Bab 12: Derita Sang Naga Jahat
Jika tiga tahun hidup di dunia lain memang membawa perubahan pada tubuh Xia Li, maka selain tubuh yang kini sedikit lebih kekar, hal lain yang tertinggal hanyalah jam biologis yang tak kunjung pudar.
Keesokan paginya, bahkan jarum jam di dinding belum sempat berputar ke angka enam, Xia Li sudah membuka mata dan bangun dari tidurnya. Bangunnya bahkan lebih pagi daripada ayam berkokok.
Setelah cuci muka dan gosok gigi dengan sederhana, Lucia masih tergeletak di tempat tidur, tidur pulas seperti seekor babi. Xia Li berniat turun sendiri untuk membeli sarapan, tapi dia tak tega meninggalkan naga bodoh itu sendirian di rumah. Kemarin malam, karena terburu-buru tidur, dia bahkan belum sempat memberitahu Lucia tentang aturan hidup di dunia manusia.
Di ruang tamu, di atas ranjang lipat yang sempit, wajah tidur Lucia tampak tenang. Bulu matanya yang panjang memantulkan bayangan kecil di bawah cahaya lampu. Bibir tipisnya yang merah muda sedikit mengatup, membentuk garis bergelombang.
Wajah Lucia menyembul setengah dari balik selimut, pipinya putih kenyal dan lembut, tampak seperti telur rebus yang baru saja dikupas. Apakah semua bangsa naga memiliki kulit sehalus ini?
Xia Li berjongkok, tak tahan ingin mencubit pipi itu. Padahal saat berubah menjadi naga, sisik Lucia tak bisa ditembus senjata tajam, tahan panas dan dingin, baik pertahanan fisik maupun sihirnya sudah maksimal; Xia Li mengerahkan seluruh tenaga pun sulit melukainya. Tapi setelah berubah jadi manusia, kulitnya jadi begitu halus dan lembut, seolah-olah Xia Li hanya perlu sedikit menekan, pipi itu akan mengeluarkan air.
Namun, itu hanya sekadar pikiran. Xia Li tidak benar-benar melakukannya. Bagaimanapun juga, Lucia adalah naga jahat sesungguhnya. Jangan sampai tangannya baru bergerak, dia sudah digigit, itu bisa repot.
Xia Li mengeluarkan ponsel, diam-diam memotret wajah Lucia yang sedang tidur. Naga raksasa yang tidur seperti babi dan sampai mengeluarkan air liur ini, entah pernah disaksikan orang lain atau tidak, tapi Xia Li si pemburu naga baru pertama kali melihatnya sendiri.
Setelah mengambil belasan foto dari berbagai sudut, barulah Xia Li merasa puas. Ia menutup galeri foto, lalu membuka aplikasi pesan singkat.
Dalam aturan hidup masyarakat masa kini, bersosialisasi adalah hal yang tak bisa dihindari. Meski Xia Li termasuk tipe yang betah di rumah, tak suka keluar, ia tetap punya satu-dua teman dekat. Tak hanya teman, keluarga juga merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang menyeberang ke dunia lain, Xia Li memiliki orang tua yang sehat dan penyayang. Selama tiga tahun di dunia lain, yang paling dirindukannya adalah kedua orang tuanya. Xia Li kerap berpikir, andai ia mati di negeri asing, bagaimana nasib kedua orang tuanya yang hanya punya satu anak?
Bisa dibilang, kerinduan pada orang tua itu adalah alasan Xia Li bertahan selama hidup di dunia lain.
Xia Li membuka jendela percakapan dengan Ibu Fang. Tak meleset dari dugaannya, sudah ada beberapa pesan baru masuk.
Sebenarnya, hal pertama yang Xia Li lakukan setelah pulang kemarin adalah memberi kabar pada keluarga. Tapi mungkin saat itu Ibu Fang sedang asyik bermain mahjong di ruang permainan, sehingga tak sempat membuka ponsel.
Kini, ketika Xia Li membuka pesan, terlihat Ibu Fang membalas sekitar pukul setengah sembilan malam.
- Riwayat obrolan -
Ibu Fang: Nak, lihat dong, hari ini Ibu belajar masak daging babi kecap. [foto][foto]
Ibu Fang: Kamu di mana? Sudah dua hari nggak kelihatan, ditelepon juga nggak diangkat.
Ibu Fang: Kenapa ponselmu malah dimatikan? Besok biar ayahmu saja yang ke sana lihat kamu.
Ibu Fang: Kenapa kamu nggak di rumah? Kata Xiao Chen, kamu katanya mau pergi jalan-jalan mendadak? Kamu sekarang sudah lulus kuliah, Ibu nggak larang kalau mau jalan-jalan, tapi minimal bawa ponsel dong, sekarang pergi tanpa ponsel repot banget!
Ibu Fang: Jangan ke Utara, di sana lagi kacau, hati-hati ketipu dan dijual ginjal!
Ibu Fang: "Berita hangat: Negara kita tambah 36 kasus penipuan berkedok asmara"
Ibu Fang: "Berita hangat: Jangan pernah pergi ke tiga tempat ini ketika bepergian..."
...
