Bab 33: Pria Berkostum Kelinci?
Sarapan pagi tadi yang hanya semangkuk bubur encer memang tidak membuat Xia Li kenyang. Orang-orang dari Provinsi Shu memang lebih terbiasa makan makanan berbahan dasar tepung terigu saat sarapan. Maka mendekati waktu makan siang, Xia Li memesan dua gelas teh susu untuk dirinya sendiri, sebagai hadiah kecil karena berhasil mendapatkan pekerjaan paruh waktu.
“Kamu mau yang rasa kelapa atau melati?” tanya Xia Li sambil menerima pesanan dan berbalik ke arah Lucia di dalam kamar.
Lucia bersembunyi di balik pintu kamar, mengintip ke arah pintu depan dengan curiga.
“...Kelinci jantan berkostum pelayan?” Nada suara Lucia terdengar terkejut sekaligus tidak percaya.
Saat itu, kurir pengantar makanan sudah turun ke bawah. Xia Li menutup pintu, menatap sang naga yang bertingkah mencurigakan dengan ekspresi aneh.
Baru teringat, para naga memang sangat teritorial. Jika Lucia sudah menganggap rumah Xia Li sebagai wilayahnya, maka siapa pun yang masuk adalah musuh. Kalau tadi Xia Li tidak menahan Lucia, mungkin sang naga sudah menyerang kurir tersebut.
“Apa maksudmu kelinci jantan berkostum pelayan?” Xia Li mengeluarkan teh susu satu per satu, lalu memasang sedotan.
“Tadi itu, di kepalanya ada telinga kelinci,” jawab Lucia.
“Itu hanya lambang Mituan Delivery, cuma bando saja.”
“Tapi, di dunia manusia, yang mengantar makanan adalah pelayan perempuan. Kalau pelayan itu memakai telinga kelinci, berarti dia kelinci perempuan berkostum pelayan.”
Lucia memang tak terlalu paham dunia manusia, tapi saat dulu ia menyusup ke kedai para petualang, yang paling sering ia lihat adalah para pelayan perempuan. Tampaknya para pria manusia sangat menyukai pelayan, mereka suka mendandani pelayan dengan berbagai aksesoris, ada yang pakai telinga, ekor, bahkan lonceng besar di dada.
Lucia sendiri tidak mengerti, ia hanya merasa kebiasaan manusia itu aneh.
“Di sini, yang mengantar makanan itu namanya kurir, bukan pelayan,” jelas Xia Li.
“Jadi dia pelayan pria?”
“Bukan juga.”
“Jadi kau tidak suka pelayan perempuan, Xia Li?”
“Tentu saja aku... tentu saja aku tidak suka. Mana mungkin seorang pahlawan manusia yang jujur menyukai pelayan perempuan?” Xia Li hampir saja terjebak dalam perangkap Lucia.
Ia menyerahkan teh susu, memutuskan pembicaraan.
“Coba ini, kau pasti belum pernah minum.”
Lucia terlihat agak waspada pada gelas kertas yang disodorkan Xia Li. Dulu Xia Li juga pernah memberikan minuman bergelembung padanya, membuatnya tersedak oleh gelembung-gelembung itu.
“Kali ini tidak ada gelembung, cuma agak panas,” kata Xia Li.
Lucia mengerucutkan bibir, dalam waktu 0,05 detik ia ragu-ragu, lalu dengan tegas menggigit sedotan dari Xia Li.
Hidup Lucia sebagai naga tidak pernah punya prinsip khusus, selama seratus tahun tumbuh dari naga kecil ke naga dewasa, ia selalu hidup tanpa pedoman. Tapi ada satu hal yang ia pahami...
Lebih baik mengkhianati dunia daripada mengkhianati makanan lezat!
Di Benua Aize, makanan adalah sumber daya langka, apalagi makanan lezat.
“Ini enak sekali!” Mata Lucia berbinar setelah mengisap seteguk teh susu rasa kelapa.
Xia Li memang sangat menikmati ekspresi seperti itu darinya. Makan bersama teman seperti ini, membuat nafsu makannya jadi lebih baik.
“Hampir mirip seperti susu kacang kemarin, aromanya pekat!” Lucia menggigit sedotan besar itu. Karena baru belajar minum dengan alat itu, isapannya lemah, setiap habis dua teguk ia harus menghembuskan napas panjang lewat hidung.
“Kau pelan-pelan saja minumnya,” Xia Li takut naga bodoh itu tersedak.
“Xia Li, aku mau coba punyamu.”
Baru sekejap mata, sang naga sudah mengincar teh susu di tangan Xia Li.
“Aku ambilkan... mangkuk untukmu?”
