Bab 19: Kalau begitu, juallah aku
Setelah memilih barang, Xia Li membayar di kasir, sementara Lucia berdiri diam di belakangnya. Saat pegawai toko menghitung barang, Xia Li berusaha sebisa mungkin untuk tidak menengok ke arah pakaian dalam yang dipilih Lucia.
Bukan soal ingin menjaga misteri—bagaimanapun juga mereka sudah tinggal bersama, saat mencuci pakaian sudah pasti semuanya akan digantung di balkon dan terlihat jelas.
Sebenarnya Xia Li hanya… agak canggung. Lagipula, ini pengalaman pertama baginya.
Semasa kuliah, hidup Xia Li hanya berkutat antara belajar dan bermain gim, teman yang paling sering menemaninya adalah saudara sepermainan selama empat tahun. Dengan kehidupan seperti itu, jangankan merasakan semangat muda atau menjalani cinta yang membara, Xia Li bahkan belum tentu hafal semua nama teman sekelas perempuannya.
"Mau bayar pakai Alipay atau WeChat?"
Di depan Xia Li, sang kasir sambil memasukkan barang ke dalam kantong, menodongkan alat pemindai ke kode pembayaran Xia Li.
Harganya cukup mahal, total belanjaan itu hampir tiga ratus yuan.
Begitu menerima kantong kertas, Xia Li tanpa sadar melirik isinya.
Aneh juga, semakin ingin menghindari sesuatu, semakin bawah sadar justru melakukannya, seperti kenangan yang tak ingin diingat malah semakin membekas.
Tatapan Xia Li tertahan pada label bertuliskan 75A. Hatinya yang sempat cemas akhirnya benar-benar pupus.
Pagi ini ia sempat bilang ada lekukannya… Ternyata, lekukan itu bahkan belum cukup untuk membuat Lucia naik dari kelas A ke B.
"Xia Li, kamu masih punya uang?"
Keluar dari pusat perbelanjaan, Lucia selalu tampak khawatir.
Dari penuturan Xia Li, ia tahu bahwa manusia tidak hanya bertransaksi dengan uang tunai, tapi juga bisa memindai kode pembayaran pada kotak kecil, dan jumlah uangnya otomatis berkurang dari situ.
Walau uang yang kedua itu virtual, tidak nyata, namun bisa ditukar satu banding satu dengan uang sungguhan.
Lucia sangat khawatir Xia Li akan menghabiskan semua angka itu, dan kalau terjadi, kemungkinan besar mereka akan kelaparan.
"Masih ada tiga ribuan, kira-kira."
"Tiga ribuan? Itu masih banyak sekali!"
Jawaban Xia Li membuat mata Lucia berbinar.
Bagi sang naga yang sama sekali tak punya konsep uang, tiga ribu yuan memang angka yang besar.
Tapi, tiga ribu yuan… Kalau Xia Li hidup sendiri, bisa cukup untuk dua bulan. Tapi sekarang dengan Lucia, sebulan saja sudah pas-pasan.
Harus cari cara untuk dapatkan emas kecil dalam waktu dekat.
Ngomong-ngomong soal emas…
"Oh iya,"
Xia Li tiba-tiba berhenti, teringat sesuatu yang penting.
"Kita ke toko emas dulu."
…
"Mas, ini bukan emas murni, tapi paduan."
"Di sini, emas seperti ini disebut AU900, baik harga jual maupun belinya memang lebih rendah dari emas biasa."
Di sebuah toko emas di Jalan Chunbei, pegawai pria yang melayani Xia Li dan Lucia menggunakan alat khusus untuk menguji kepingan emas yang dibawa Xia Li.
Walaupun sudah agak kusam dan motif di permukaannya hampir tak tampak, emas tetaplah logam yang tahan waktu. Kepingan seberat 32 gram ini benar-benar emas asli.
Seperti dugaan Xia Li, kadarnya memang tidak tinggi.
Tapi kandungan emas 90% tetaplah angka yang besar.
Sambil menunggu pegawai tadi selesai menguji, Xia Li diam-diam membuka ponselnya untuk mencari harga emas AU900 hari ini.
Serangkaian angka yang ia temukan membuat Xia Li sangat puas.
"Sesuai harga hari ini, AU900 kami beli dengan harga 437 yuan per gram, tapi karena Anda tidak punya nota pembelian dan info merek, kami harus pangkas jadi 393 yuan per gram."
