Bab 41: Pavilun Lingyuan
Setiap kali berbicara lewat telepon dengan Tuan Muda, Zhang Xiong selalu menegangkan sarafnya, tampak sangat gugup. Suara Tuan Muda tidak terdengar jahat, bahkan sebaliknya, sangat merdu dan penuh daya tarik, indah didengar layaknya suara seorang penyanyi. Namun justru suara inilah yang setiap kali membuat Zhang Xiong merasa merinding hingga ke ujung kepala, seolah-olah ia sedang mendengarkan nyanyian maut iblis dari neraka, membuat jiwanya bergetar tanpa henti.
"Aku tidak mengizinkanmu membalas dendam atas putramu."
Begitu kalimat itu terucap, pikiran Zhang Xiong langsung kosong, baru beberapa detik kemudian ia sadar kembali, "Tuan Muda, tapi anak saya sudah dihajar sampai cacat."
"Kau sedang membantahku?" Suara di ujung telepon mendadak berubah dingin.
Zhang Xiong langsung gemetar, buru-buru menjawab, "Saya tidak berani."
"Tidak ada yang boleh membantahku. Jika kau tetap ingin balas dendam, silakan saja coba. Tapi pikirkan dulu, mana yang lebih penting, kedua kaki anakmu atau nyawa seluruh keluargamu?"
Zhang Xiong serasa jatuh ke dalam lubang es. Tuan Muda itu tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Siapa sebenarnya dia, Zhang Xiong sangat paham—jika dia berkata ingin seluruh keluargamu mati, maka itu pasti terjadi.
"Saya mengerti, Tuan Muda."
"Tenang saja, sekalipun mengusir anjing, harus lihat siapa pemiliknya. Tak lama lagi, semua musuhmu akan binasa. Baik itu Zang Feng, keluarga Liu, atau Wang Tianlong dari Wilayah Utara, mereka semua cuma badut. Aku bisa menghabisi mereka hanya dengan satu jari. Tapi ingat, Zhang Xiong, aku membesarkanmu seperti anjing, apa tujuan utamaku?"
Zhang Xiong langsung menegakkan punggungnya, mengangguk-angguk, dan berkata, "Saya mengerti, Tuan Muda."
"Tirukan suara anjing."
"Woof, woof..."
Telepon pun ditutup. Butuh waktu lama hingga rasa takut dalam hati Zhang Xiong mulai pudar. Namun matanya kini dipenuhi kilatan dingin, sebelum akhirnya berubah menjadi kebengisan yang nyata.
...
Di sebuah taman Rumah Sakit Kota Baru, Ling Yuanting yang mengenakan pakaian pasien duduk di atas kursi roda, menatap matahari terbenam di kejauhan dengan penuh renungan.
"Apa yang sedang kakek pikirkan?" tanya Ling Tianya yang berdiri di belakangnya.
"Kau baru saja mencari pemuda yang menyelamatkanku itu?" Ling Yuanting balik bertanya.
Menyebut nama Ye Feng, wajah Ling Tianya langsung memerah oleh amarah. Ia mengangguk, "Benar, aku memang mencarinya. Tapi orang itu sama sekali tidak tahu berterima kasih. Kalau saja ia bukan penyelamat Kakek, pasti sudah kuajari pelajaran yang setimpal."
"Usiamu sudah segini, tapi sifatmu yang meledak-ledak masih saja sulit diubah," kata Ling Yuanting dengan nada pasrah terhadap cucunya. "Kau pasti sudah membuatnya tersinggung, kan? Nanti kalau kakek sudah keluar dari rumah sakit, temani kakek menemui dia dan minta maaflah padanya."
"Hmm, orang itu terlalu sombong, kakek. Aku rasa lebih baik lupakan saja," jawab Ling Tianya dengan kesal.
"Tianya, ingatlah, tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang," desah Ling Yuanting penuh makna. "Ada harga diri seseorang yang tak bisa diukur dengan harta."
Sambil berkata demikian, Ling Yuanting kembali menatap matahari terbenam, lalu berkata, "Ambil contoh pemuda itu, dia adalah orang yang berprinsip!"
