Bab 72: Kembalinya Sang Raja
Bu Guru Xu terbaring dalam pelukanku, jinak seperti seekor anak kucing. Mungkin karena baru saja mendapatkan kepuasan dan disirami cinta, seluruh dirinya tampak semakin memesona, benar-benar memikat hati.
Guru Xu berkata, “Ouyang, kapan kau pulang?”
Satu tanganku membelai puncak gunung sucinya, satu lagi mengusap telinganya sembari berkata, “Pagi tadi, begitu sampai rumah aku langsung meneleponmu, tapi tak bisa terhubung. Aku ke sekolahmu juga tak menemukanmu, jadi aku menunggumu di bawah apartemen sampai kau pulang.”
Guru Xu menyelipkan diri lebih dalam ke pelukanku dan berkata, “Maaf, aku tak tahu kau sudah kembali. Hari ini akhir pekan, aku mengajar les privat, lalu malamnya menghadiri pesta ulang tahun teman, setelah makan kami pergi bernyanyi di KTV.”
Guru Xu seolah takut aku salah paham, ia buru-buru memberi penjelasan. Aku tertawa, “Kenapa masih juga mengajar les? Jangan-jangan dapat murid nakal seperti aku dulu?”
Guru Xu melirikku tajam, “Kau kira semua orang sejahat kau? Lagipula, kalau tak kerja sambilan, dari mana uang sakuku?”
Aku mencubit puncak gunung sucinya dan berkata, “Aku hanya bercanda, jangan terlalu lelah. Kali ini aku sudah pulang, setiap akhir pekan akan kusisihkan waktu untukmu.” Guru Xu mengangguk, lalu berbisik pelan, “Ouyang, aku mau kasih tahu satu rahasia.”
Aku heran, “Rahasia apa?” Guru Xu mendekat ke telingaku dan berbisik, “Malam ini kau luar biasa. Aku masih ingin lagi.”
Aku menjentik hidungnya, “Dasar penggoda kecil, aku tak percaya kau tak akan kenyang.” Sambil berkata begitu, aku menarik selimut, membalikkan badan dan kembali memulai pertempuran gairah yang membakar.
Di bawah serangan hujan deras dan angin kencang dariku, Guru Xu berserah diri, terengah-engah, kami bersama-sama menapaki puncak kenikmatan.
Malam itu, aku membuktikan keperkasaanku, menyingkirkan rasa malu yang dulu membebani kepalaku, dan menjadi laki-laki sejati. Guru Xu tentu merasa puas tak terhingga. Rasanya, setelah perpisahan dan pertemuan ini, hubungan kami semakin dalam, seolah kami tak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Keesokan harinya, Senin, saatnya kembali ke sekolah. Pagi itu, aku dan Guru Xu melakukan ‘senam pagi’ sebelum bangun untuk sarapan. Aku mengantarnya ke sekolah dengan sepeda, baru setelah itu pulang.
Setelah memarkir sepeda, aku pulang ke rumah, menyapa ayah dan ibu, lalu bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat hendak berangkat, Ye Junyi berkali-kali mengingatkanku untuk berhati-hati dan menjaga diri.
Ayahku tidak berkata banyak, hanya berujar, “Aku tak mau melihat kegagalan yang sama untuk kedua kalinya.”
Aku mengangguk berat, “Ayah, tenang saja. Kali ini, aku tidak akan mengecewakanmu lagi.” Dengan tekad bulat, aku meninggalkan rumah. Menatap gerbang Sekolah Menengah Shuhai, aku menyipitkan mata, mengepalkan tangan dengan erat.
“Sekolah Menengah Shuhai, aku Ouyang telah kembali! Kali ini, aku takkan mengulangi kegagalan!”
Sepanjang jalan, perasaanku campur aduk: ada harapan, ada kegembiraan, ada semangat, bahkan tak sabar rasanya. Aku tak sabar ingin melangkah dengan kepala tegak melewati gerbang Shuhai, merebut kembali semua yang pernah jadi milikku, dan membalaskan dendam, menegakkan harga diri!
Di atas bus, rasanya laju kendaraan terlalu lambat. Tapi kemudian kusadari, bukan bus yang lambat, bukan waktu yang berjalan pelan, melainkan hatiku yang bergegas. Setengah tahun lalu, aku keluar dari Shuhai bak anjing kalah. Kalau saja bukan karena perlindungan Guru Zhou waktu itu, mungkin aku hanya bisa merangkak keluar dari sana.
Bagi diriku, itu adalah aib dan dendam yang membekas. Saat berlatih di rumah Paman Niu, aku menahan banyak penderitaan, tapi aku terus menggigit gigi, menguatkan tekad, semua demi hari ini—hari ketika aku bisa kembali ke Shuhai untuk membalas dendam.
Setengah tahun, mungkin singkat dalam perjalanan hidup puluhan tahun, tapi bagiku, setiap harinya adalah siksaan, bukan secara fisik, melainkan batin.
