Bab 57: Sebilah Pisau

Dewa Perang Nomor Satu Juara ujian tidak mengenal huruf 2321kata 2026-03-05 01:02:31

“Apa maksudnya?” Mata Ye Feng tiba-tiba menyipit. “Jangan-jangan, Kakek mengira koin kuno itu bersembunyi sendiri?”

Kakek Yanfu hanya tersenyum dan tidak membahasnya lebih jauh. Jika diteruskan, pembicaraan itu bisa saja berujung pada hal-hal di luar nalar. Setelah menceritakan seluruh kejadian di Laut Malapetaka kepada Yanfu, beban pikiran Ye Feng justru terasa terangkat. Ia merasa jauh lebih ringan.

Peristiwa itu sangat istimewa baginya. Karena bersifat rahasia, Ye Feng tidak bisa membicarakannya kepada siapa pun, bahkan kepada saudara-saudara seperjuangannya di dalam organisasi, ia tetap harus merahasiakan semuanya. Memendam rahasia seperti itu sungguh menyiksa. Namun hari ini, ia telah menceritakannya kepada orang yang paling ia percaya sehingga hatinya terasa lega.

Walaupun cerita itu tak membantu menyembuhkan luka dalam dirinya, Ye Feng tetap merasa tenang dan plong. Yanfu lalu berdiri, hendak membawa bubur dan tulang daging yang tersisa untuk memberi makan Si Hitam, sedangkan Ye Feng mulai membereskan peralatan makan. “Kakek, apakah aku masih harus berendam dalam mandi seratus racun?”

“Tentu. Teruskan sampai semua ramuan yang kakek siapkan habis. Cara ini memang tidak bisa menyembuhkan lukamu sepenuhnya, tapi bisa memaksa aura misterius di tubuhmu masuk ke dalam dantian. Itu tetap memberi manfaat bagimu,” jawab Yanfu.

Ye Feng mengangguk. Kali ini, ia tak lagi keberatan dengan mandi seratus racun, karena ia tahu manfaatnya sangat besar. Meski belum bisa menggunakan tenaga dalam, setidaknya ia tak perlu khawatir lagi bahwa dalam enam bulan ke depan, aliran misterius itu akan menghancurkan seluruh meridian tubuhnya dan melukai organ dalam hingga berujung kematian.

Lebih dari seminggu berikutnya, Ye Feng tidak ke mana-mana. Setiap hari ia berendam dalam ramuan, tidak peduli pada urusan luar, bahkan ponselnya pun dimatikan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dalam waktu singkat itu, Grup Liu dan Cangfeng mengalami guncangan dahsyat, bahkan sudah berada di ujung tanduk.

Pagi itu, seperti biasa, setelah mandi ramuan racun dan membersihkan diri, Ye Feng duduk sarapan bersama Yanfu. Di saat itulah, Yang Xu masuk ke halaman. Si Hitam, melihat kedatangannya, menyalak dua kali lalu mengibaskan ekornya, seolah-olah sangat senang menyambutnya.

Yang Xu, meski selalu menjaga jarak dengan manusia, justru sangat bersahabat dengan anjing. “Kenapa kau datang ke sini?”

Melihat Yang Xu muncul, firasat buruk langsung menghampiri hati Ye Feng. Walau mereka belum lama saling kenal dan jarang berinteraksi, Ye Feng sangat memahami karakter orang ini. Jika bukan karena urusan penting, Yang Xu takkan datang menemuinya.

Alih-alih menjawab, Yang Xu memusatkan perhatian kepada Yanfu dan menundukkan kepala dengan hormat. Yanfu tersenyum tipis. “Sudah makan? Mau sarapan bersama kami?”

“Sudah,” jawab Yang Xu singkat.

Yanfu kembali tersenyum. “Kau tetap seperti dulu, pendiam sekali. Soal adikmu itu, aku masih membantu penyelidikan, tapi kau tahu sendiri, ini sangat sulit.”

“Terima kasih,” ucap Yang Xu.