Ling Yuanting tanpa ragu memberikan pujian tertinggi untuk Ye Feng. Meski mereka nyaris tak pernah berbicara, ia bisa merasakan kebanggaan dalam diri Ye Feng. Setelah kejadian Ling Tianya menawarkan uang, keyakinannya pun semakin kuat.
Namun Ling Tianya sama sekali tidak setuju dengan pandangan kakeknya. "Kakek, di dunia ini orang yang penuh tipu muslihat jauh lebih banyak."
"Maksudmu?"
"Menurutku dia tahu kita orang kaya, makanya sengaja bersikap sok suci, sebenarnya ia cuma merasa uang yang kita beri kurang." Ling Tianya mendengus. "Manusia memang tak pernah puas, kakek. Kalau besok kita tawarkan dua juta atau lima juta, pasti dia langsung menerimanya."
Logika Ling Tianya memang unik, sampai membuat Ling Yuanting hanya bisa tersenyum pahit.
...
Saat itu juga, dari arah luar taman, dua perawat muda berjalan mendekati mereka dengan wajah penuh semangat. Mereka segera menghampiri Ling Tianya.
"Kamu benar Ling Tianya, kan?"
"Benar, kamu memang Ling Tianya! Nona Ling, bolehkah kita berfoto bersamamu? Kami penggemar beratmu!"
Ling Tianya saat ini berprofesi sebagai aktris, walau belum terkenal, paling banter masuk jajaran bintang kelas tiga. Bukan karena kurang berbakat, melainkan keluarga tidak mengizinkannya terjun ke dunia hiburan. Keluarganya membesarkannya sebagai calon penerus usaha keluarga. Di usia muda, ia masih diperbolehkan bersenang-senang di dunia hiburan, tapi nanti bila sudah dewasa, ia harus pulang mengelola bisnis keluarga.
Namun meski sekadar iseng, Ling Tianya sudah mendapat cukup banyak peran yang mendapat respons positif, sehingga memiliki sekelompok penggemar, termasuk dua perawat di depan matanya.
Dalam kehidupan nyata, Ling Tianya memang terlihat galak, tapi kepada penggemarnya ia tetap ramah. Ia tidak menolak, bahkan dengan senang hati berfoto bersama kedua fans itu.
Setelah foto bersama, kedua perawat itu mengatakan bahwa beberapa rekan mereka di bagian lain juga sangat mengidolakan Ling Tianya, dan bertanya apakah mereka boleh memanggil teman-teman mereka untuk berfoto bersama demi kenang-kenangan.
Ling Tianya tidak ingin terlalu banyak orang mengganggu kakeknya, namun juga tidak ingin mengecewakan para perawat itu. Maka ia memutuskan untuk langsung ke bagian tempat mereka bekerja dan berfoto di sana. Kedua perawat itu pun girang bukan main, ramai-ramai mengantar Ling Tianya ke arah bangsal rawat inap.
Ling Yuanting tetap menatap matahari terbenam di kejauhan. Pria tua yang telah melewati usia enam puluh tahun ini selalu memberi kesan seolah hidupnya penuh pahit getir. Tatapan matanya seakan menyimpan sejuta kisah.
Ling Yuanting sangat kaya dan punya kedudukan tinggi di Kota Qing, namun tampaknya ia sudah lelah dengan segala hiruk-pikuk dunia. Ia lebih menyukai hidup sederhana dan damai, sampai rela meninggalkan vila mewah keluarga demi tinggal di Taman Donghai.
Bahkan, ia benar-benar menolak semua pengawal yang disediakan keluarga. Hanya satu asisten rumah tangga yang bertugas merawatnya. Saat kebakaran terjadi, asisten itu sedang keluar berbelanja, sehingga Ling Yuanting terjebak dalam bahaya. Jika bukan karena kemunculan Ye Feng tepat waktu, mungkin Ling Yuanting kini sudah tak bernyawa.
Di saat yang sama, dari sudut lain taman, seseorang tengah mengendap-endap mengawasi mereka, tampak seperti pencuri yang gentar.
Ling Yuanting pun mengalihkan pandangannya dari matahari terbenam dan menoleh pada sosok itu. "Jangan sembunyi di sana, keluarlah. Sudah cukup lama kau mondar-mandir di situ. Kalau ada urusan, kemarilah dan katakan."