Bab 72: Sang Pahlawan Jahat!
“…Hm?”
Baru saja menelan burger di mulutnya, ucapan Xia Li membuat Lucia tertegun sejenak.
Daun selada di ujung bibirnya hampir jatuh, Lucia buru-buru mengisapnya kembali dengan lidah mungilnya.
“Kembali?” tanya Lucia bingung.
Xia Li mengangguk, “Ya, maksudku mengantarmu pulang ke Benua Aize.”
Setelah mengatur kata-kata sejenak, Xia Li menceritakan pada Lucia apa yang tadi ia pikirkan di rumah makan ikan bakar.
“Segel sihir dalam Pedang Pengusir Iblis itu selalu aktif, artinya ia bisa menyimpan sedikit kekuatan sihir. Jika kekuatan itu bisa dimanfaatkan, walaupun hanya sedikit saja...
Selama bisa mengirimkan satu sinyal sihir apa pun ke Benua Aize, pasti akan ada yang menemukan kita.
Entah mereka ingin mengambil kembali Pedang Pengusir Iblis, atau sekadar menyeretku ke sana untuk bekerja tiga tahun lagi, mereka pasti rela mengorbankan sumber daya untuk memanggilku kembali.”
Xia Li berbicara dengan serius, sementara Lucia sudah meletakkan sumpitnya dan mendengarkan dengan tatapan kosong.
“Nanti, aku bisa mendorongmu ke dalam lingkaran pemanggilan, atau setelah aku ke sana, aku akan berusaha membawa lebih banyak sumber daya, lalu membuka sihir teleportasi antar-dunia di Bumi dan mengantarmu pulang.
Intinya, apa pun caranya, selama bisa membangun komunikasi dengan manusia di sana, aku yakin seratus persen bisa mengantarmu pulang.”
Rencana Xia Li benar-benar tersusun rapi, langkah demi langkah.
Mendengar analisis serius itu, Lucia terdiam sepenuhnya.
Ia menusuk nasi yang tersisa di mangkuk dengan sumpit, menatap dua butir nasi terakhir, memakan satu lalu mengeluarkannya lagi, dan menempelkan keduanya satu sama lain.
Ruang tamu hening sejenak. Seekor ngengat putih yang tak kunjung menemukan arah terus berputar di bawah lampu bohlam kuning hangat, bayangannya yang besar melingkupi wajah mereka berdua.
Akhirnya, Lucia menjilat habis dua butir nasi itu dari mangkuknya.
Memeluk segelas jus jeruk yang sudah dingin, ia menyesap seteguk. Ekspresi Lucia terlihat murung, seakan memikirkan sesuatu.
Setelah pulang...
Xia Li akan kembali menjadi sang Pahlawan, dan dia sendiri adalah sang Ratu Naga Perak yang terkenal di mulut manusia.
Di dunia manusia, Pahlawan dan Bangsa Naga adalah musuh abadi. Mereka akan bertarung lagi, seperti yang sudah terjadi berkali-kali, saling berhadapan dengan tekad siap mengorbankan nyawa untuk membunuh lawan.
Pahlawan punya misinya sendiri, ia adalah sang jagoan yang berdiri di tengah bencana, di belakangnya jutaan manusia menanti penuh harap.
Sedangkan para naga, mereka akan bertarung demi bertahan hidup dan kebebasan yang telah mereka lindungi seumur hidup, dengan sisik, cakar, darah, dan daging mereka.
“Jika nanti kita bertemu lagi di Benua Aize... apakah kau akan mencabut pedangmu?”
Lucia menarik napas. Saat bertanya, entah mengapa ia merasa sedih.
Xia Li bersandar di kursi, menatap ekspresi rumit Lucia. Hatinya ikut terasa berat.
“Pertama-tama,”
“Aku tidak akan kembali ke sana,”
Xia Li menegaskan, “Kalau sihir pemanggilan di sana hanya bisa membawaku pergi, maka setelah sampai aku akan segera mengumpulkan sumber daya dan secepat mungkin kembali ke sini.
Memang sulit menemukan cara pulang, tapi kau tidak perlu khawatir.”
Xia Li berbicara cepat. Di hadapannya, Lucia duduk tegak, seperti benar-benar menyimak pelajaran.
“Di sana tiga tahun, di Bumi tujuh hari.”
“Jika kau di sini, paling lama hanya sebulan, aku pasti sudah kembali.”
“Jadi, kau tidak perlu lagi memikirkan kemungkinan kita bertemu lagi di Benua Aize.”
