Bab 12 Tumit Tinggi yang Bergoyang
Halaman (1/3)
“Ini kontraknya. Guru Haruno bisa membacanya terlebih dahulu...”
Di ruang tamu, Riho Morikawa menyerahkan seluruh dokumen kontrak yang telah disiapkan, tak lupa menyodorkan sebotol air dengan penuh perhatian.
Meskipun sebelumnya mereka sudah membicarakan hal ini di sebuah kafe, yang sedang dibahas kali ini adalah penerbitan manga secara resmi. Karena itu, ada beberapa hal yang sebaiknya dijelaskan dengan lebih terperinci agar kerja sama mereka berjalan lancar.
Haruno Sawayama juga tidak berani bersikap ceroboh. Ia mengambil dokumen kontrak itu, lalu membacanya kata demi kata.
Kebiasaan tersebut semata-mata terbentuk karena pengalaman buruk yang pernah dialaminya di kehidupan sebelumnya. Dahulu, ia sampai terpaksa menjual diri kepada perusahaan berhati busuk karena telah dijebak saat menandatangani kontrak. Setelah mengalami kerugian sebesar itu, tentu saja Haruno Sawayama tidak mungkin lagi bersikap sembrono terhadap urusan kontrak.
Riho Morikawa menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Melihat betapa seriusnya Haruno Sawayama, ia bahkan dengan penuh perhatian menanyakan apakah pria itu membutuhkan bantuan seorang ahli untuk menjelaskan isi kontrak. Setelah ditolak, ia pun mengambil naskah yang dibawa Haruno Sawayama dan mulai membacanya.
“Akhirnya tiba juga...”
Wajah Riho Morikawa tampak tenang seolah tak terjadi apa-apa, padahal hatinya sudah bersorak kegirangan. Sejak membaca manga karya Haruno Sawayama minggu lalu, pikirannya terus dipenuhi EVA, bahkan selama beristirahat di akhir pekan. Terlebih lagi, kali ini yang akan dibacanya adalah versi naskah yang telah disempurnakan. Dibandingkan sebelumnya, kisahnya seharusnya digambarkan dengan jauh lebih terperinci.
Ayo, ayo! Sebagai editor yang serius dan bertanggung jawab, biar aku mencicipi karya Guru Haruno terlebih dahulu sebelum orang lain!
Riho Morikawa tak sabar membuka naskah tersebut. Begitu melihat halaman pertama, ia tanpa sadar membelalakkan mata indahnya—perasaan yang ditimbulkannya benar-benar berbeda dari sebelumnya!
Versi kali ini jelas merupakan hasil gambar yang dikerjakan Haruno Sawayama dengan sepenuh hati. Dalam naskah edisi awal, ia tidak terlalu banyak menggambarkan latar dan pemandangan. Bahkan Unit-01 hanya dibuat dengan beberapa garis sederhana, sementara berbagai perangkat mekanis yang mewakili unsur fiksi ilmiah juga disederhanakan. Namun, pada versi ini, Haruno Sawayama menggambarnya kembali dengan teknik yang jauh lebih menawan. Bukan hanya itu, alurnya pun tampaknya mengalami beberapa perubahan.
Riho Morikawa menyadari bahwa manga kali ini memberikan penjelasan tambahan mengenai alasan Ikari Shinji bersedia mengemudikan EVA. Keragu-raguan yang dirasakan tokoh itu juga digambarkan dengan jauh lebih terperinci, terutama sorot matanya yang begitu hidup.
Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya sedikit bingung. Apakah Rei Ayanami ini tokoh utama wanitanya?
Dalam naskah edisi awal yang pernah dibacanya, hubungan antara Ikari Shinji dan Rei Ayanami tidak dijelaskan sedetail ini. Satu-satunya petunjuk yang tampak jelas mungkin hanyalah perasaan Asuka terhadap Ikari Shinji.
“Gambarnya benar-benar bagus. Bahkan ekspresi keraguan para tokohnya terasa begitu hidup... Ngomong-ngomong, bagaimana sebenarnya Guru Haruno bisa menggambar tokoh utama pria dengan aura seperti anak anjing malang begini...?”
Riho Morikawa diam-diam mengangkat pandangan dan melirik Haruno Sawayama. Pria itu masih serius membaca kontrak di tangannya.
Hmm... biasanya, tanpa sosok nyata sebagai referensi, akan sulit menggambarkan kepribadian tokoh dengan begitu nyata, bukan? Sebenarnya apa yang dipikirkan pria ini ketika sedang berkarya?
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di dalam kantor, jam yang tergantung di dinding terus bergerak tanpa suara. Ketika jarum jam menunjuk angka sepuluh, Haruno Sawayama akhirnya selesai membaca seluruh kontrak. Setelah mengembuskan napas panjang, ia mengetuk permukaan meja dan berkata sambil tersenyum tipis, “Nona Riho, saya sudah selesai membacanya.”
Riho Morikawa tersentak sadar. Namun, sebelum sempat meletakkan naskah di tangannya, terdengar bunyi dentang nyaring yang menggema di seluruh ruang tamu.
“...”
Wajahnya seketika memerah. Ia menatap Haruno Sawayama, tak tahu harus berkata apa.