Pegawai bersetelan rapi itu sambil menunjukkan harga emas hari ini, sekalian menawar harga.
Kalau jumlah banyak, toko emas seperti ini takkan berani beli emas tanpa nota begitu saja.
Tapi emas Xia Li hanya 30 gram, dan warnanya… jelas barang lama.
Tentu Xia Li tahu kelebihan emas yang ia miliki.
"Tidak bisa begitu juga,"
Xia Li meletakkan emas itu di atas meja kaca.
"Kadar emasnya sudah kamu tes, aku tidak mempermasalahkan kemurniannya, tapi… penampakan koin ini sungguh tua, penuh bekas waktu. Walaupun tulisannya kabur dan ada noda serta kotoran, justru itu menandakan usianya yang kuno. Bisa jadi, benda ini berasal dari sejarah kuno Barat."
Xia Li bicara penuh semangat, pegawai toko itu terdiam.
Ucapan Xia Li tidak salah, koin itu memang terlihat sangat tua, bahkan bisa disebut barang antik.
"Bolehkah saya tahu, dari mana Anda mendapatkan ini?"
"Dari warisan keluarga."
Jawaban Xia Li sangat mantap, seolah ia sudah menyiapkan alibi ini sebelumnya.
Pegawai di depannya tampak ragu, lalu masuk ke dalam untuk bertanya pada pemilik toko.
"Aku warisan keluarga?"
Melihat pegawai toko pergi, Lucia menoleh dan menunjuk dirinya sendiri.
"Diam dulu," bisik Xia Li.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pegawai itu kembali bersama pemilik toko.
Setelah proses tawar-menawar yang alot, akhirnya koin emas itu dibeli dengan harga tinggi, 450 yuan per gram.
Meski harga belinya jauh di atas harga pasar hari itu, benda ini unik, dan motif yang sudah aus justru menarik perhatian sang pemilik, sehingga ia membelinya sebagai koleksi.
Bahkan Xia Li tak menyangka, satu koin emas dari benua Eze bisa sebegitu berharganya.
Melihat saldo 14.400 yuan masuk ke WeChat-nya, Xia Li sempat linglung.
Andai ia tahu bakal kembali ke sini, ia pasti bawa sekantong emas untuk jadi orang kaya.
Tapi itu hanya angan-angan.
Tiba-tiba muncul banyak emas di tubuh, bisa-bisa dicurigai polisi.
Setelah menerima uang, Xia Li bersiap pergi.
Tapi ia menoleh dan mendapati naga bodoh itu masih terpaku di depan pintu.
Entah sejak kapan, Lucia sudah berdiri di depan etalase toko, kedua tangan di belakang punggung, matanya terpaku pada deretan emas yang berkilauan.
Hampir saja Xia Li lupa… Semua naga memang suka benda-benda berkilauan, apalagi emas.
"Ayo cepat," Xia Li menyuruhnya.
Barulah Lucia menutup mulut yang menganga karena terpesona.
Di benua Eze, saat masih menjadi naga jahat, Lucia bukan tidak pernah melihat emas sebanyak itu, bahkan ia pernah tinggal lama di gua yang penuh tumpukan emas.
Tapi perhiasan emas dengan kerajinan seindah ini, baru kali ini ia lihat.
Hiasan kepala seperti mahkota, liontin bunga yang cantik, gelang berbentuk hewan kecil…
Mata kuning keemasan Lucia memantulkan cahaya emas, membuat sorot matanya tampak semakin bercahaya.
"Indah sekali, Xia Li. Aku mau yang itu."
Saat Xia Li dan pemilik toko sibuk tawar-menawar, Lucia sudah memilih barang emas yang paling ia sukai.
Begitu Xia Li melihat harganya, bulu kuduknya langsung berdiri.
Yang dipilihnya mahkota burung phoenix.
Harganya lebih dari tujuh ratus ribu yuan.
Memang benar, selera naga selalu tinggi.
"Jual saja aku, mungkin bisa cukup buat beli," Xia Li merasa antara kesal dan geli.
Lucia benar-benar mempertimbangkan sejenak.
Kemudian ia merasa, dibandingkan Xia Li, barang itu tampaknya tidak terlalu penting.
"Lupakan saja," Lucia menggeleng, "tidak sepadan."