Bab 46: Keluarga Ling Berutang Budi Padamu
Pada saat itu, Ye Feng sudah membawa Xue Hai menuju ke taman. Ketika Ling Jiuzhou dan yang lainnya yang hendak kembali ke ruang rawat melihat mereka, langkah mereka terhenti dan perhatian mereka tertuju pada Ye Feng dan Xue Hai.
“Kau datang lagi?” Ling Tianya langsung membuka suara, menatap Ye Feng dengan pandangan meremehkan, “Apa, uangmu sudah habis secepat itu? Jangan-jangan kau datang lagi untuk meminta uang dari kami? Uang kami memang banyak, tapi keluarga Ling tidak lagi berutang padamu. Kalau kalian memang menginginkannya, lihat saja apakah kalian punya nyali.”
Ye Feng sama sekali tidak memedulikan Ling Tianya. Ia menyerahkan koper berisi satu juta itu ke tangan Xue Hai dan, dengan suara berat, berkata, “Kau sendiri tahu harus bagaimana. Kalau kau berani macam-macam, kau tahu akibatnya.”
Wajah Xue Hai tampak penuh penderitaan. Meski ia sangat tidak rela, ia hanya bisa menurut. Dengan membawa koper itu, ia berjalan ke arah Ling Yuanting dan berkata, “Tuan Ling, maafkan aku. Aku memang brengsek, aku telah menipu kalian. Uang ini bukan disuruh menantuku untuk kuambil, aku hanya tergoda oleh nafsu sesaat. Sekarang uangnya kukembalikan.”
Ling Tianya dan Ling Yuange yang berada di sana tampak tertegun, sedangkan Ling Jiuzhou memandang kejadian itu dengan tatapan tenang.
“Ye Feng, apa lagi yang ingin kau lakukan?” tanya Ling Yuange curiga.
“Tutup mulut, Tianya,” potong Ling Jiuzhou.
Atas isyarat Ling Yuange, Ling Jiuzhou mendorong kursi rodanya perlahan mendekati Ye Feng. Saat itu, Ling Yuanting, yang biasanya tampak muram, tiba-tiba memperlihatkan senyum lega.
Ia menatap Ye Feng dari atas ke bawah, mengangguk berkali-kali lalu berkata, “Anak muda, aku tahu kau bukan orang seperti itu. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku tempo hari.”
“Itu hanya kebetulan,” jawab Ye Feng.
Di hadapan tokoh sebesar Ling Yuanting, Ye Feng sama sekali tidak memperlihatkan sikap rendah diri. Sesungguhnya, dengan status seperti Ye Feng, apalah arti para tokoh besar Kota Qing dibanding dirinya. Bahkan para taipan atau pejabat tinggi negara pun harus bersikap sopan di hadapannya. Sebenarnya, Ye Feng-lah tokoh besar yang sesungguhnya.
“Aku tadinya ingin mengucapkan terima kasih setelah keluar dari rumah sakit, tak kusangka kau malah datang sendiri ke sini,” ujar Ling Yuanting. “Daripada menunda-nunda, bagaimana kalau nanti kita pergi makan bersama di luar? Aku, Ling tua, ingin mengangkat segelas untuk membalas budi atas pertolonganmu. Sudi kiranya kau terima undanganku?”
“Tidak perlu, aku masih ada urusan,” Ye Feng menolak tawaran baik Ling Yuanting secara langsung.
Ling Tianya seketika merasa tidak senang. Ia menatap Ye Feng tajam, lalu berkata, “Kakekku mengundangmu makan itu sebuah kehormatan. Tahukah kau, di Kota Qing ini, berapa banyak pejabat dan pengusaha yang berebut ingin sekadar berbicara dengan kakekku? Jangan tidak tahu diri.”
“Begitukah?” Ye Feng balik bertanya, “Apa urusannya denganku?”
Usai berkata demikian, Ye Feng memberi salam singkat pada Ling Yuanting. “Permisi.”
Ling Tianya yang kesal hendak mengejar, tetapi Ling Jiuzhou yang dari tadi diam segera menahan. Saat Ye Feng dan Xue Hai melangkah keluar dari taman, Ling Jiuzhou berkata, “Saudara, kalau di Kota Qing kau menemui kesulitan, sebut saja namaku, Ling Jiuzhou. Keluarga Ling berutang budi padamu.”
Ye Feng tidak menjawab, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Ia membawa Xue Hai pergi meninggalkan rumah sakit.