“Adiknya?” Ye Feng memandang Yanfu dengan terkejut. “Kakek, kau bilang Yang Xu punya adik? Sebenarnya ada apa? Apa hubungan kalian berdua?”

“Tak usah tanya yang bukan urusanmu,” Yanfu melotot, “Kerjakan saja tugasmu.”

Setelah berkata begitu, Yanfu tak mempedulikan lagi Ye Feng dan Yang Xu, memilih sibuk dengan urusannya sendiri.

Ye Feng memang bukan orang yang terlalu ingin tahu. Jika Yanfu dan Yang Xu tak mau membicarakan hubungan mereka, ia pun tak berniat memaksa. Ia lalu mendekati Yang Xu. “Ada masalah?”

Yang Xu mengangguk.

“Apa keluarga Zhang sudah mulai bergerak?” tanya Ye Feng. “Sejak kapan?”

“Lima hari yang lalu.”

Setelah itu, Yang Xu tak bicara lagi dan langsung berjalan keluar halaman. Ye Feng tak banyak bertanya, hanya mengikuti dari belakang. Di luar sudah terparkir sebuah motor. Yang Xu membawanya dengan laju kencang menuju kawasan selatan.

Namun tujuan mereka bukanlah Jinhuang, melainkan gedung utama Grup Cangfeng.

Kondisi gedung Cangfeng saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Aura optimisme yang dulu terasa, kini hilang digantikan suasana muram. Sepanjang perjalanan masuk, Ye Feng melihat banyak wajah kehilangan semangat. Beberapa terdengar membicarakan soal pindah kerja atau resign. Semua terasa begitu genting, seolah badai besar akan segera menimpa.

Namun Ye Feng tak terlalu terguncang melihat reaksi para karyawan. Dalam dunia ini, banyak orang mau berbagi kemakmuran, tapi yang benar-benar mau bertahan di masa sulit sangatlah langka. Begitulah sifat manusia.

Yang Xu sendiri tak berniat naik ke atas bersama Ye Feng. Ia datang hanya karena tak bisa menghubungi Ye Feng lewat telepon, sementara Lian Yunhao dan yang lain tak tahu keberadaannya. Karena itulah ia mendatangi rumah empat serambi. Urusan lain, seolah tak ada kaitan dengannya.

Namun, saat hendak pergi, Ye Feng menahan pergelangan tangannya. “Sekarang kau sudah jadi orangku. Aku sedang terluka, banyak urusan tak bisa kutangani sendiri. Mulai sekarang, aku butuh kau di sisiku.”

“Pengawal?”

“Bukan, kau adalah sebilah pisau. Ke mana pun kutunjuk, kau harus menebas ke sana.”

Selesai bicara, Ye Feng langsung masuk ke lift. Wajah Yang Xu tetap dingin dan tanpa ekspresi, tapi ia melangkah mengikuti Ye Feng dari belakang.

Mereka masuk ke kantor Lian Yunhao. Di sana, Lian Yunhao sudah menunggu. Selain dia, ada juga Duan Fei, namun Liu Dong tidak tampak.

Melihat Ye Feng masuk, Lian Yunhao dan Duan Fei langsung berdiri tegak dan menyapa, “Kakak Feng!” Duan Fei, saat melihat Yang Xu di belakang Ye Feng, seketika tubuhnya menegang dan rona cemas muncul di wajahnya, bahkan ada sedikit rasa takut.

Perubahan halus itu tertangkap oleh Ye Feng. Ia berkata, “Tak perlu tegang. Yang Xu sekarang sudah di pihak kita. Soal masa lalu, aku harap kau bisa melupakannya.”

Duan Fei buru-buru mengangguk. “Saya mengerti, Kak Feng.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Lukamu sudah membaik?”

“Tulangku sudah dipasangi pen dan penyangga. Selama tidak melakukan hal berat, tidak masalah. Terima kasih atas perhatianmu, Kak Feng,” jawab Duan Fei cepat.

Ye Feng lalu duduk di kursi ketua dewan, sementara Yang Xu berjalan ke sudut paling gelap di ruangan itu.