memasukkannya ke dalam grup kita,” ujar Li Hongguang dengan nada meremehkan. “Hanya sebuah toko obat tradisional kecil, tak perlu buang-buang waktu lagi.”
Menurutnya, toko obat kecil seperti itu tak mungkin menimbulkan gelombang besar. Bisa sukses dua kali memang luar biasa, tapi di hadapan kekuatan modal, pada akhirnya tetap harus tunduk, bukan?
Pada akhirnya, pasti akan terjadi akuisisi.
Sebelumnya, ia sengaja menyuruh orang menyebarkan rumor di siaran langsung Toko Obat Lingzhi, namun gagal. Tapi kali ini, grup akan turun tangan langsung untuk mengakuisisi. Ia yakin toko kecil itu pasti akan menyerah juga.
Tak lama kemudian, usulan untuk akuisisi dengan paksa pun disetujui oleh seluruh pemegang saham yang hadir.
“Kalau sudah disetujui, selesaikan dengan cepat,” ujar Li Hongguang.
“Segera hubungi pemilik Toko Obat Lingzhi, katakan kita akan membeli toko mereka seharga dua puluh juta,” perintah Li Hongguang pada Sekretaris Gao, dengan mata penuh percaya diri.
Ia bahkan merasa jumlah itu terlalu besar. Sebuah toko obat kecil, bisa mendapat dua puluh juta sudah luar biasa. Ia yakin, mendengar ada yang mau membeli toko mereka dengan harga segitu, si pemilik pasti sangat berterima kasih padanya.
………
Toko Obat Lingzhi.
Bunyi dering telepon bergema. Su Yu mengangkatnya.
“Halo, saya perwakilan dari Grup Hongguang. Apakah Anda pemilik toko, Su Yu?”
Su Yu menjawab, “Benar.”
“Begini, Grup kami ingin membeli Toko Obat Lingzhi seharga dua puluh juta, dan seluruh resep obat-obatan Anda akan menjadi milik kami serta tidak boleh bocor keluar. Apakah Anda berminat, Tuan Su?”
Meski kata-kata di telepon cukup sopan, Su Yu bisa merasakan nada meremehkan. Seolah-olah dua puluh juta itu seperti sedekah saja.
Su Yu mengangkat alis, dalam hati ia hanya bisa geleng-geleng.
Grup Hongguang? Dasar bodoh dari mana ini? Hanya Pil Daya Kuat saja sudah bisa memberinya keuntungan minimal seratus juta, belum lagi Pil Ayam Hitam dan Burung Phoenix.
Namun kini Grup Hongguang ingin membeli dua resep itu hanya seharga dua puluh juta? Benar-benar bermimpi di siang bolong. Mengira dirinya bisa ditipu begitu saja? Tanpa berpikir lagi, Su Yu langsung menutup telepon.
………
Ruang rapat Grup Hongguang.
Bunyi nada sambung, “tut, tut, tut…”
Sekretaris berkata, “Dia menutup teleponnya.”
“Hmph!” dengus salah satu direktur.
“Sungguh tak tahu diri,” ucap yang lain.
“Hanya toko obat kecil, kok besar kepala? Dua puluh juta saja ditolak!”
“Rezeki nomplok sebesar itu saja tak mau diterima!”
Wajah Li Hongguang langsung berubah gelap. Ia pernah menghadapi banyak badai besar, ingin menghancurkan toko obat kecil milik pribadi seperti ini? Itu perkara mudah.
Sudah menolak jalan baik, ya tinggal dipaksa saja.
…………………………………………………