Bab 24 Naga Jahat Bekerja Paruh Waktu
Ekspresi wajah Lucia yang semula santai perlahan berubah semakin berat. Ia teringat bahwa kini dirinya tak memiliki apa-apa, dan bahkan Xia Li yang telah menampungnya pun tak memperoleh keuntungan apa pun dari kehadirannya. Sesuatu yang tak bernilai—pada akhirnya hanya akan dibuang layaknya sampah.
Semakin dalam ia memikirkan hal itu, kian tak tenang perasaannya. Ditambah lagi dengan ucapan Xia Li barusan, “Bagaimana rasanya dua hari hidup bersama denganku?”—seolah-olah itu adalah sebuah perpisahan. Lucia merasa sedikit sedih. Hanya saja, ia sendiri tak tahu pasti apa yang membuatnya sedih.
Sepanjang hidupnya, hanya dua kali ia merasakan emosi seperti ini. Pertama, saat duduk di puncak gunung menonton dua naga bersisik campuran bertarung, dan bara api pertempuran itu membakar habis daging yang tengah ia makan. Kedua, ketika selesai terbang berkeliling dan kembali ke sarangnya, ia mendapati koin emas di dalam sarang telah dicuri. Oh, dan satu kali lagi ketika gua yang baru saja ia bangun diserbu oleh sang pahlawan, Xia Li.
Itu semua adalah koin dan permata yang telah susah payah ia rebut dari kerajaan sebelah, belum sempat ia nikmati, Xia Li sudah datang dan mengusirnya. Lucia begitu kecewa saat itu, bahkan sampai bersumpah bahwa jika bertemu Xia Li lagi, ia pasti akan memberinya pelajaran.
Namun, keesokan harinya ketika melihat Xia Li, ia justru memutar jalan menghindarinya. Bukan karena tak mampu mengalahkannya, hanya saja hari itu keadaan dirinya sedang tak baik.
“Xia Li, kau…”
“Kau… ingin mengusirku?” tanya Lucia lirih.
Ia merasakan emosi bernama “kesedihan” itu menyeruak dari dadanya. Sebagai naga, Lucia tak pernah pandai menyembunyikan perasaannya, sehingga setiap emosi tercermin jelas di wajahnya. Alisnya yang lentik sedikit mengerut, mata beningnya menatap Xia Li dengan kecewa. Bibir mungilnya terkatup membentuk garis lengkung ke bawah, Lucia menarik napas kecil.
Seandainya Lucia memiliki telinga binatang seperti para manusia setengah hewan di Benua Aize, telinganya pasti kini terkulai lemas. Tatapan Xia Li pun sempat terhenti sejenak.
Kenapa naga ini terlihat seperti hendak menangis dengan air mata kecil? Padahal ia hanya ingin mulai memberi Lucia pengertian, bukan mengusirnya.
“Ehem, begini. Sudah kukatakan tadi, di dunia ini segala sesuatu memiliki harga, dan untuk mendapatkannya, kau harus berusaha dengan tanganmu sendiri. Uang adalah hal terpenting untuk bertahan hidup di sini, dan cara mendapatkannya adalah dengan bekerja. Dengan kemampuanmu sekarang, kau belum bisa melakukan pekerjaan di luar sana. Jadi, aku sudah memikirkan satu cara.”
Xia Li berbicara dengan sungguh-sungguh, dan ekspresi Lucia bahkan lebih serius darinya.
“…Cara apa itu?”
“Mengerjakan pekerjaan rumah.”
“Pekerjaan rumah?”
“Ya, seperti mencuci piring tadi.”
“Hanya mencuci piring saja?”
“Tentu saja tidak. Selain mencuci piring, ada juga mengepel lantai, mencuci baju, menjemur pakaian—semua itu akan kuajarkan satu per satu. Tugasmu setiap hari adalah menyelesaikan urusan-urusan rumah tangga kecil ini.”
“Baik, kedengarannya tidak terlalu sulit.”
Akhirnya ekspresi Lucia sedikit melunak. Ternyata Xia Li tidak ingin mengusirnya. Selama ia memiliki sesuatu untuk dikerjakan—atau dengan kata lain, dapat menunjukkan nilainya sendiri—Lucia tidak akan merasa terancam.
Sebagai naga, Lucia tahu bahwa banyak hal yang dilakukan bangsa naga hanya sekadar karena tertarik atau merasa lucu. Namun, manusia berbeda. Mereka jauh lebih rakus dari naga; setiap tindakan selalu punya tujuan. Lucia selama ini bertanya-tanya, apa tujuan Xia Li membawanya pulang? Bukan untuk daging dan darahnya, bukan pula untuk melahirkan anak naga. Justru keadaan seolah tanpa pamrih inilah yang membuat Lucia paling waspada.