Turun dari bus, aku naik kereta bawah tanah, arahnya sudah jelas, aku semakin mendekati Shuhai, mendekati tempat yang menjadi mimpi burukku.
Semakin dekat ke Shuhai, perasaanku semakin rumit.
Turun dari kereta, berganti bus lagi. Dalam perasaan campur aduk itu, aku menempuh perjalanan lebih dari satu jam, akhirnya tiba di depan Shuhai.
Melompat turun dari bus, saat kakiku menjejak tanah, rasanya ingin berteriak ke langit: “Dengar ini, semua warga Shuhai! Aku Ouyang, telah kembali!”
Kalimat itu pasti akan kukatakan, tapi bukan di sini—harus di dalam Shuhai, agar semua orang mendengar suara hatiku, mendengar semangatku yang membara.
Langkah demi langkah, aku mendekati gerbang Shuhai, kulihat gerbangnya, tulisan di atasnya yang sangat familiar. Setiap langkah, rasanya kobaran api di dadaku makin menjadi-jadi, darahku mendidih seperti lava.
Langkahku berat dan perlahan, setiap langkah mengingatkanku pada kepedihan waktu dulu dipaksa keluar.
Akhirnya, aku sampai di depan gerbang, hanya tinggal satu langkah menuju Shuhai. Aku ingat betapa memalukannya saat dulu aku keluar dari sini, betapa putus asanya aku kala itu.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dengan udara, lalu menghembuskannya. Aku menutup mata, berdoa dalam hati selama satu menit, baru membuka mata dan melangkahkan kaki ke dalam.
Baru saja masuk, petugas keamanan langsung menghadangku, “Siapa kamu? Ini sekolah, orang luar dilarang masuk.”
Aku mengeluarkan kartu pelajarku, dengan bangga menggantungkannya di dada, menatap petugas itu, “Sekarang aku boleh masuk?”
Petugas bertanya, “Kamu dari kelas mana? Ini jam pelajaran, kenapa baru datang? Tunggu di pos satpam, kami panggil wali kelasmu untuk menjemput.”
Aku mengernyit, sejak kapan petugas Shuhai jadi seteliti ini? Aku berkata, “Namaku Ouyang, kelas satu enam. Dengar baik-baik, ingat baik-baik! Aku harus masuk sekarang!”
Baru selesai bicara, aku langsung berjalan masuk. Petugas itu tak menyerah, membentak, “Berhenti!” Ia mengejar, menahan pundakku. Secara refleks, pundakku bergetar, aku mengunci tangannya, sejurus saja petugas itu sudah terkapar di tanah.
Aku tak benar-benar melukai dia, kalau mau, lengannya bisa saja terkilir. Kutahan dia di tanah, “Sekali lagi, aku murid kelas satu enam, paham?”
Kali ini petugas itu tak berani melawan lagi, hanya berkata patuh, “Masuk saja, masuk. Lepaskan aku. Dasar kalian murid-murid, benar-benar susah diatur.”
Aku melepaskannya, langsung menuju gedung kelas satu.
Enam bulan tak kembali, Shuhai tak berubah sedikit pun. Suasana kampus tetap tenang, sama seperti terakhir aku di sini. Dulu aku pulang membawa malu, sekarang, aku ingin lihat siapa yang bisa menghalangiku!
Dari gerbang ke gedung kelas satu butuh lima-enam menit jalan kaki. Sampai di bawah gedung, kudengar suara guru mengajar dari beberapa ruang kelas. Aku berdiri di lapangan kecil di depan gedung, tanpa sadar merentangkan tangan dan berputar satu kali. Rasanya sungguh indah bisa kembali.
Tujuan pertama, tentu saja ke kelas enam! Aku belum tahu situasi Shuhai saat ini, jadi harus kembali ke kelas enam dulu dan melakukan apa yang perlu kulakukan. Soal Ma Tianlong, Sun Lei, Zhou Jinrong, mereka akan segera menerima gilirannya.
Hari itu aku memakai pakaian olahraga, sepatu kets ringan, rambut agak panjang, terutama poni yang menutupi sebelah mataku.
Aku menaiki tangga, masih ingat betul dulu saat Zhao Kai dan kawan-kawannya menghadangku di sini, betapa menyedihkannya aku waktu itu, seolah kejadian itu terulang di depan mataku.
Dari lantai satu naik ke dua, di pojok atas langsung terlihat papan nama kelas satu enam. Semua terasa begitu akrab, balkon sunyi, ruang kelas juga hening. Aku melangkah perlahan ke arah kelas enam, hanya suara langkah kakiku yang terdengar.
Aku sampai di samping ruang kelas, saat itu perasaanku begitu rumit, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku menarik napas dalam-dalam lagi, menahan detak jantung yang menggila, menahan kobaran semangat yang menyala, dan berjalan ke depan pintu kelas enam.