Bab 24 Mendapatkan Pujian
Halaman (1/3)
Mungkin bagi Fang Rong, sejak awal membandingkan dirinya dengan Jing Man sudah merupakan sebuah kesalahan. Namun, kesalahan itu hanya akan ia lampiaskan kepada Jing Man. Kini, dengan hadirnya Teng Mingyu, Fang Rong merasa memiliki alasan yang lebih kuat untuk menyudutkan Jing Man.
Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, sejak pertama kali melihat Jing Man, ia sudah memiliki firasat bahwa gadis itu tidak boleh dibiarkan hidup terlalu baik. Kalau tidak, semua yang kini membuatnya bangga akan direbut oleh Jing Man.
Fang Rong tidak memahami dari mana firasat itu berasal, tetapi hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk memusuhi Jing Man.
“Memangnya kamu, berani-beraninya ingin disamakan dengan Rongrong kami?”
“Jing Man, bagaimana kamu bisa masih punya muka untuk hidup di dunia ini? Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah mati karena malu.”
“Jing Man, makanlah. Kenapa berhenti? Bukankah tadi kamu begitu berani?”
“Maaf, Jing Man yang lebih dulu menggodaku. Aku hanya tidak tahan menghadapi godaan.”
“Jing Man, kamu tidak lulus ujian masuk universitas.”
Jing Man seolah-olah kembali ke kehidupan sebelumnya. Sekali lagi, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri berbagai kejadian sepanjang hidupnya: perundungan Fang Rong yang tak beralasan, tuduhan bahwa dirinya menyimpan niat buruk, kegagalannya dalam ujian masuk universitas, hingga kematian ibunya karena sakit. Seakan-akan semua itu ingin memberitahunya bahwa ia tidak perlu lagi berjuang, karena dalam kehidupan ini pun akhirnya akan tetap sama.
Jing Man terperangkap dalam mimpi buruk dan tidak mampu melepaskan diri. Seluruh tubuhnya berkeringat karena panik.
“Tidak, aku sudah terlahir kembali. Semua itu belum terjadi. Aku bukan lagi Jing Man dari kehidupan sebelumnya. Aku mampu mengubah semuanya.”
“Aku tidak akan mengulangi jalan hidup yang sama.”
Suara gumaman Jing Man semakin keras. Shi Wenwen hanya samar-samar mendengar kata-kata seperti, “Tidak, tidak.”
Melihat keadaan Jing Man, Shi Wenwen mengira temannya itu sedang mengalami mimpi buruk. Ia segera mendekat dan membangunkannya.
“Jing Man, bangun. Kalau sudah terbangun, semuanya akan baik-baik saja.”
Begitu dipanggil Shi Wenwen, Jing Man langsung membuka mata dan seketika terbebas dari mimpi buruk itu. Barulah ia menyadari bahwa orang yang membangunkannya adalah Shi Wenwen.
“Bagaimana? Kamu baik-baik saja?” tanya Shi Wenwen dengan cemas.
“Terima kasih, Wenwen. Tadi aku bermimpi buruk dan sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Aku sampai panik. Untung kamu membangunkanku,” kata Jing Man dengan wajah lega.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Tidak apa-apa, semua orang bisa mengalaminya. Dulu, ketika masih di rumah, aku pernah bermimpi buruk dan tidak bisa bangun juga. Aku hanya menangis keras di sana. Ibuku melihatnya, lalu buru-buru membangunkanku. Katanya aku hanya sedang bermimpi buruk, dan setelah dibangunkan semuanya akan baik-baik saja.”
Dalam hati, Jing Man berkata, Ini bukan mimpi buruk. Ini semua pengalaman dari kehidupan sebelumnya. Itulah sebabnya aku ingin segera melarikan diri, karena aku tahu apa yang akan terjadi pada setiap detik berikutnya.
“Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama aku tidak bertemu ibuku. Aku jadi merindukannya.” Shi Wenwen berkata kepada Jing Man dengan sedikit haru, “Kalau tahun ini tidak ada urusan penting, aku berencana pulang sekali untuk menemui ayah, ibu, serta adik-adikku.”
Mendengar perkataan itu, Jing Man juga mulai merindukan ibunya. Baru saja ia melihat sang ibu dalam mimpinya—karena sakit dan tidak segera mendapat pengobatan, penyakitnya semakin parah akibat terus dibiarkan hingga akhirnya tidak tertolong. Setelah ibunya meninggal, ayahnya segera menikah lagi. Hanya Jing Man yang sejak saat itu tidak lagi memiliki seorang ibu yang menyayanginya. Orang terakhir di dunia yang mencintainya pun telah tiada.
Namun, dalam kehidupan ini, semuanya belum dimulai. Ia pasti bisa mengubah takdir dan memastikan ibunya segera berobat serta penyakitnya terdeteksi sedini mungkin.
Dari luar terdengar seseorang memanggil nama Jing Man. Ia tidak tahu siapa orang itu. Saat mengenakan sepatu dan keluar, ia mendapati bahwa orang tersebut adalah Yun An, yang sebelumnya selalu mengikuti Komandan Yun. Ia juga merupakan putra keempat Komandan Yun.
“Ada apa, Kamerad Yun?”
