Bab 59: Persahabatan Murni yang Tak Tergoyahkan
Saat pulang, mereka tepat berada di tengah jam sibuk sore.
Xia Li bersama Lucia menunggu di pinggir jalan, tiga bus lewat tanpa satu pun kursi kosong, akhirnya dengan pasrah mereka naik ke bus yang tak terlalu penuh.
Hari ini Lucia cukup kelelahan, lengannya nyaris tak mampu menggantung di pegangan bus, tubuhnya terombang-ambing mengikuti gerakan kendaraan.
Xia Li sendiri tak merasa lelah. Pertama, kondisi fisiknya memang jauh lebih baik dibandingkan naga yang jarang keluar rumah. Kedua, Xia Li tidak pernah berjalan dengan melompat-lompat seperti Lucia.
Memanfaatkan waktu berdiri di bus, Xia Li mengeluarkan ponselnya dengan satu tangan untuk mengecek sebentar.
Saat bermain bersama Lucia tadi sore, ia tidak memperhatikan ponsel, sekarang di Zhihu sudah muncul dua komentar baru.
Isinya masih cukup ramah, satu meminta update, satu lagi bertanya kenapa cerita diisi dengan penjelasan setting, apakah Xia Li berniat menerbitkan buku karena menulis dunia cerita begitu detail.
Xia Li mengetik penjelasan singkat dengan satu tangan, mengatakan bahwa catatan pengalaman memang menggunakan format seperti itu.
Setelah mematikan ponsel, ia melirik Lucia yang masih terhuyung di sebelahnya.
Bus tiba di halte berikutnya, kali ini penumpang yang naik cukup banyak, Xia Li mendorong Lucia perlahan ke pojok.
Untuk saat ini, Xia Li belum berharap buku catatan pengalaman itu bisa memberinya penghasilan.
Karena sejak awal ia bertekad menulis cerita panjang berseri, sebelum memperoleh eksposur yang lebih tinggi, tidak mendapatkan penghasilan pun wajar saja.
Soal komentar tentang menerbitkan buku... Xia Li sama sekali belum memikirkan ke arah itu.
Catatan pengalaman hanyalah salah satu cara ia mencoba mencari uang. Ia berniat menghabiskan satu bulan untuk proyek ini. Setelah satu bulan, entah bisa menghasilkan uang dari cerita dunia lain atau tidak, Xia Li tetap akan mencari pekerjaan.
Bagaimanapun, menulis catatan pengalaman ini hanya sampingan, tak bisa dijadikan pekerjaan utama.
Dan satu bulan ini, ia anggap saja sebagai waktu menemani Lucia beradaptasi dengan kehidupan di Bumi.
"Lucia."
Lucia memeluk boneka domba raksasa dengan satu tangan, sang naga nyaris tertidur berdiri di tempat.
Hari ini ia sangat kelelahan, baru pada panggilan kedua dari Xia Li, ia mengangkat wajah kantuknya.
"Hmm? Hmm?"
"...Kalau aku pergi bekerja, apa yang akan kau lakukan sendirian di rumah?" tanya Xia Li agak cemas.
"Bekerja..." Lucia mengedipkan mata mengantuk, "Kau tak jadi pahlawan lagi?"
"Saat aku kembali ke Bumi, status pahlawanku sudah berakhir," jawab Xia Li pasrah.
Sekarang dunia ini penuh dengan pahlawan, sudah bukan giliran pahlawan yang kehilangan kekuatan sepertinya untuk melindungi.
Lucia berpikir sejenak, "Lalu kau tak melindungi manusia lagi?"
"Aku cukup melindungimu saja," jawab Xia Li tanpa ragu.
Bagaimanapun, Lucia yang sendirian justru kelompok rentan di masyarakat ini. Sebelum masyarakat membahayakannya, atau dia membahayakan masyarakat, Xia Li memang harus mengawasinya.
Xia Li merasa jawabannya tak ada yang salah.
Tapi hening yang tiba-tiba di antara mereka membuat Xia Li tak tahan untuk memikirkan ulang makna ucapannya barusan.
Kenapa makin dipikirkan jadi terasa aneh…
Terutama karena si naga tiba-tiba terdiam, maksudnya apa?
Jadi seolah-olah barusan ia melontarkan kata-kata romantis norak.
Lucia, ucapkan sesuatu lah!
Xia Li melirik Lucia, pandangannya tertuju pada wajah cantik gadis itu.
Lucia mencubit pegangan bus di tangannya, membalikkan badan sedikit, memperlihatkan belakang kepalanya pada Xia Li.
Kenapa kau, seekor naga, bisa-bisanya jadi malu begini?
Xia Li sendiri jadi ikut tak enak hati.
Bukankah seharusnya topik kembali ke pertanyaan sebelumnya, jawablah apa rencanamu sendirian di rumah?