Setelah Xia Li selesai bicara, ekspresi di wajah Lucia semakin rumit, bahkan sampai pucat.
Padahal Xia Li berusaha keras mencari cara agar Lucia bisa pulang, tapi wajah Lucia yang ketakutan itu seolah-olah Xia Li bukan ingin mengantarnya pulang, melainkan memaksanya pulang.
“Tiga tahun... tujuh hari...”
Dengan kemampuan berhitungnya yang terbatas, Lucia menghitung dengan jari.
Tujuh hari sama dengan tiga tahun, berarti sebulan... dua belas tahun!
Artinya, Xia Li harus tinggal di dunia yang tidak ia inginkan selama dua belas tahun.
Dan semua itu hanya demi memulangkannya.
Padahal, ia sendiri tidak terburu-buru ingin pulang...
Lagi pula, membiarkan seorang pahlawan manusia menghabiskan belasan tahun hidupnya di Benua Aize hanya untuk mengantar seekor Naga Perak kembali ke tanah asal, apa itu memang perlu?
Apa Xia Li pernah benar-benar memikirkan bahwa semua ini tak ada artinya bagi dirinya?
Dia adalah pahlawan manusia, bukan pahlawan bangsa naga...
Mengembalikan Naga Perak yang disebut bencana itu, bukankah hanya menambah masalah bagi manusia di Benua Aize?
Kenapa Xia Li malah ingin melakukan hal buruk?
“Tapi, teori memang mudah diucapkan, praktiknya sulit sekali.”
Xia Li benar-benar tenggelam dalam pikirannya. Ia menganalisis dengan logis.
“Pertama, berapa banyak sihir yang tersimpan dalam Pedang Pengusir Iblis, sulit ditentukan.
Kedua, memanfaatkan kekuatan sihir pedang itu untuk mengirimkan pesan ke Benua Aize...
Tanpa koordinat yang jelas, mencari kampung halamanmu di alam semesta yang luas, mungkin di alam semesta paralel, itu lebih sulit daripada memanjat langit.”
Xia Li bersandar di kursi, keningnya mengernyit.
Ia teringat malam itu, di kamar yang gelap, Lucia menarik ujung bajunya dan bertanya dengan suara lirih, ‘Apa aku masih bisa pulang?’
Saat itu, Lucia tampak sangat kesepian.
Ia seperti anak kecil yang tersesat, bingung di tengah keramaian.
Waktu itu Xia Li memang pernah berpikir, jika benar ada cara agar Lucia bisa pulang, ia akan melakukannya.
“Jangan khawatir,”
Jalan di depan memang lebih sulit dari yang ia bayangkan, Xia Li menarik napas dalam-dalam.
“Setidaknya sekarang sudah ada petunjuk, aku pasti akan berusaha semampuku untuk mengantarmu pulang ke... gluk gluk gluk...”
Belum selesai bicara, sedotan yang tiba-tiba masuk ke mulut Xia Li berbuih terkena hembusan napasnya.
Xia Li melirik gelas jus jeruk yang tiba-tiba muncul di bibirnya, lalu melirik Lucia yang entah sejak kapan sudah merangkak ke meja, mengarahkan gelas itu ke mulutnya sendiri.
Xia Li: “?”
Sebuah tanda tanya perlahan muncul di wajah Xia Li.
Lucia mengatupkan bibir, pipinya mengembung seperti ikan buntal, dan makin membesar dengan cepat.
Pulang, pulang, pulang...
Setiap kata Xia Li selalu tentang pulang!
Padahal dia sendiri tidak pernah bilang ingin pulang!
Dimana rumahnya, dia sendiri belum benar-benar paham!
Xia Li: “???”
Kali ini Xia Li makin kesal.
Apa-apaan.
Sudah susah payah memikirkan si naga bodoh ini, tapi bukannya berterima kasih, dia malah marah-marah!
Marah kenapa!
Aku juga marah, tahu!
Lucia mengisap jus jeruk dengan keras, setengah gelas di tangannya langsung tandas, hanya tersisa suara kering menggelegak.
Lucia menggoyang-goyangkan gelas dengan tak percaya, dan ketika menyadari Xia Li tidak menyisakan setetes pun untuknya, wajahnya yang sudah pucat makin putih.
Jahat, pahlawan jahat!
“Aku mau tidur!”
Lucia menarik diri dari atas meja, menginjak sandal ikan jelek yang Xia Li belikan, lalu berkata dengan nada paling galak.
“Aku besok masih harus belajar membaca dan berhitung!”