Bab 43: Orang Munafik
Kawasan lama di Selatan Kota, seperti biasa, Ye Feng kerap datang ke sini bersama Xue Ziwei untuk berjualan di kaki lima saat tidak ada urusan penting. Namun, beberapa hari belakangan suasana terasa tidak harmonis karena kini mereka ditemani oleh seseorang yang menjadi pengganggu, yaitu Wang Dandan.
Setelah lulus kuliah, Wang Dandan sempat magang di Yanjing, tetapi dia tidak tahan menghadapi kesulitan dan akhirnya kembali ke Kota Qing karena tidak juga mendapatkan pekerjaan yang cocok. Sepulangnya, dia pun tidak benar-benar mencari pekerjaan dengan serius; awalnya ia hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya menikah dengan pria kaya, lalu setelah sosok Pahlawan Tanpa Nama menjadi terkenal di dunia maya, ia malah setiap hari membicarakan tentang ingin mencari pahlawan itu.
Intinya, sejak lulus kuliah, Wang Dandan menjalani hari-harinya tanpa arah yang jelas.
“Ziwei, menurutmu seberapa banyak sih yang bisa kamu dapatkan dengan jualan di sini setiap hari? Harus menonjolkan diri, capek dan lelah, padahal kamu itu ibarat dewi, mana pantas setiap hari kerja beginian?” Wang Dandan tidak pernah berhenti meremehkan pekerjaan Xue Ziwei sebagai pedagang kaki lima. Dalam pikirannya, pekerjaan seperti itu hina, tidak layak dilakukan oleh seseorang seperti Xue Ziwei.
“Aku mencari uang dengan tanganku sendiri, apa salahnya?” jawab Xue Ziwei.
“Dengan keadaanmu, mencari pacar kaya pun lebih dari cukup, kenapa harus menanggung penderitaan seperti ini?”
Wang Dandan tampak tak puas, lalu melirik Ye Feng dengan sinis, “Ye Feng, kamu itu tebal muka sekali, kenapa sih harus terus menempel pada Ziwei? Tidak tahu malu, ya?”
Ye Feng tidak menghiraukan Wang Dandan, bahkan ia malas meliriknya barang sejenak.
“Kamu sok banget, aku lagi bicara sama kamu!” Wang Dandan kesal karena diabaikan, “Kamu itu miskin, melihat Ziwei capek begini tidak kasihan? Kalau benar suka sama dia, harusnya kamu mundur!”
“Diamlah, Wang Dandan,” Xue Ziwei akhirnya marah. Hubungan antara dirinya dan Ye Feng, mana ada orang lain yang bisa mengerti, apalagi Wang Dandan yang seperti itu.
“Apa aku salah bicara?” Wang Dandan bersikeras. “Ziwei, kamu itu bodoh sekali, sudah ada Zhang Chao yang jauh lebih baik, kenapa malah bunga jatuh ke tumpukan kotoran sapi?”
“Kubilang diam!” Xue Ziwei berkata tegas. “Kalau kamu tidak ada kerjaan, lebih baik cari pekerjaan saja. Jangan setiap hari datang ke sini bikin kacau.”
“Huh, Xue Ziwei, kamu sudah mulai tak suka aku? Masih anggap aku sahabatmu, tidak?”
“Kalau kamu benar-benar anggap aku sahabat, jangan lagi serang Ye Feng. Kalau kamu menyakiti dia, sama saja menyakiti aku,” ujar Xue Ziwei.
Wajah Wang Dandan tampak sangat kesal, lalu ia lagi-lagi menatap Ye Feng dengan tajam. “Ini semua salah kamu yang miskin! Dulu sebelum kamu ada, kita tidak pernah bertengkar seperti sekarang.”
Ye Feng merasa tak berdaya, benar-benar seperti korban tanpa sebab. Semua ini jelas ulah Wang Dandan sendiri, kenapa malah menyalahkannya?
Tiba-tiba Wang Dandan seperti teringat sesuatu, ia memandangi Ye Feng dengan penuh selidik, “Ye Feng, dua hari ini, kamu tidak mengalami sesuatu, kan?”
