Bab 25: Rumah Yang Xu
Liu Dong sangat terkejut, sebab ia sama sekali tak menyangka bahwa Ye Feng ternyata berniat merekrut Yang Xu agar menjadi anak buahnya. Memang, Yang Xu yang aneh itu sangat kuat, namun dari seluruh tubuhnya terpancar aura berbahaya yang mencekam. Liu Dong sendiri bahkan tak pernah berani memikirkan untuk menaklukkan “anjing gila” semacam itu, sebab ia paham benar dirinya tak punya kemampuan untuk mengendalikannya.
Namun berbeda dengan Ye Feng. Dalam hati Liu Dong, Ye Feng adalah sosok dewa—di dunia ini, tak ada satu pun hal yang mustahil bagi dewa.
“Akan segera kuperintahkan orang-orangku untuk menyelidikinya,” ujar Liu Dong.
“Baik, kabari aku setelah mendapat hasilnya.”
Ketika Ye Feng meninggalkan Lapangan Tinju Gunung Tai, langit sudah benar-benar gelap. Ia kembali ke rumah bergaya siheyuan milik Yan Fu. Di sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan kemungkinan bertemu Yang Xu lagi saat tiba di rumah.
Namun, kenyataan membuktikan bahwa ia terlalu banyak berpikir. Siang tadi, dalam pertarungan di arena, Yang Xu terkena serangan tenaga dalam Ye Feng hingga menderita luka cukup parah. Butuh setidaknya tiga atau empat hari baginya untuk bisa bangkit dari tempat tidur. Maka sepulang ke rumah, Ye Feng hanya menemukan Xiao Hei, anjing berwarna hitam yang setia, tengah terbaring lesu di halaman.
Melihat Ye Feng pulang, Xiao Hei yang tadinya tak bersemangat langsung bangkit penuh energi, mengibas-ngibaskan ekornya dan menggonggong riang. Sudah jelas anjing itu kembali merasa lapar.
Ye Feng pun mengambil beberapa tulang anjing dari dalam rumah lalu melemparkannya pada Xiao Hei. Setelah itu, ia menuju ruang obat milik Yan Fu.
Ruang obat itu menyimpan banyak ramuan langka yang sudah lama dikoleksi Yan Fu. Bermodalkan pengetahuannya tentang tanaman obat, Ye Feng memilih lebih dari tiga puluh jenis bahan, lalu meraciknya sesuai takaran hingga menghasilkan semangkuk ramuan berwarna hitam pekat, yang langsung ia minum sampai habis.
Begitu ramuan itu masuk ke tubuh, Ye Feng langsung merasa seolah tubuhnya terbakar api. Rasa dingin yang menumpuk akibat mandi es tadi pun perlahan menghilang, dan tubuhnya terasa jauh lebih nyaman.
Ye Feng mencoba mengerahkan tenaga dalam, namun baru saja mulai, tubuhnya langsung terasa seperti ditusuk jarum, memaksanya untuk segera menghentikan gerakannya.
“Luka dalamku kini lebih parah dari sebelumnya, bahkan sewaktu-waktu bisa kambuh,” pikirnya sambil menyeka keringat di dahi. Hampir seluruh harapannya kini ia gantungkan pada Yan Fu. “Cedera yang kudapat di Laut Sialan itu benar-benar aneh. Tak tahu apakah Kakek punya cara untuk menyembuhkannya.”
Dua hari berikutnya, Ye Feng terus berdiam di rumah, meracik dan meminum jamu untuk merawat tubuhnya. Setelah rutin minum dua hari, wajahnya memang terlihat agak lebih segar, namun masih tetap pucat kekuningan dan mudah berkeringat karena lemas.
Menjelang malam di hari kedua, Liu Dong menelepon Ye Feng. Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil menemukan alamat tempat tinggal Yang Xu. Namun soal asal-usul Yang Xu sendiri, tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Kata Liu Dong, setelah pingsan karena serangan Ye Feng di hari itu, Yang Xu dibawa pulang ke kawasan utara oleh Xiang Zhong. Bukannya dirawat di rumah sakit, ia justru disadarkan dengan dua ember air es. Begitu sadar, Yang Xu malah dihajar habis-habisan oleh Xiang Zhong, namun anehnya ia sama sekali tak melawan. Setelah itu, Yang Xu kembali ke rumahnya di pinggiran selatan kota dan tak pernah keluar selama dua hari.