“Kamar kecilnya di luar, bukan?”
Haruno Sawayama berusaha keras menahan ekspresinya. Ia berdeham pelan, lalu hendak keluar untuk memberi Riho Morikawa waktu mengenakan kembali sepatunya.
Sungguh, kalau membaca manga, bacalah dengan baik. Mengapa harus menggoyang-goyangkan sepatu hak tinggi dengan ujung kaki sampai terjatuh begitu?
Tidak mungkin salah. Haruno Sawayama sangat yakin bahwa bunyi tadi muncul karena sepatu hak tinggi itu jatuh ke lantai—suara yang berada di antara nyaring dan berat. Kalau ditanya mengapa ia bisa seyakin itu, jawabannya tak lepas dari guru bahasa Inggrisnya semasa sekolah dulu, yang gemar duduk di atas podium sambil mengayun-ayunkan kaki.
“Riho, apa yang sedang kau lakukan?!”
Begitu Haruno Sawayama keluar dari ruang tamu, Riho Morikawa langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya dipenuhi rasa malu sekaligus kesal.
Ia bisa merasakan pipinya begitu panas. Bukan hanya pipinya—tingkahnya sendiri juga sungguh memalukan! Bagaimana mungkin ia menunjukkan keadaan serunyam ini di hadapan Guru Haruno? Dia pasti menyadarinya, bukan? Tentu saja dia menyadarinya! Kalau tidak, mengapa dia sengaja meninggalkan waktu untuknya mengenakan kembali sepatu?
Saat itu, Riho Morikawa benar-benar ingin meninggalkan dunia indah ini untuk selamanya. Rasa malu yang begitu mematikan tersebut terasa terlalu berat baginya. Seandainya tahu akan begini, sejak di rumah ia tidak akan membaca manga sambil menggoyang-goyangkan sandal dengan ujung kaki. Kini, ia benar-benar harus menanggung akibat dari kebiasaan buruknya.
Aku tidak tahan lagi, rasanya ingin mati saja! Guru Haruno, dengarkan penjelasanku! Aku sungguh bukan orang seperti itu!
Riho Morikawa meratap dalam hati.
...
Lima menit kemudian, mereka kembali berada di ruang tamu yang sama.
Riho Morikawa tidak tahu apakah Haruno Sawayama benar-benar pergi ke kamar kecil atau tidak.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Namun setidaknya, ia benar-benar sudah mengenakan kembali sepatunya. Bahkan, ia tidak duduk lagi dan memilih berdiri di samping Haruno Sawayama untuk membantunya menandatangani kontrak.
Di sisi lain, Haruno Sawayama tidak lagi ragu. Setelah semua urusan dipastikan, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Karena lawan bicaranya adalah orang yang lugas, ia pun tidak mau bersikap pelit atau bertele-tele. Hanya dalam beberapa gerakan, kontrak itu pun selesai ditandatangani.
Menatap naskah dan kontrak yang kini berada di tangannya, senyum akhirnya muncul di wajah Riho Morikawa.
“Dengan begini, semuanya sudah selesai... Minggu lalu aku sudah memberi tahu pihak majalah manga mingguan bahwa akan ada perubahan. Jika tidak ada halangan, karya Guru Haruno sudah bisa diterbitkan minggu ini,” ujarnya sambil tersenyum.
“Secepat itu?”
Haruno Sawayama tampak terkejut. Ia semula mengira masih harus menunggu setengah bulan lagi, atau setidaknya satu hingga dua minggu. Ia tak menyangka karya itu bisa langsung diterbitkan begitu saja oleh Riho Morikawa. Efisiensi kerja seperti ini benar-benar mengharukan dengan cara yang tak terduga...
“Kebetulan sekarang memasuki kuartal baru, jadi memang ada beberapa manga yang akan mengalami perubahan jadwal penerbitan. Selain itu, beberapa hari ini juga bertepatan dengan tenggat pengumpulan naskah para mangaka lain. Jika semuanya langsung dikirim untuk dicetak, prosesnya bisa selesai dengan cepat. Bisa dibilang, Guru Haruno datang pada waktu yang tepat.”
Riho Morikawa tersenyum lembut, seolah telah melupakan seluruh kejadian memalukan tadi.
“Biasanya, tenggat pengumpulan naskah kami jatuh pada hari Senin. Pada hari Rabu dan Kamis, kami mulai menyiapkan pencetakan. Setiap edisi majalah mingguan dipersiapkan satu minggu sebelumnya, sedangkan tanggal resminya terbit juga jatuh pada hari Senin.”
“Pantas saja...”
Haruno Sawayama akhirnya mengerti. Penjelasan itu memang kurang lebih sama dengan informasi yang pernah diketahuinya.
“Kalau edisi minggu ini sudah selesai dicetak, bolehkah saya mendapatkan satu eksemplar lebih awal untuk melihatnya?” tanyanya sambil lalu.
“Tentu saja. Bahkan tanpa memintanya pun, aku akan menyisihkan beberapa eksemplar untukmu,” jawab Riho Morikawa sambil menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil. “Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya manga Guru Haruno diterbitkan. Sebaiknya disimpan beberapa eksemplar sebagai kenang-kenangan.”
Halaman (3/3)