Bagaimanapun juga, Xia Li adalah pembantai naga. Apa pun yang ia lakukan pada naga, tentu tidak berlebihan, bukan? Sekarang, setidaknya Lucia tahu apa tujuan Xia Li, dan tahu pula apa perannya.
“Huft.”
Sedikit lega rasanya. Hanya bersih-bersih saja, dulu sarangnya di antara para naga murni pemalas adalah salah satu yang paling bersih! Urusan rumah tangga begini, gampang!
“Handuk ini untuk mengelap meja, yang ini untuk mencuci piring, sedangkan yang ini… hmm, yang ini handuk mandiku, jangan dipakai. Sisanya bebas dipakai untuk apa saja. Lalu, di balkon ada sapu berbulu untuk menyapu, dan pel berbahan kain untuk mengepel. Bersihkan meja dulu, baru sapu dan pel lantai.”
“……”
Mendengar Xia Li menjelaskan tugas seperti membaca mantra, kepala Lucia terasa pening.
Kenapa serumit ini! Ternyata urusan manusia begitu banyak! Tidak heran mereka selalu punya banyak masalah!
“Ini mesin cuci, pertama masukkan pakaian, lalu tambahkan deterjen, setelah itu cukup tekan tombol ‘power’ dan ‘start’, nanti mesin akan memberi tahu jika sudah selesai. Setelah itu, jemur pakaiannya di gantungan. Satu hal, jangan mencuci pakaian dalam di sini. Yang itu, eh, dalamanmu dan celana kecil harus dicuci tangan, pakai sabun kuning muda di kamar mandi.”
Lucia bahkan belum sempat mencerna semuanya, Xia Li sudah berjalan ke balkon luar. Di sana ada mesin besar yang rongganya cukup untuk menampung satu Lucia.
“Saklar listrik mesin cuci di sini. Biasanya kalau tidak dipakai, aku cabut listriknya… tapi keran air jangan dicabut, letaknya terlalu dalam, susah menjangkaunya.”
Xia Li menyelesaikan penjelasan tugasnya tanpa menunggu tanggapan. Agar lebih jelas, ia pun mempraktikkannya sekali.
“Sudah paham?” Setelah selesai, Xia Li menatap Lucia.
Wajah Lucia terlihat sangat tegang. Beberapa saat kemudian, ia perlahan mengangguk.
Xia Li hanya bisa terdiam.
Selesai sudah, naga bodoh ini sepertinya tak ada yang masuk ke otaknya.
“Tidak apa-apa.”
Untung saja Xia Li cukup sabar. Ia memang tak berharap Lucia langsung bisa memahami semuanya.
“Kita masih punya banyak waktu, pelan-pelan saja belajarnya. Untuk sementara, tugasmu adalah membiasakan diri dengan kehidupan di Bumi. Jika bisa membantu pekerjaan rumah, bantu saja. Kalau belum bisa, cukup perhatikan dulu sampai nanti bisa menjalankannya sendiri.”
Xia Li berpikir sejenak, lalu menambahkan, “Saat itu nanti, mungkin aku sudah mulai bekerja di luar. Jadi urusan rumah akan kuserahkan sepenuhnya padamu.”
“Bekerja?” Lucia menengadah penasaran, “Untuk mencari uang?”
“Ya, selama kau belum punya pekerjaan sendiri, aku yang akan menanggung penghasilan kita. Hanya saja, menemukan pekerjaan untukmu mungkin butuh waktu lama, apalagi kau bahkan tak punya kartu identitas…”
Membahas identitas, kepala Xia Li langsung pusing. Mengurus kartu keluarga untuk Lucia bukanlah perkara mudah. Seandainya usianya masih kecil, mungkin tinggal di panti asuhan dua tahun saja sudah bisa punya KTP sendiri. Tapi tampilan Lucia seperti gadis enam belas atau tujuh belas tahun…
Jika polisi sampai tahu ia tak punya identitas, Xia Li pasti jadi yang pertama ditahan.
Sambil menggaruk kepala, Xia Li memutuskan untuk menunda dulu urusan identitas.
“Itu nanti saja dipikirkan. Untuk sekarang, fokuslah menguasai pekerjaan rumah yang baru saja kujelaskan tadi.”
“Tentu saja, aku tidak akan cuma-cuma… aku tidak akan membiarkanmu melakukannya tanpa imbalan. Aku akan membayarmu. Misalnya, mencuci satu piring seribu rupiah, mengepel sekali lima ribu rupiah… semua uang itu akan kuberikan padamu, dan kau bisa menyimpannya untuk membeli apa pun yang kau inginkan.”