Xia Li menarik napas, memilih diam dan menatap tajam ke luar jendela.
Di antara mereka kini terpisah boneka domba besar. Mereka berdua seperti dua daun kecil terapung yang terombang-ambing bersama laju bus.
Beberapa halte pun terlewati.
Kendaraan memasuki kawasan ramai kota, di waktu seperti ini banyak pasangan muda yang keluar berkencan.
Mereka saling bergandengan tangan, si pria memegang pegangan plastik di atas, si wanita memegang tangan prianya, bercanda dan tertawa, kadang sang wanita malu-malu menyandarkan diri ke dada pasangannya.
Mata Lucia perlahan mengintip dari balik boneka domba berbulu, seperti mata siput, diam-diam mengamati situasi di luar.
Pasangan bergandengan tangan seperti itu pernah ia lihat beberapa kali saat ke mal.
Juga di kebun binatang hari ini.
Pria-pria itu akan menggenggam tangan wanita, seolah tangan mereka punya sihir yang membuatnya lengket, ke mana pun pergi tetap bersatu.
Sedangkan dirinya dan Xia Li…
Lucia teringat, Xia Li jarang sekali menggenggam tangannya seperti itu.
Kecuali saat menyeberang jalan, Xia Li akan menuntunnya sebentar, selebihnya mereka berjalan sendiri-sendiri.
Lucia tak tahu apa sebenarnya hubungan antara dirinya dan Xia Li, apa bedanya dengan pasangan pria-wanita itu.
Tapi dari suasana bicara, gerak tubuh, dan perasaan di mata mereka, pasti ada perbedaan besar.
"Kenapa di sini semua pasangan?"
Xia Li pun menyadari Lucia tengah memperhatikan pasangan muda di sebelah mereka.
Keduanya cukup ramai, sejak naik bus sudah membahas adegan film yang baru mereka tonton.
Xia Li merasa gerah, ia menggeser tubuh untuk membuka jendela sedikit.
"Pasangan?"
Lucia masih mencari istilah hubungan itu di kepalanya. Menurutnya, mereka seperti pasangan suami-istri, tapi rasanya ada yang kurang.
Oh, jadi namanya pasangan!
Meski belum paham benar pembagian hubungan dalam masyarakat manusia, Lucia tahu, pasangan kira-kira berarti hubungan yang lebih baik dari sekedar teman.
"Lalu kita apa? Kita ini apa?" tanya Lucia penuh semangat pada Xia Li.
"Kita jelas murni berteman," jawab Xia Li tegas.
Sambil berbicara, ia menarik kerah bajunya, berusaha menyejukkan diri.
Kenapa tiap kali Lucia buka mulut, ia jadi merasa gerah sampai berkeringat?
Lucu juga, aku penuh integritas, mana mungkin merasa bersalah.
Namun saat menatap mata Lucia yang penuh harap, Xia Li bahkan merasa tenggorokannya tercekat.
Tidak…
Ada yang tidak beres.
Dulu ia menganggap wajar, ketika terjadi kontak fisik atau saat diberi permen oleh si naga, Xia Li merasa gugup hanya karena Lucia berwujud gadis cantik.
Sebagai pria dua puluh tahunan yang sehat, menghadapi gadis sejujur dan semanis itu, muncul perasaan aneh adalah hal wajar.
Selama ini ia selalu menganggap tindakan polos Lucia dan kedekatan mereka hanya sebagai ujian persahabatan.
Soal itu, Xia Li yakin dirinya pasti mampu bertahan.
Tapi kini, ia tiba-tiba sadar, tantangan di hadapannya bagaikan gunung besar.
Boro-boro menghadapi cobaan bersama Lucia, Lucia sendiri kini bagaikan bos terakhir yang harus dihadapi!
"Mana yang lebih hebat, persahabatan murni atau pasangan?"
Lucia tampak tak puas dengan jawaban Xia Li, jiwa kompetitif naga memang kuat.
"Persahabatan murni jauh lebih hebat," jawab Xia Li.
Bagaimanapun, pria dan wanita hidup serumah tanpa hubungan cinta, menjaga persahabatan jangka panjang lebih sulit seratus kali daripada jadi pasangan kekasih.
Tapi, benarkah pria dan wanita bisa berteman murni?
Xia Li mulai ragu dalam hati.
"Xia Li, tadi mereka... mulut... mulut mereka..."
Lucia jelas-jelas melihat wanita itu berjinjit dan menyentuh bibir pria itu.
Naga muda yang baru dewasa mana pernah melihat hal seperti itu, mata Lucia yang mengintip dari balik boneka domba berbulu, lurus menatap adegan itu.
"Jangan lihat," gerutu Xia Li, segera bergerak menutupi Lucia dengan tubuhnya yang besar.
"Itu sedang mengunyah ulang makanan."