“Orang macam apa itu, sok sekali,” ujar Ling Tianya kesal, menendang koper berisi uang dengan kuat. “Kakek, pasti Ye Feng merasa satu juta terlalu sedikit.”
“Tutup mulut!” hardik Ling Jiuzhou pada Ling Tianya. Ia lalu menoleh pada Ling Yuanting, “Ayah, aku sudah menyelidiki latar belakang Ye Feng. Beberapa tahun lalu dia memang tidak tinggal di Kota Qing, baru belakangan ini kembali. Sekarang dia mengendalikan Liu Group dan Zangfeng Group di wilayah selatan. Ia juga sedang bersaing dengan keluarga Zhang untuk proyek kerja sama pengembangan Wanlong Group di kota baru.”
“Oh?” Ling Yuanting tampak terkejut mengetahui latar belakang Ye Feng. Meski Liu Group dan Zangfeng Group tak terlalu berarti baginya, namun di usia semuda itu Ye Feng sudah bisa memiliki fondasi sehebat ini, sungguh mengherankan.
Ling Tianya yang di sampingnya juga ternganga, seolah tak percaya. Ia buru-buru berkata, “Ayah, apa kau tidak salah? Bagaimana mungkin Ye Feng sehebat itu? Tadi saja aku lihat dia berjualan di pinggir jalan.”
Namun Ling Jiuzhou tidak menanggapi Ling Tianya. Ia melanjutkan pada Ling Yuanting, “Latar belakang Ye Feng sangat misterius. Selain yang tadi kusebutkan, aku merasa dia punya identitas lain. Tapi aku benar-benar tidak bisa melacak apa saja yang dia lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya. Perasaanku mengatakan, dia sedang merencanakan sesuatu.”
Ling Yuanting mengangguk pelan, lalu berkata, “Penyebab kebakaran di rumah kita, sudah jelas?”
“Itu karena kabel yang sudah tua, terbakar sendiri,” jawab Ling Jiuzhou. “Aku sudah memanggil teknisi profesional untuk menganalisa, tidak ada bekas sabotase. Tapi hal seperti ini tidak bisa dianggap sepele, aku akan menyelidikinya lebih jauh sampai benar-benar tuntas.”
“Baik,” Ling Yuanting tidak bertanya lagi, meski sorot matanya tampak rumit.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Ye Feng tak lagi memperdulikan Xue Hai. Ia langsung memanggil taksi untuk pulang. Namun Xue Hai buru-buru menariknya dan berkata, “Menantu, aku sudah kembalikan uangnya, jangan tinggalkan aku begitu saja.”
“Kau lagi mau cari masalah apa?” Ye Feng menatap Xue Hai dengan wajah gelap dan berkata dengan garang, “Xue Hai, uang dua puluh juta lebih yang kau kalah malam ini, demi Ziwey aku tak permasalahkan. Tapi lebih baik kau jangan berkali-kali menantang batas kesabaranku.”
“Menantu, tolonglah aku sekali lagi. Pinjami aku dua puluh juta saja, bagaimana?”
“Pergi!” tanpa basa-basi, Ye Feng menendang perut Xue Hai dengan keras. Seperti sebelumnya, Xue Hai langsung berguling di tanah sambil merintih, “Menantu, kau harus menolongku. Aku berutang banyak pada Wang Tianhu dari wilayah utara. Malam ini batas akhirnya. Jika aku tidak bisa membayar, dia akan membunuhku.”
Xue Hai meraung-raung di tanah, mengerahkan seluruh tenaganya demi belas kasihan. Namun setelah sekian lama tak juga digubris, tiba-tiba ia berhenti. Barulah ia sadar, sejak tadi Ye Feng sudah pergi. Tidak ada lagi bayangan Ye Feng di hadapannya.
“Dasar bajingan, nanti pulang akan kuceritakan semua pada Ziwei. Jangan harap bisa menikahi anakku!”
Sambil bangkit dari tanah, Xue Hai melontarkan segala macam sumpah serapah untuk delapan belas generasi leluhur Ye Feng. Saat itu, sebuah mobil Jinbei melaju kencang dari belakang dan berhenti tepat di depannya.
Kaca jendela penumpang mobil itu terbuka. Seorang pria berparut dengan rantai emas besar menjulur keluar, menatap Xue Hai dengan garang dan berkata, “Bajingan, seharian aku mencarimu, akhirnya dapat juga kau!”