Baru saja hendak berbalik, gelas di tangan Xia Li sudah mengeluarkan suara aneh seperti dihisap habis.
Xia Li mengerutkan kening.
“Hmm, punyamu tidak seenak punyaku,” komentar Lucia yang gemar makanan enak.
Xia Li menatap sedotan yang kini basah itu dengan ekspresi jijik.
Dulu ia sering dengar, bangsa naga terkenal dingin dan sulit merasakan emosi. Bahkan naga yang sudah berubah wujud dan hidup di perkebunan manusia, tetap tak punya perasaan hangat terhadap manusia.
Tapi naga bodoh di depannya ini, kenapa begitu ramah ya? Ramahnya sampai tidak mengenal batas.
Dalam hati Xia Li berkali-kali mengingatkan diri sendiri.
Liur naga itu barang bagus, liur naga itu barang bagus...
Setelah berhasil membohongi diri sendiri, Xia Li menunduk dan menenggak satu tegukan besar.
Hmm, rasanya seperti teh susu biasa.
Untung dari awal tidak berharap yang aneh-aneh.
Lain kali kalau ada yang bilang di internet “sedotan yang sudah diminum gadis itu rasanya manis”, Xia Li pasti akan membantah. Sedotan itu manis karena teh susunya memang manis, yang menempel di sedotan itu cuma campuran air liur dan minuman, tidak ada makna suci apa pun. Bukan cuma gadis, naga betina pun tidak akan manis!
Setelah menenggak beberapa teguk besar, mata Xia Li melirik bibir mungil Lucia yang mengerucut merah karena berusaha keras menyedot.
Manis, kah?
Tidak mungkin!
Mulut naga itu untuk menyemburkan api.
Sedangkan liur naga, itu untuk membuat ramuan!
Lucia yang mengenakan sandal jepit model mulut ikan berdiri di tempat, serius membandingkan rasa dua teh susu itu, lalu mengunyah potongan kelapa yang masuk ke mulutnya.
Tapi tak lama, Lucia sudah lupa seperti apa rasa teh susu Xia Li tadi.
Ia pun menatap Xia Li dengan mata jujur.
“Xia Li, aku masih ingin coba punyamu…”
“Gluuuk—!!!”
Gelas teh susu di tangan Xia Li mengeluarkan suara memilukan seperti sudah diperas habis.
Belum pernah ia minum teh susu selicin menenggak botol arak.
Sial, perutnya jadi kekenyangan.
Xia Li mengelus pinggang, terengah-engah.
Sekarang tidak ada yang bisa saling mengambil keuntungan!
Lucia hanya bisa menarik kembali keinginannya. Dalam hati ia mengomel, kenapa sang pahlawan ini jadi pelit soal makanan, padahal selama ini ia tidak pernah bersikap begitu. Lagi pula ia cuma mau coba rasanya, bukan merampas.
“Hey—”
“Kepala Xia!”
Saat Xia Li mondar-mandir di ruang tamu karena kekenyangan, terdengar langkah kaki berat mendekat dari ujung lorong. Dari suara langkahnya, pemilik suara tampak terburu-buru, mungkin juga sangat bersemangat.
“Ayo buka pintunya! Kalau tidak kubuka sendiri pakai kunci, lho!”
Suara pria di depan pintu terdengar serak dan berat. Ia seperti sedang menempelkan tubuhnya ke pintu besi rumah Xia Li.
Lucia yang masih minum teh susu terkejut mendengar suara mendadak itu.
Ia langsung beranjak ke dapur, di sana ada pisau dapur yang dibeli waktu itu.
Bagi seekor naga di sarangnya, saat menghadapi bahaya tak dikenal, hanya ada satu pikiran.
—Serang.
Usir para penyusup!
“Masuk ke kamarku,” kata Xia Li sambil menarik pergelangan tangan Lucia dan memberinya perintah tegas.
Semua orang tahu, naga tidak mungkin menurut. Naga yang mudah menurut, selain tidak punya harga diri, juga dianggap memalukan.
“Baiklah…”
Naga yang merasa malu, Lucia, akhirnya membawa teh susunya masuk ke kamar Xia Li.
Tak ada pilihan lain, teh susu itu terlalu enak.
Kalau melawan perintah Xia Li, besok bisa-bisa tidak dapat makan.
Setelah memastikan Lucia sudah masuk kamar, Xia Li memutar gagang pintu.
Pria di balik pintu masih jongkok sambil mencari kunci, tapi begitu pintu terbuka, ia segera mendongak dengan wajah penuh debu.
Xia Li menatapnya dengan jijik.
“Sudahlah, jangan cari-cari lagi, kuncinya sudah aku ambil.”