“Apa maksudmu?” Ye Feng balik bertanya, sudah menduga pasti ini ada hubungannya dengan Zhang Chao. Ia tahu betul kalau Zhang Chao datang mencari masalah dengannya, pasti ada campur tangan Wang Dandan.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” Wang Dandan buru-buru menggeleng. Dalam hatinya penuh tanda tanya. Ia sudah bertahun-tahun kuliah bersama Zhang Chao dan mengenal betul tabiat pria itu. Secara logika, Zhang Chao pasti sudah lama mencari Ye Feng untuk dihabisi, tapi sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Bahkan dua hari ini, Wang Dandan berkali-kali menelepon Zhang Chao, tapi tak pernah tersambung.
Saat itu, sekelompok anak muda mendekat hendak membeli baju. Xue Ziwei dan Ye Feng pun langsung sibuk melayani. Wang Dandan yang makin jengkel melihat itu, akhirnya tidak mau berlama-lama di sana. “Aku pergi dulu. Bulan depan kita ada reuni kelas, Ziwei, kamu harus datang sama aku. Kamu kan bunga kelas kita.”
Sebelum pergi, Wang Dandan menambahkan, “Ye Feng, kamu memang sekelas sama kita, tapi sebaiknya jangan ikut. Lihat saja penampilanmu yang miskin begitu, kalau kamu datang paling cuma bikin malu diri sendiri. Aku dan Ziwei tidak bisa menahan malu karena kamu.”
Xue Ziwei dan Ye Feng yang sedang sibuk pun tak menghiraukan Wang Dandan, membuatnya makin kesal hingga menghentakkan kaki, lalu pergi dengan wajah murung seperti istri muda yang sedang kesal.
Kelompok anak muda tadi menghabiskan seluruh stok baju yang dibawa Xue Ziwei hari itu. Karena hari masih sore, Xue Ziwei berencana pulang untuk mengambil barang lagi dan meneruskan jualan.
Ye Feng menawarkan diri untuk membantu mengambil barang, tapi Xue Ziwei menolak karena hanya dia yang tahu jenis baju mana yang laku dan sebaiknya dibawa.
Setelah Xue Ziwei pergi, Ye Feng pun sendirian menjaga dagangan. Ia tidak seperti Xue Ziwei yang pandai menarik pembeli, apalagi sebagai pria yang berdiri sendirian, penampilannya kurang ramah sehingga tidak ada lagi pelanggan yang datang.
Saat Ye Feng iseng memainkan ponselnya untuk mengisi waktu, tiba-tiba sebuah mobil sport Ferrari merah berhenti di seberang jalan. Dari dalam mobil turun Ling Tianya yang tinggi semampai dan menawan, lalu langsung berjalan ke arah Ye Feng.
“Sudah punya sejuta, masih juga jualan di sini? Sungguh palsu sekali dirimu,” sindir Ling Tianya tanpa basa-basi. “Apa kau ingin meninggalkan kesan rajin dan pekerja keras di depan tunanganmu?”
Ye Feng memang tidak pernah punya kesan baik terhadap gadis kaya semacam Ling Tianya, ia pun berkata dengan nada muak, “Kamu datang lagi ke sini, ada urusan apa?”
“Kawasan ini milik keluargamu? Aku tidak boleh datang?”
“Maksudmu tentang sejuta itu apa?” Ye Feng merasa bingung. “Aku sudah bilang, keluargamu tidak berutang apa pun padaku.”
“Kamu benar, keluarga Ling memang tidak berutang apa-apa lagi padamu.” Ling Tianya melepas kacamata hitamnya, menatap Ye Feng dengan pandangan menghina, “Memang kamu itu tidak tahu malu.”
Ye Feng mengerutkan kening. “Bicara saja yang jelas, jangan main teka-teki. Kalau kamu datang ke sini cuma untuk merasa diri lebih baik, mending pergi saja, jangan ganggu aku berjualan.”
Ling Tianya pun mengerutkan alis. “Ye Feng, jangan sok. Kalau kamu memang setegas itu, tidak mungkin minta mertua mencari kakekku untuk meminta uang.”
“Mertuaku?”
“Xue Hai, bukannya begitu?”
Mendengar nama Xue Hai, Ye Feng merasa ada yang tidak beres. Ia menatap Ling Tianya dengan serius. “Kenapa Xue Hai bisa mencari kakekmu?”
“Bukankah kamu yang lebih tahu?” Ling Tianya menatap Ye Feng, sinis. “Aku sendiri yang mau mengantarkan uang, kamu tolak. Malah setelah itu, kamu menyuruh mertuamu ke keluarga kami untuk minta uang. Ye Feng, bagaimana bisa ada orang se-munafik dirimu di dunia ini?”