Bab 33: Sahabat Dekat Xue Ziwei
Waktu berlalu begitu cepat, sepuluh hari pun telah lewat. Selama hari-hari itu, Yefeng tinggal di Jinhuang atau hotel, namun ia tidak begitu terbiasa, maka ia memutuskan untuk lebih awal pindah ke apartemen yang telah dibelikan Lian Yunhao untuknya.
Sesuai permintaan awal Yefeng, Lian Yunhao membelikan rumah di dekat kawasan lama bagian selatan kota, sebuah apartemen sederhana dengan tiga kamar tidur, tanpa hiasan yang mewah. Semuanya sangat sederhana dan biasa saja, persis seperti yang diminta Yefeng. Namun, bahan bangunan yang digunakan jelas yang terbaik, bahkan harga bahan-bahannya hampir menyamai harga rumah itu sendiri, meski orang kebanyakan pasti takkan menyadarinya.
Pada hari Yefeng pindah, ia mengundang beberapa orang terdekatnya di Kota Qing untuk berkunjung. Xue Ziwei dan ibunya datang, namun Yan Fu tidak, karena dua hari sebelumnya, Yan Fu telah meninggalkan Kota Qing. Katanya ingin mencari beberapa ramuan khusus, siapa tahu bisa membantu menyembuhkan cedera dalam Yefeng.
Ibu Xue dan Xue Ziwei sangat senang melihat Yefeng membeli rumah sendiri. Maklum, di usia muda seperti Yefeng, kebanyakan orang masih menumpang pada orang tua. Bisa membeli rumah sendiri tentu sangat langka.
“Xiaofeng, rumah ini pasti butuh banyak uang, kan?” tanya Ibu Xue sambil memperhatikan sekeliling.
“Tak mahal, Tante. Dengan renovasinya, semua sekitar satu juta saja. Tapi saya kredit, jadi belum keluar banyak uang,” jawab Yefeng. “Tante suka? Kalau Tante dan Ziwei mau, silakan pindah ke sini. Masih ada dua kamar kosong.”
“Siapa juga yang mau tinggal bareng kamu?” Xue Ziwei memelototinya, bibirnya merengut. “Kita kan tidak ada hubungan apa-apa.”
Yefeng tersenyum lalu mencubit pipi Xue Ziwei. “Lambat laun kita juga akan jadi keluarga.”
“Aku belum setuju menikah sama kamu, lho.”
“Perintah orang tua dan jodoh di tangan mak comblang. Tak masalah kalau kamu belum setuju, asal Tante setuju.”
Xue Ziwei dibuat malu hingga pipinya memerah. Ibu Xue pun tertawa geli, “Kalian berdua, sudah, sana nonton TV dulu. Biar Tante masak di dapur.”
“Tante, biar saya saja, tak enak rasanya membiarkan Tante masak,” kata Yefeng buru-buru.
“Tak perlu sungkan,” Ibu Xue melambaikan tangan. “Kamu temani Ziwei saja di sini. Itu perintah Tante.”
“Siap, laksanakan!” Yefeng memberi hormat layaknya tentara.
Saat menemani Xue Ziwei menonton TV di ruang tamu, Yefeng menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu. “Ada apa, Ziwei? Kelihatannya kamu lagi banyak pikiran?”
“Tidak apa-apa,” Xue Ziwei memaksakan senyum.
“Kamu tak bisa bohong padaku. Ceritakan saja, siapa tahu aku bisa bantu.”
“Aku cerita, tapi jangan marah, ya.” Kali ini Xue Ziwei tampak sangat serius.
Yefeng pun jadi serius, mengira Xue Ziwei mengalami masalah besar. Spontan ia teringat pada Xue Hai, jangan-jangan urusan Xue Hai yang meminta uang darinya sudah diketahui Ziwei?
“Kamu masih ingat Wang Dandan? Teman akrabku di sekolah dulu,” tanya Xue Ziwei.
“Tentu saja ingat. Bukankah dia sahabatmu? Benar juga, aku sudah cukup lama di sini, tapi belum sempat bertemu dengannya.”
“Itu si Dandan kuliah di Yanjing, baru kembali magang sebentar. Entah dapat pengaruh buruk apa di luar sana, pulang-pulang malah sibuk mau mengenalkanku pada laki-laki. Katanya besok pagi dia sudah janjian dengan seorang cowok, katanya anak orang kaya, mau dikenalkan padaku. Sudah kutolak tapi dia tetap ngotot, sampai aku pusing dibuatnya.”
Yefeng langsung tertawa. Wajah Xue Ziwei pun jadi cemberut. “Kamu malah tertawa?”
