Bab 40: Pemberontakan
Pikiran Zhang Chao seolah tersambar petir, mendadak kosong melompong, butuh beberapa detik sebelum ia sadar kembali.
“Wang Tianlong, kau pengkhianat!” maki Zhang Chao, refleks hendak bangkit dari lantai. Namun, dua anak buah Wang Tianlong sudah lebih dulu menekannya kuat-kuat ke lantai.
Zhang Chao berusaha keras melepaskan diri, namun semuanya sia-sia. Saat itu, Wang Tianlong telah menerima tongkat bisbol dari salah satu anak buahnya, lalu mengarahkannya kepada Zhang Chao seraya berkata, “Tahan saja, sebentar lagi juga selesai.”
“Wang Tianlong, jangan macam-macam! Ayahku itu Zhang Xiong!”
“Biarpun ayahmu Kaisar Langit, tetap tak ada gunanya.”
Wang Tianlong tak peduli sama sekali. Kedua anak buahnya sudah memposisikan Zhang Chao dengan tepat, sementara tongkat bisbol di tangannya membidik tempurung lutut Zhang Chao.
Saat ini, Zhang Chao benar-benar panik. Ia sadar betul situasi ini bukan main-main. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat, bahkan celananya basah kuyup karena ketakutan.
“Bang Feng, ampun, Bang Feng! Aku salah, aku tak berani lagi, kumohon lepaskan aku!”
Dalam ketakutan yang membuatnya hampir kehilangan kendali, Zhang Chao langsung memohon ampun. Sementara itu, Ye Feng tetap memainkan koin kuno di tangannya, lalu berkata, “Zhang Chao, barusan sudah kuberikan kesempatan memilih, mau kaki kiri atau kanan. Tapi kau tak mengambil kesempatan itu. Jadi, sayang sekali, seumur hidupmu jangan harap bisa berdiri lagi.”
“Selain itu…”
Di titik ini, tatapan Ye Feng mendadak menjadi amat tajam. Aura di tubuhnya pun berubah dingin mencekam, seolah seluruh suhu udara di ruang tamu itu turun drastis. “Dengar baik-baik, jika aku mendengar lagi nama Xue Ziwei keluar dari mulutmu, nyawamu jadi taruhannya.”
Ye Feng adalah seseorang yang berprinsip dan punya batasan. Biasanya, jika ada orang kerdil yang menghina, meremehkan, atau mempermalukannya di depan umum, ia hanya menanggapinya dengan senyum. Karena singa takkan memperdulikan semut.
Namun, Xue Ziwei adalah satu-satunya hal yang tak bisa ditolerir. Siapa pun yang berani berniat buruk pada Xue Ziwei, Ye Feng pasti takkan membiarkannya begitu saja.
Zhang Chao menangis, bukan karena sakit, melainkan karena benar-benar ketakutan oleh Ye Feng. Tapi, menangis pun tak ada gunanya.
Wang Tianlong dikenal kejam. Ia menghantamkan tongkat bisbol ke tempurung lutut Zhang Chao dengan sekuat tenaga. Suara tulang remuk terdengar jelas, dan jeritan kesakitan Zhang Chao menggema memenuhi ruang tamu.
“Tutup mulut!” hardik Wang Tianlong, lalu tanpa ragu memukul mulut Zhang Chao. Semua giginya rontok seketika, wajah Zhang Chao dipenuhi derita dan keputusasaan, darah terus mengalir dari mulutnya. Saat Wang Tianlong menghantam lutut satunya lagi, mata Zhang Chao langsung terbalik, dan ia pingsan.
Wang Tianlong memerintahkan anak buahnya untuk menyeret tubuh pingsan Zhang Chao keluar. Setelah itu, ia menyerahkan tongkat bisbol pada anak buah lain, lalu berbalik menatap Liu Dong dan Ye Feng. “Sudah beres. Ada lagi perintah, Bos?”
Ye Feng mengibaskan tangan. Wang Tianlong, yang sangat peka membaca situasi, segera membawa anak buahnya pergi bersama Zhang Chao.
Liu Dong langsung berlari ke kamar mandi mengambil alat pel, lalu membersihkan ruang tamu Ye Feng hingga bersih. Setelah selesai, ia berdiri rapi di hadapan Ye Feng.
“Duduklah,” ujar Ye Feng, menunjuk sofa di sampingnya. Liu Dong segera duduk.
“Bang Feng, kenapa tak memilih tinggal di vila? Kenapa memilih tempat ini?” tanya Liu Dong sambil mengamati sekeliling, bingung.