Daerah pinggiran selatan itu ternyata tak jauh dari rumah Yan Fu, wajar bila sebelumnya Ye Feng dua kali bertemu Yang Xu di sekitar situ—rupanya memang mereka bertetangga.
Akhirnya, Liu Dong mengirimkan lokasi rumah Yang Xu kepada Ye Feng. Usai menutup telepon, Ye Feng menenggak semangkuk jamu lagi, lalu berangkat menuju rumah Yang Xu.
Rumah Yang Xu berjarak sekitar tujuh hingga delapan kilometer dari rumah Yan Fu, namun daerah itu jauh lebih terpencil dan kumuh. Seluruh kawasan dipenuhi rumah-rumah satu lantai yang dibangun pada era 80-90an. Sebagian besar wilayah itu sudah masuk rencana relokasi pemerintah, sehingga penduduk aslinya banyak yang pindah ke pusat kota. Namun karena berbagai alasan, kawasan itu tak kunjung dibangun ulang, hingga banyak rumah yang tetap bertahan.
Karena itulah, rumah-rumah di sana akhirnya disewakan kepada para pekerja migran, menjadikan kawasan itu yang paling terbelakang di seluruh Kota Qing.
Rumah Yang Xu sendiri hanyalah sebuah bangunan satu lantai sederhana, dikelilingi pagar tanah membentuk halaman kecil. Rumah itu berdiri sendiri, tak ada bangunan lain dalam radius beberapa ratus meter.
Pintu gerbang halaman tidak terkunci. Ye Feng mendorong dan masuk ke dalam.
Begitu melangkah ke halaman, telinganya langsung disambut gonggongan anjing yang keras dan riuh. Matanya mendapati belasan anjing liar menatapnya galak, siap menyerang.
Ye Feng sempat terkejut. Ia tak menyangka di rumah Yang Xu ada begitu banyak anjing liar, semuanya tampak garang dan berani.
Tak heran jika dua kali sebelumnya ia menjumpai Yang Xu di halaman rumahnya sendiri, ternyata lelaki itu memang punya ikatan khusus dengan anjing. Pantas saja waktu itu ia membawa tulang daging untuk Xiao Hei yang kelaparan, bukan untuk mencuri anjing.
Anjing-anjing liar itu dibiarkan berkeliaran tanpa diikat. Begitu mencium bau orang asing, mereka serempak menggonggong dan perlahan mengepung Ye Feng.
Tatapan mata Ye Feng langsung berubah tajam. Ia menatap anjing-anjing itu satu per satu. Anehnya, mereka jadi ragu dan ketakutan, lalu berhenti mendekat.
Saat itu, pintu rumah reyot di ujung halaman terbuka. Yang Xu muncul sambil membawa baskom besar berisi tulang daging.
Sekarang bulan Maret, cuaca di Kota Qing masih cukup dingin, namun Yang Xu hanya mengenakan kaos tipis. Tubuhnya penuh memar kebiruan, wajahnya pun bengkak di beberapa bagian dan terdapat luka-luka baru.
Jelas, semua luka itu adalah hasil dari amukan Xiang Zhong, seperti yang diceritakan Liu Dong lewat telepon.
Yang membuat Ye Feng penasaran, dengan kemampuan sehebat itu, seharusnya Yang Xu bisa dihormati di mana saja, tapi mengapa ia malah memilih mengabdi pada Xiang Zhong, bahkan rela dihajar dan diperlakukan seperti anjing gila? Kenapa Yang Xu tak melawan?
Yang Xu memang melihat kehadiran Ye Feng, namun ia sama sekali tak menghiraukannya.
Ia membawa baskom berisi tulang daging ke sudut halaman, di mana ada bak batu sebesar meja komputer. Ia menuangkan seluruh isi baskom ke dalam bak itu.
Anjing-anjing liar di sekitarnya langsung menyerbu bak, berebut makan daging mentah yang masih berlumuran darah. Sama seperti waktu di rumah Yan Fu, Yang Xu hanya jongkok di samping bak, menatap anjing-anjing itu tanpa berkedip, laksana patung hidup.
Ye Feng merasa suasana itu begitu ganjil. Ia kembali memainkan koin kuno yang entah berasal dari mana dan zaman apa, seperti kebiasaannya kala perasaannya dilanda kegelisahan—koin itu selalu berhasil menenangkan pikirannya.
Ia melangkah perlahan mendekati Yang Xu, lalu berhenti di jarak sekitar dua meter darinya.
“Yang Xu, kita perlu bicara!” ujar Ye Feng.