“Kukira masalah besar, ternyata cuma itu,” Yefeng mengangkat bahu, tampak santai.
“Menurutmu itu bukan masalah besar? Wang Dandan itu mau mengenalkanku sama cowok lain, kamu sama sekali tidak khawatir?” Xue Ziwei tampak gusar.
“Kenapa harus khawatir? Kamu kan memang menarik, banyak laki-laki suka itu wajar. Lagi pula Wang Dandan juga berniat baik, jangan panggil dia ‘si Dandan’ terus,” ujar Yefeng.
“Kamu benar-benar besar hati,” Xue Ziwei cemberut, lalu diam dan tidak bicara lagi.
Yefeng tersenyum dan kembali mencubit pipinya. “Jangan takut. Aku akan mendampingimu. Besok biar aku ikut, aku ingin tahu seperti apa sih laki-laki hebat yang mau merebut kekasih Yefeng.”
“Kamu tidak takut aku benar-benar dibawa pergi orang lain?”
“Kalau sampai terjadi, ya sudah,” Yefeng bercanda. “Sekarang aku sudah punya rumah sendiri, meski kredit. Besok tinggal kredit motor Yadi, berarti aku sudah punya rumah dan kendaraan. Dengan modal seperti ini, masih takut tidak dapat istri?”
Xue Ziwei mendengus kesal, mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Yefeng. Mereka pun bercanda dan saling kejar di ruang tamu, sampai akhirnya Ibu Xue keluar membawa hidangan dari dapur. Barulah mereka berhenti dan bertiga makan bersama di ruang makan, suasana hangat dan penuh kebahagiaan.
Keesokan paginya, di sebuah restoran barat.
Xue Ziwei duduk di dekat jendela restoran itu. Ia menopang dagu dengan tangan, matanya menatap kosong ke luar jendela. Tempat itu sangat bagus dan mewah, tapi Xue Ziwei sama sekali tidak suka suasananya.
“Ziwei, kamu sudah terlanjur datang, masak tidak bisa sedikit bahagia? Pasang wajah cemberut begitu, siapa yang mau melihat? Apa kamu sebegitu tidak ingin bertemu denganku?”
Di samping Xue Ziwei duduk seorang gadis berdada besar yang berdandan mencolok. Wajahnya lumayan cantik, namun tetap kalah jauh dibandingkan Xue Ziwei. Gadis itu adalah Wang Dandan, sahabat Xue Ziwei.
“Dandan, sudahlah, kamu tahu sendiri aku sudah punya pacar,” Xue Ziwei akhirnya berkata lagi setelah sempat ragu.
“Tidak bisa.”
Wang Dandan menolak tegas. “Ziwei, kamu masih saja bersama Yefeng itu? Dulu waktu sekolah aku sudah merasa dia tidak bisa diandalkan. Aku tidak paham kenapa kamu tetap bertahan. Enam tahun dia menghilang, dan kamu tetap menunggunya. Dia itu tak punya uang, wajah pun pas-pasan, bagaimana bisa cocok denganmu yang secantik ini?”
“Dandan, aku tidak izinkan kamu menjelekkan Yefeng,” kata Xue Ziwei dengan nada tidak senang.
Wang Dandan mencibir. “Entah apa yang Yefeng itu berikan padamu sampai kamu seperti kena pelet. Kamu masih sama polosnya seperti waktu sekolah.”
“Terserah kamu mau bilang apa,” jawab Xue Ziwei tak peduli.
“Hmph!” Wang Dandan mendengus. “Ziwei, kamu masih setia pada Yefeng itu karena belum pernah bertemu pria baik yang sesungguhnya. Hari ini aku akan membukakan matamu. Aku yakin kamu pasti suka dengan Tuan Zhang itu. Dia benar-benar kaya, tampan, dan sangat sopan.”
Xue Ziwei melirik Wang Dandan dengan kesal. “Kalau dia sehebat itu, kenapa kamu tidak ambil sendiri? Bukankah impianmu dari dulu ingin menikah dengan anak konglomerat?”
“Itu impianku yang kedua,” Wang Dandan tertawa sambil mengeluarkan ponsel. “Aku punya impian pertama.”
“Apa pula itu, kayak anak kecil saja. Impian pertamamu apa?”
“Menikah dengan pahlawan sejati yang berani dan adil, yang bisa melindungi dan menyayangiku!” Wang Dandan berkata sambil terus menatap layar ponsel, matanya berbinar. Lalu ia menunjuk sebuah video pendek di aplikasi sosial, “Nih, seperti yang ini.”