Bab 28 Uang yang Berkurang

Minha Esposa é Delicada, o Homem Rude Não Aguenta a Sedução A garça branca levanta voo sob a lua do rio. 1150kata 2026-08-03 07:14:33

Asisten hakim yang sedari tadi berdiri mematung seperti kayu, akhirnya melihat kesempatan untuk unjuk gigi.

"Di mana dompet itu ditemukan?"

"Tuan, ini benar-benar ditemukan di kolam itu. Awalnya dompet ini terjatuh di tepi kolam, namun karena jalan itu terlalu ramai dilalui orang dan tidak ada yang memperhatikan sebuah dompet tergeletak di pinggir jalan, lama-kelamaan dompet itu terinjak dan tertimbun ke dalam tanah."

Mereka benar-benar telah bersusah payah mencari dompet ini. Mereka bolak-balik menyisir sepanjang kolam berkali-kali, mencarinya inci demi inci, bahkan rerumputan liar pun tidak luput dari pemeriksaan, hingga akhirnya berhasil menemukan dompet yang sudah gepeng itu.

Hanya saja, dompet itu sangat kotor, hingga nyaris tidak bisa dikenali lagi bentuknya sebagai kantong uang.

Asisten hakim menyipitkan mata melihatnya, lalu melambaikan tangan dengan ekspresi jijik, "Karena barang yang hilang sudah ditemukan, kembalikan saja kepada pemiliknya."

Kasus ini pun berakhir di sini. Ternyata tidak ada seorang pun yang mencuri kantong uang Nyonya Song; jelas-jelas dia sendiri yang ceroboh menjatuhkannya di pinggir jalan.

Kini setelah kebenaran terungkap, wajah orang-orang yang tadi membela Nyonya Song berubah masam. Mereka semua menatapnya dengan tajam.

"Benar kata orang, sesuatu tidak bisa dinilai dari luarnya saja. Ada orang yang tampak begitu teraniaya, padahal aslinya egois, kikir, dan menjijikkan sampai ke tulang."

"Betul, menyesal sekali saya tadi membelanya. Ternyata dia sendiri yang maling teriak maling. Uangnya saja tidak dijaga, tapi mulutnya terus saja menuntut anak dan menantunya. Siapa pun gadis yang masuk ke keluarganya pasti akan menderita."

"Kalau mertuaku punya tabiat seperti dia, rumah tangga ini pasti sudah hancur. Berani-beraninya dia menuduhku mencuri uangnya, aku pasti sudah hancurkan rumahnya!"

Para penonton mulai saling bersahutan. Ucapan mereka membuat Nyonya Song merasa tidak punya muka lagi untuk tetap berada di sana. Namun, membiarkan Lu Chuanjing dan Shen Qingqing lolos begitu saja membuatnya merasa sangat kesal dan tidak terima.

Dia benar-benar tidak rela. Kesempatan yang sudah ada di depan mata ini, bagaimana mungkin disia-siakan begitu saja?

Matanya berputar liar, lalu ia berseru dengan nada terkejut, "Aduh, kenapa uang di dalam dompetku berkurang dua tael perak?"

Suasana mendadak hening. Orang-orang menatap Nyonya Song dengan tatapan aneh. Mereka merasa dia seperti badut yang sedang melucu. Tuduhan yang begitu terang-terangan dan tidak tahu malu seperti itu, hanya dia yang mampu melakukannya.

"Apa maksudmu? Kami sudah berbaik hati mencarikan dompetmu, sekarang kau malah memfitnah kami?"

Petugas kepolisian yang tadi memberikan dompet itu kepada Nyonya Song langsung naik pitam mendengar ucapannya. Mereka susah payah menggali dompet itu dari tanah, eh, dia malah berbalik menuduh uangnya berkurang?

Empat atau lima petugas dengan wajah kelam segera mengepung Nyonya Song beserta kedua anaknya. Wajah ketiganya seketika memucat.

Nyonya Song buru-buru menjelaskan, "Saya tidak menuduh Tuan Petugas mengambil uang saya, saya curiga menantu saya inilah yang mengambilnya saat mendorong saya keluar tadi."

Asisten hakim merasa ingin memukul nenek tua ini sampai mati. Selalu saja mencari masalah, dia terus saja memeras putra keduanya yang berharta, apakah di rumah itu tidak ada orang lain yang bisa mencari uang?

"Lalu, apa maumu sekarang?"

Nyonya Song bersikeras bahwa uang di dompetnya berkurang. Sebagai asisten hakim, ia tentu harus bertanya dengan formalitas yang ada.

Shen Qingqing yang mendengar hal itu merasa sangat geram.

Apakah dia terlihat seperti orang bodoh?

Dia sendiri sudah mendapatkan lima puluh tael dari hasil berjualan dendeng, bahkan sudah membeli seekor sapi. Untuk apa dia repot-repot mencuri dua tael perak milik wanita itu?

"Tuan, dia..."

Shen Qingqing hendak membuka mulut untuk membela diri, tetapi asisten hakim melambaikan tangan, memberi isyarat agar ia menunggu sebentar.