Bab 17: Memakannya Bisa Membunuh
Halaman (1/3)
Shen Qingqing mendongak ketika mendengar suara itu. Seorang perempuan tua datang sambil menggandeng anak berusia sekitar empat atau lima tahun.
Ia segera memahami maksudnya. Shen Qingqing memilih dendeng dan sepotong besar daging asap, lalu membungkusnya dengan kertas sebelum menyerahkannya kepada perempuan tua itu.
Dengan tangan gemetar, perempuan tua tersebut memberikan lima keping uang tembaga kepada Shen Qingqing. Ia tampak ragu cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.
“Nona, berhati-hatilah terhadap perempuan tua di sudut sana. Sejak dendengmu laris, selama beberapa hari kau tidak datang, perempuan itu mulai menjual dendeng juga.” Perempuan tua itu berhenti sejenak, menoleh ke arah sudut jalan, lalu melanjutkan, “Orang-orang yang tidak tahu selama beberapa hari ini membeli dagangan darinya. Namun hari ini, setelah kau datang, tak seorang pun pergi ke sana. Tadi aku melihatnya bertingkah mencurigakan. Kau harus berhati-hati.”
Mendengar itu, Shen Qingqing menjulurkan kepala dan melihat ke arah sudut jalan. Perempuan tua itu sedang menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Alis indah Shen Qingqing sempat berkerut sesaat, tetapi segera kembali tenang.
“Bibi, bawalah dendeng ini. Terima kasih sudah memberitahuku.” Shen Qingqing langsung mendorong tangan perempuan tua itu, berniat mengembalikan uangnya.
Bukan hanya karena perempuan itu telah membantunya. Shen Qingqing juga bisa melihat bahwa kehidupan perempuan tersebut tidak berkecukupan. Pakaian yang dikenakan anak itu pun sudah lusuh.
Tadi ia melihat mata si anak berbinar-binar ketika menatap dendeng. Sepertinya, anak itu sudah sangat lama tidak menyantap makanan berdaging.
Entah mengapa, sejak menjadi seorang ibu, hati Shen Qingqing terasa jauh lebih lembut setiap kali melihat anak-anak.
“Bagaimana bisa begitu?” Perempuan tua itu meletakkan uangnya di atas gerobak kecil, lalu menggandeng anaknya dan berbalik pergi.
Halaman (1/3)
Shen Qingqing buru-buru berteriak, “Lain kali akan kuberikan separuh harga!”
Setelah perempuan itu pergi, Shen Qingqing menyiapkan dendeng untuk Pengurus Zhang, tetapi matanya tetap mengawasi gerak-gerik perempuan tua tadi.
Benar saja, tidak lama kemudian perempuan tua itu membereskan dagangannya dan menghilang tanpa jejak.
Pikiran Shen Qingqing berkelana, membayangkan cara apa yang akan digunakan perempuan itu. Ia baru tersadar ketika kepalanya tertutup bayangan seseorang.
Saat mendongak, ia melihat seorang perempuan dengan raut wajah agak kejam berdiri di depan gerobak kecilnya.
“Masih ada dendeng? Berapa harganya?”
Nada bicara perempuan itu yang congkak membuat Shen Qingqing merasa tidak nyaman, tetapi ia tetap menjawab dengan sabar, “Masih ada, Bibi. Lima keping uang tembaga. Hari ini, berapa pun jumlah yang dibeli, akan mendapat daging asap gratis.”
Perempuan itu memutar bola matanya, lalu menatap sekeranjang daging asap, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Apakah makanan ini higienis? Bagaimana kalau setelah memakannya perutku jadi sakit?”
Shen Qingqing mengulum senyum tipis. Rupanya, perempuan itu sedang menunggunya terjebak dalam hal ini.
“Semua bahan kami jelas asal-usulnya, dan proses pembuatannya juga bersih serta higienis. Tidak mungkin membuat orang sakit.”
Shen Qingqing mengamati perempuan di hadapannya sambil diam-diam memikirkan cara untuk menghadapinya.
Halaman (2/3)
“Kalau begitu, beri aku lima batang.”
Begitu perempuan itu selesai berbicara, dari kejauhan terdengar suara tangisan dan teriakan.
“Jangan ada yang membeli dendengnya! Orang yang memakannya bisa mati!”
Perempuan tadi segera mundur beberapa langkah. Ia menunjuk dendeng milik Shen Qingqing sambil berteriak lebih keras, “Semuanya, jangan beli lagi! Orang yang memakannya bisa mati!”
Wajah Shen Qingqing seketika menjadi dingin. Ia menoleh ke arah suara itu dan melihat perempuan tua tadi sedang mendorong gerobak kecil. Di atasnya terbaring seorang anak yang sudah agak besar, dan gerobak itu melaju ke arah mereka.
Oh, jadi hari ini dia bahkan membawa pemeran figuran?
Begitu perempuan tua itu berteriak, beberapa orang yang semula hendak membeli pun menghentikan gerakan mereka dan berdiri di samping, mengamati situasi.
Wajah Shen Qingqing tampak sedingin es. Sepasang matanya yang berbentuk almon sedikit menyipit.
“Apa yang terjadi dengan dendengku sampai-sampai Bibi memfitnahku seperti ini?”
Perempuan tua itu duduk di tanah sambil memeluk anak yang berada di atas gerobak. Ia menangis dan berteriak keras, “Cucuku yang malang! Tadi dia mencicipi dendengmu. Dia terus merengek dan memaksa ibunya membelikannya. Siapa sangka…”
Perempuan tua itu baru mengucapkan setengah kalimat ketika air matanya kembali berderai tanpa henti.
Halaman (3/3)