Bab 129: Posisi yang Kurang Menguntungkan
Benar saja, sorot mata Zhou Jinrong berubah. Pada detik berikutnya, seluruh tubuhnya melesat ke arahku seperti angin puyuh, dengan kecepatan yang luar biasa. Aku diam-diam tertegun. Kekuatan Zhou Jinrong ternyata kembali meningkat. Jika aku tidak mengalami kemajuan, menghadapi Zhou Jinrong yang sekarang, aku nyaris tidak akan memiliki peluang menang. Untungnya, aku juga tidak berdiam diri tanpa kemajuan.
Serangan Zhou Jinrong datang dengan ganas. Sejak awal, rentetan serangannya sudah bagaikan badai yang mengamuk. Aku tidak memilih untuk beradu kekuatan dengannya, melainkan menggunakan gerak kaki dari jurus tiang manusia, sehingga berhasil menghindari serangannya dengan lincah.
Serangan Zhou Jinrong tidak berhenti hanya karena aku berhasil mengelak. Sebaliknya, serangannya datang bertubi-tubi seperti gelombang laut, setiap jurus lebih dahsyat daripada jurus sebelumnya. Sungguh membuat mata kewalahan mengikutinya.
Sebelumnya telah kukatakan bahwa keahlian terbesar Zhou Jinrong terletak pada teknik kakinya. Kuda-kudanya kokoh, bahkan aku mengakui masih kalah darinya. Namun, pertahanan tubuh bagian atasnya relatif lemah. Seperti kata pepatah, mengenal diri sendiri dan mengenal lawan akan membuat seseorang menang dalam setiap pertempuran. Sebelum bertarung dengan Zhou Jinrong, aku sudah menganalisis kekuatan serta kelemahannya secara terperinci.
Aku yakin Zhou Jinrong juga telah menganalisis diriku.
Namun kali ini, aku mendapati bahwa celah pada pertahanan tubuh bagian atas Zhou Jinrong telah jauh berkurang. Dalam menyerang, ia menggunakan tangan dan kaki sekaligus. Sering kali, baru saja aku mengelak dari pukulan kerasnya, tendangan menyapu seperti cambuk sudah meluncur ke arahku. Kemampuan kaki Zhou Jinrong memang luar biasa, sehingga aku tidak berani menerima serangannya secara langsung.
Kami bertarung di tengah arena, sementara orang-orang yang mengelilingi kami mungkin ikut menahan napas karena tegang. Nie Yuan berkata kepada Bai Jingqi, “Kak Jingqi, bagaimana menurutmu pertarungan ini?”
Bai Jingqi menjawab, “Sulit dikatakan. Kekuatan mereka berdua sama-sama luar biasa. Serangan Zhou Jinrong ganas, seperti harimau buas yang turun dari gunung. Sementara itu, meskipun Kak Ouyang terus mengelak, langkah kakinya sama sekali tidak kacau dan wajahnya tetap tenang. Kurasa dia masih mampu menghadapinya dengan mudah. Pertarungan ini benar-benar sulit diprediksi.”
Setelah mengamati beberapa saat, Nie Yuan berkata, “Kak Rong dibesarkan di panti asuhan sejak kecil. Kemudian, dia bertemu seorang ahli yang mengajarinya seperangkat teknik kaki. Konon, ahli itu adalah pewaris teknik Dua Belas Jurus Kaki Tan. Kak Rong memang tidak mendapatkan ajaran yang sepenuhnya murni, tetapi sejak lahir dia memiliki watak yang ulet. Selama bertahun-tahun, dia terus berlatih keras dan menemukan pemahamannya sendiri. Dulu, ketika kami masih SMP, dia sudah tak terkalahkan di seluruh sekolah. Kak Ouyang memang sudah beberapa kali menyerang, tetapi aku sama sekali tidak bisa memahami polanya.”
Bai Jingqi berkata, “Aku tahu soal itu. Kak Ouyang terutama berlatih lebih dari seratus pola serangan dari jurus tiang manusia, ditambah beberapa teknik bertarung dan teknik kuncian. Pengetahuannya cukup beragam. Serangan Zhou Jinrong mengandung aura membunuh, sedangkan gaya Kak Ouyang tampak lurus dan tenang. Sepertinya dia tidak pernah mempelajari jurus pembunuh yang sesungguhnya.”
Li Feng yang berada di samping mereka berkata, “Kalau begitu, bukankah Kak Ouyang berada dalam bahaya? Lihat saja serangan Zhou Jinrong. Jika aku yang menghadapinya, mungkin aku sudah kalah setelah dua jurus.”
Bai Jingqi menggeleng dan berkata, “Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kak Ouyang bukan orang yang gegabah. Dia tampak sangat percaya diri, jadi kurasa dia masih menyimpan langkah cadangan. Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.”
Menghadapi serangan Zhou Jinrong, aku tidak menemukan kesempatan untuk mengubah pertahanan menjadi serangan. Beberapa kali aku ingin menggunakan tiga jurus pembunuh andalanku, tetapi tidak pernah menemukan celah. Pertama, kecepatan Zhou Jinrong sangat tinggi dan jurus-jurusnya tajam, sehingga sulit bagiku mendapatkan kesempatan. Kedua, tiga jurus pembunuh itu baru kulatih selama dua hari dan belum mampu kugunakan dengan lancar. Menghadapi para berandalan yang sama sekali tidak memiliki kemampuan bertarung seperti kemarin, tentu aku masih bisa menggunakannya dengan leluasa. Namun, saat menghadapi Zhou Jinrong, ketiga jurus itu sulit dikeluarkan.
Teknik kaki Tan memiliki gerakan yang tangkas dan kuat, dengan koordinasi yang selaras. Jurus-jurusnya bervariasi, serangan dan pertahanannya cepat, ritmenya tegas, serta daya ledaknya besar. Zhou Jinrong memang tidak memperoleh ajaran yang sepenuhnya murni, tetapi setelah bertahun-tahun berlatih keras dan mengembangkan pemahamannya sendiri, kemampuannya menjadi sangat hebat.
Ia berteriak keras, lalu melancarkan tendangan samping berputar dengan kecepatan yang mencapai puncaknya. Aku hanya merasakan hembusan angin kencang menyapu wajah. Tanpa sempat berpikir, aku mengangkat kedua tangan untuk menahan serangan itu.
Buk!
Tendangan Zhou Jinrong membuat tubuhku terdorong menyimpang beberapa langkah ke samping sebelum akhirnya aku berhasil menstabilkan diri. Aku nyaris terjatuh ke tanah.
Zhou Jinrong mendengus dingin, “Ouyang, apa kau berniat terus mengelak seperti ini hari ini? Kalau memang mampu, lawan aku secara langsung!”
Dengan tenang aku menjawab, “Kau harus bisa memukulku lebih dahulu sebelum mengatakan itu.”
Setelah melancarkan serangan bertubi-tubi, tenaga Zhou Jinrong mulai berkurang. Keringat terus mengalir di wajahnya, sementara dadanya naik turun dengan cepat. Jangan mengira aku berada dalam keadaan santai. Bertahan dari serangan justru lebih menguras pikiran daripada menyerang. Aku juga sudah kelelahan, paru-paruku terasa seolah-olah hendak meledak, dan seluruh tubuhku dibasahi keringat.
Seorang siswi dari kelas kami berbisik kepada Fang Mengyi, “Mengyi, sepertinya Ouyang bukan tandingan Zhou Jinrong! Aku memang tidak terlalu paham, tetapi aku bisa melihat bahwa dia seperti tidak memiliki kesempatan untuk membalas.”