“Apa tempat ini buruk?” Ye Feng balik bertanya.
“Err…” Liu Dong sedikit canggung, tak tahu harus menjawab apa. Tentu saja menurutnya tempat ini tak sepadan dengan status Ye Feng. Namun, jika ia bilang tempatnya buruk, bukankah itu menyinggung Ye Feng?
“Aku hanya ingin dekat dengan Ziwei,” jelas Ye Feng tanpa membuat Liu Dong semakin tak enak. “Selain itu, aku juga tak suka tempat yang terlalu luas. Tapi Lian Yunhao bilang dalam waktu dekat akan mencarikan vila untukku di Bukit Wangyue. Kalau ibu dan anak Ziwei mau tinggal di sana, aku juga akan ikut pindah.”
“Aku benar-benar iri pada hubunganmu dengan Suster,” Liu Dong berucap dengan tulus.
“Sudah, jangan banyak bicara.” Ye Feng bangkit dan berjalan ke jendela, memperhatikan dari atas ketika Wang Tianlong dan anak buahnya menyeret Zhang Chao yang pingsan ke dalam mobil off-road. Ia lalu berkata, “Bagaimana menurutmu tentang Wang Tianlong itu?”
“Itu hanya langkah sementara,” jawab Liu Dong. “Saat ini, keluarga Liu baru saja menguasai wilayah utara, pondasinya belum kuat. Jadi, butuh sosok penguasa lokal sebagai boneka. Wang Tianlong adalah pilihan paling tepat.”
Ye Feng menatap mobil Wang Tianlong yang perlahan menjauh, lalu berkata, “Keluarga Zhang sebelumnya bersekutu dengan Xiang Zhong, hubungan mereka tak perlu diragukan. Bahkan Wang Tianlong dan yang lain dulu juga anak buah keluarga Zhang. Tapi hari ini, orang itu bertindak sangat kejam, mematahkan kaki mantan tuannya tanpa ragu sedikit pun. Kalau dugaanku benar, tempurung lutut Zhang Chao benar-benar hancur, sudah tak mungkin berdiri lagi.”
“Bang Feng, maksudmu…?”
Ye Feng menoleh, menatap Liu Dong dengan senyum samar. “Wang Tianlong itu orang yang punya niat memberontak.”
...
Di vila keluarga Zhang di wilayah utara, sebuah mobil off-road hitam melaju kencang lewat depan gerbang. Zhang Chao yang kakinya telah dipatahkan, dilempar keluar dari mobil. Satpam yang bertugas segera melapor kepada Zhang Xiong.
Ketika melihat putranya yang kedua kakinya remuk dan rahangnya hancur, Zhang Xiong yang selama ini terkenal tenang dan matang, langsung murka luar biasa. Ia segera membawa Zhang Chao ke rumah sakit, lalu mengutus orang untuk menyelidiki. Akhirnya ia tahu bahwa insiden yang menimpa putranya itu berkaitan dengan Wang Tianlong dan keluarga Liu.
Di ranjang rumah sakit, Zhang Chao baru saja selesai operasi. Dokter memberi tahu Zhang Xiong bahwa tempurung lutut kedua kakinya sudah hancur total, kemungkinan harus diamputasi.
Mendengar kabar itu, Zhang Xiong seketika tampak jauh lebih tua, seluruh tubuhnya gemetar.
“Ayah, tolong… tolong aku… aku tak mau… kaki dipotong…” ujar Zhang Chao dengan suara bergetar, nafas tersengal, kata-katanya terputus-putus karena ketakutan dan emosi.
Zhang Xiong menarik napas dalam-dalam, menatap putranya yang terbaring di ranjang, urat di dahinya tampak menonjol satu per satu. “Istirahatlah baik-baik. Dendam ini, pasti akan kubalaskan.”
Selesai berkata, Zhang Xiong memanggil seorang pria berbaju hitam yang berjaga di luar kamar. “Aku tak peduli dengan caranya, berapa pun biayanya, semua orang yang terlibat dalam kejadian ini—ingat, semua orang—aku ingin mereka mati.”
“Baik, Tuan,” jawab pria berbaju hitam, lalu keluar.
Namun, belum lama pria itu pergi, sebuah telepon masuk. Melihat siapa yang menelepon, Zhang Xiong langsung tegang. Ia buru-buru keluar dari kamar, mencari tempat sepi, lalu menekan tombol untuk menerima panggilan itu.
“Tuan Muda!”