Selama seminggu Xia Li menghilang, Ibu Fang mengirimkan total tiga puluh pesan. Lebih dari dua puluh pesan di antaranya adalah berita daring yang dibagikan dari grup keluarga "Keluarga Bahagia".
Baru setelah Xia Li kemarin membalas dengan "Bu, aku sudah pulang", isi pesan dari Ibu Fang kembali normal.
Ibu Fang: Sudah sampai rumah?
Ibu Fang: Seminggu cuma satu pesan, habis itu hilang lagi.
Ibu Fang: Besok Ibu suruh ayahmu ke sana, kalau kamu nggak di rumah, tunggu saja Ibu datang dan menumis daging dengan bambu muda buat kamu!
"Menumis daging dengan bambu muda" adalah istilah khas daerah Shu yang berarti memukul anak. Masa kecil Xia Li sering diancam dengan kata-kata itu, namun sebenarnya sang ibu jarang benar-benar memukulnya, lebih sering sekadar menakut-nakuti saja.
Melihat gaya bicara ibu yang seperti biasa, Xia Li tersenyum. Meski sangat ingin langsung pulang menengok kedua orang tua, namun jaraknya cukup jauh. Sebelum Lucia benar-benar bisa ditinggal, Xia Li untuk sementara belum bisa pergi.
Xia Li: Jangan, Bu, aku kan sudah bilang pulang, pasti pulang.
Takut ibunya benar-benar menyuruh ayah datang memeriksa, Xia Li segera mengirim beberapa pesan balasan. Sekalian, ia merekam sebuah video pendek.
Dalam video itu, Xia Li berkeliling rumah sambil membawa ponsel, bahkan menyebutkan tanggal hari ini agar semakin meyakinkan. Ia dengan cermat menghindari ranjang lipat di ruang tamu, dan dengan jari tangannya "secara tidak sengaja" menutupi posisi Lucia yang mungkin kelihatan.
Setelah mengirim pesan ke Fang Xia, Xia Li membuka jendela obrolan lain, kali ini dengan ayahnya, Xia Yuanjun.
Berbeda dengan pesan beruntun dari Fang Xia, pesan dari Xia Yuanjun sangat singkat. Hanya ada dua "Ke mana?" dan satu tanda tanya.
Xia Li hanya membalas "Sudah pulang", lalu menutup ponsel.
Memang, komunikasi antara ayah dan anak selalu sesederhana dan seefisien ini. Kalau Xia Li tidak menghilang lama, ayahnya mungkin bahkan tidak akan mengirim satu pun tanda tanya.
Setelah menaruh ponsel, Xia Li merasa perutnya sangat lapar, sampai terasa perih. Ia bersiap berdiri untuk membuat mi instan, tiba-tiba lengannya ditarik dengan kuat.
Tubuh Xia Li oleng, hampir saja jatuh terduduk. Untung saja selama belajar ilmu pedang dulu, ia sempat melatih kekuatan inti, sehingga hanya melangkah setengah langkah ke belakang dan langsung menstabilkan tubuh.
Xia Li menunduk, menatap penyebab kekacauan itu—cakar naga berdosa yang terulur padanya.
Lucia baru saja terbangun, matanya masih sayu dan bingung. Dari balik selimut, ia mengulurkan dua tangan putih mulus; satu menahan pergelangan tangan Xia Li, satu lagi mengusap matanya.
"Lapar," kata Lucia.
Xia Li agak terkejut. Menurutnya, Lucia hanya menariknya sekilas, tapi tenaganya... luar biasa besar. Jauh dari kekuatan yang wajar dimiliki gadis seusianya. Kekuatan lengan Lucia jelas tidak sebanding dengan tubuhnya yang ramping.
Sebenarnya, Xia Li sudah memikirkan soal ini kemarin. Naga jahat yang datang ke Bumi memang kehilangan kekuatan sihir secara drastis, namun kekuatan tubuh aslinya seharusnya tetap sama. Mungkin jadi sedikit lebih lemah karena tubuh manusia, tapi lemahnya berdasarkan standar naga raksasa, sedangkan dibanding manusia biasa, kekuatan Lucia jelas masih di luar nalar.
Namun, kekuatan sebesar itu tetap tak akan melanggar hukum fisika di Bumi. Tulang sekeras apa pun tetaplah tulang, makhluk karbon tanpa sihir tetap memiliki batas.
Saat ini, Lucia sepertinya belum sadar kalau tubuhnya jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Tapi Xia Li tidak khawatir. Sekalipun Lucia menyadarinya, tidak masalah... Toh Xia Li bekas pahlawan, dan di kamarnya masih ada pedang penakluk naga khusus. Kalau Lucia nekat memberontak, siapa menindas siapa belum tentu hasilnya.
"Mau makan," Lucia kembali menarik Xia Li yang hanya berdiri diam.
Andai saja mi instan itu tidak diletakkan terlalu tinggi dan ia bisa meraihnya, pasti sudah diambil sendiri. Tak perlu repot-repot merengek pada sang pahlawan!
"Kamu... pakai dulu bajumu, nanti aku ajak keluar makan," ujar Xia Li setelah sadar, sambil memungut baju dan celana yang terjatuh dari selimut, lalu meletakkannya di samping bantal Lucia. Ia sendiri kembali ke kamar, memberi Lucia waktu untuk bersiap.