Melihat Jing Man keluar, Yun An langsung menjelaskan, “Aku sendiri tidak tahu persis. Ayah menyuruhku menjemputmu. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu.”
Mendengar itu, Jing Man pun pergi bersama Yun An. Sepanjang perjalanan, ia terus bertanya-tanya apa urusan Komandan Yun mencarinya.
Sesampainya di rumah Komandan Yun, jawabannya pun segera terungkap.
“Pemuda Terpelajar Jing, akhirnya kamu datang juga.”
“Aku akan memperkenalkan kalian. Ini Asisten Direktur Zhu yang ditugaskan oleh Komune.”
Barulah setelah diperkenalkan oleh Komandan Yun, Jing Man menyadari bahwa ada orang lain di sampingnya.
“Bukankah sebelumnya aku membawa dua alat pertanian buatanmu ke kantor komune? Semua orang merasa alat-alat itu sangat praktis. Karena itu, Direktur Yuan mengutus Asisten Zhu untuk datang menemuimu, sekaligus menyampaikan pujian.”
Mendengar hal itu, Jing Man langsung memahami maksud kedatangan mereka. Ia berkata dengan rendah hati, “Anda terlalu memuji. Saya hanya melakukan sedikit penelitian secara kebetulan, belum pantas disebut sesuatu yang hebat. Maaf sampai membuat Asisten Zhu bersusah payah datang kemari.”
Asisten Zhu segera menyangkal, “Pemuda Terpelajar Jing benar-benar terlalu rendah hati. Begitu kedua hasil penelitianmu dilaporkan, keduanya langsung menarik perhatian berbagai pihak. Setelah digunakan oleh sejumlah brigade produksi, semuanya memberikan penilaian yang sangat baik. Direktur Yuan berulang kali berpesan agar kali ini aku harus mengundangmu ke komune.”
Komandan Yun juga membujuk Jing Man untuk pergi ke komune menerima penghargaan.
“Pemuda Terpelajar Jing, pergilah. Pastikan kamu mengharumkan nama Brigade Hongyun kita.”
“Komandan Yun bercanda. Kali ini Komandan Yun juga diundang. Nanti Anda bisa menyampaikan pidato sendiri,” ujar Asisten Zhu sambil tersenyum ramah.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Komandan Yun tidak menyangka keberuntungan sebesar itu akan jatuh ke pangkuannya.
“Aku juga boleh pergi?”
“Tentu saja. Pemuda Terpelajar Jing adalah anggota Brigade Hongyun. Sebagai komandannya, tentu Anda harus ikut pergi untuk menerima penghargaan,” jelas Asisten Zhu.
Melihat Komandan Yun juga akan hadir, Jing Man tentu saja menyetujui undangan tersebut.
Komandan Yun tersenyum sambil mengantar Asisten Zhu pergi. Setelah itu, ia berbalik dan berkata kepada Jing Man, “Pemuda Terpelajar Jing, kamu benar-benar pembawa keberuntungan bagi Brigade Hongyun. Baru kamu datang, aku sudah bisa pergi ke komune untuk menerima penghargaan. Di usia setua ini, aku belum pernah mengalami hal seperti itu.”
Jing Man juga berkata dengan tulus, “Semua ini berkat Komandan Yun yang mampu melihat potensi saya. Tanpa dukungan penuh dari Anda, saya juga tidak akan bisa mencapai keberhasilan ini.”
Setelah saling melontarkan pujian, mereka menyepakati waktu keberangkatan lalu berpisah.
Tak lama kemudian, hari pemberian penghargaan pun tiba. Sebelumnya, Komandan Yun telah memberi tahu semua orang bahwa ia dan Jing Man akan pergi ke komune untuk menerima penghargaan. Ia meminta mereka menyimak siaran radio pada waktunya.
Dalam rapat besar komune, Jing Man akhirnya bertemu dengan Direktur Yuan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang. Ia memiliki alis tebal dan mata besar, dengan wibawa yang membuat orang segan bahkan ketika ia tidak sedang marah. Namun, saat tersenyum, ia juga tampak penuh kasih.
“Setelah sekian lama menanti, akhirnya Pemuda Terpelajar Jing datang juga.”
“Aku sendiri sudah mencoba alat-alat hasil penelitianmu. Hasilnya sangat baik. Benar-benar, generasi muda akan melampaui generasi tua. Gadis kecil, kerja yang bagus.”
Jing Man mengucapkan terima kasih atas pujian Direktur Yuan, lalu mengalihkan pembicaraan kepada Komandan Yun dan Brigade Hongyun.
“Ah, tidak seberapa. Saya justru harus berterima kasih kepada Komandan Yun atas kepercayaannya dan kepada Brigade Hongyun atas dukungannya.”
Direktur Yuan kemudian berbalik kepada Komandan Yun.
“Kali ini Brigade Hongyun benar-benar berhasil mencuri perhatian. Kerja yang bagus!”
Komandan Yun tidak menyangka Direktur Yuan juga akan memperhatikannya. Ia segera berdiri tegak dan berkata dengan hormat, “Tidak, semua ini berkat kemampuan pribadi Pemuda Terpelajar Jing yang sangat baik. Kami sebenarnya tidak banyak membantu. Pemuda Terpelajar Jing memang luar biasa.”