Bab Seratus Sebelas: Terjadi Peristiwa Besar
“Nanti kau bilang saja bahwa kau adalah pacar baruku. Jangan sekali-kali bilang bahwa kau dipelihara olehku, ya. Bibiku itu agak kolot dan paling tidak tahan mendengar hal-hal yang kacau seperti itu…”
Di sebuah restoran masakan Jepang yang sangat mewah, Huang Wenfei menggandeng lengan Zhao Ziqiang dengan mesra saat mereka berjalan masuk. Namun, Zhao Ziqiang bertanya dengan bingung, “Bukankah kau sudah memutuskan hubungan dengan keluargamu? Kau masih berhubungan dengan bibimu?”
Barulah kali ini Huang Wenfei bersikap serius. Dengan wajah tak berdaya, ia berkata, “Beberapa tahun lalu aku masih kekanak-kanakan dan membuat keluargaku kacau-balau. Namun, setelah kehilangan mereka, barulah aku menyadari betapa berharganya kasih sayang keluarga. Jadi, hari ini bisa dianggap sebagai langkah pertamaku untuk mengakui kesalahan. Di rumah, perkataan Bibiku sangat berpengaruh, lho!”
“Bilang saja kau mencari seseorang untuk menjadi penengah.”
Zhao Ziqiang mendengkus tak acuh, lalu merangkul pinggang ramping Huang Wenfei dan membawanya masuk. Penampilan perempuan itu bahkan jauh lebih memikat daripada Li Yuanna. Aura bangsawan yang terpancar secara alami darinya benar-benar menarik perhatian. Sepanjang jalan, entah berapa banyak pria yang menatapnya dengan penuh nafsu, membuat Tuan Zhao merasa bahwa utang dua ratus ribu itu sama sekali tidak sia-sia.
“Haha, Bibi! Kau sudah sampai, ya…”
Huang Wenfei membuka pintu geser sebuah ruang privat. Begitu melihat perempuan di dalam, ia bahkan tidak melepas sepatunya dan langsung menerjang masuk. Dengan gembira ia berseru, “Ya ampun! Kenapa kau semakin cantik saja? Apa kami, gadis-gadis muda ini, masih boleh hidup? Kalau kita keluar bersama, orang-orang pasti mengira kau kakakku!”
“Hehe, omong kosong apa itu? Aku memang masih muda, tahu…”
Bibi Huang Wenfei menepuk lengannya dengan gembira, lalu secara naluriah menoleh ke arah pintu. Tepat saat Zhao Ziqiang melangkahkan kaki masuk, ia mendengar suara itu. Kepalanya seakan dihantam ledakan dahsyat, dan wajahnya seketika berubah berkali-kali seperti baru saja melihat hantu.
“Eh? Zhao Ziqiang! Kenapa kau ada di sini? Kau bersama Feifei…”
Fang Wen juga menatap Zhao Ziqiang dengan wajah penuh keterkejutan. Zhao Ziqiang hampir kehilangan akal sehatnya. Begitu melihat Huang Wenfei hendak membuka mulut, ia segera melesat ke arahnya, mencengkeramnya, lalu memaki dengan garang, “Perempuan kurang ajar! Sebenarnya permainan apa yang sedang kau lakukan? Katamu membawaku untuk mengambil uang, tapi ternyata kau malah datang menemui bosku. Kau sudah bosan hidup, ya?”
“Zhao Ziqiang, apa yang kau lakukan? Dia keponakanku…”
Fang Wen langsung bangkit dengan marah dan menendangnya. Barulah Zhao Ziqiang melepaskan cengkeramannya dengan wajah “terkejut”.
“Hah? Wenwen! Dia keponakanmu? Kenapa tidak bilang dari tadi? Hari ini aku datang ke rumahnya untuk menagih utang. Kalau bukan karena aku menghalangi para penagih utang itu, dia pasti sudah dicabik-cabik hidup-hidup!”
“Kalian… kalian saling mengenal?”
Huang Wenfei begitu terkejut hingga mulutnya menganga. Dari cara Zhao Ziqiang memanggil Fang Wen, jelas hubungan mereka tidak biasa. Namun, ketika melihat Zhao Ziqiang mati-matian mengedipkan mata ke arahnya, ia segera menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkannya.
“Feifei! Bukankah sudah lama Bibi katakan bahwa pria yang kau pilih itu bukan orang baik? Hampir tidak ada satu sen pun dari uangnya yang bersih. Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan nasihat Bibi…”
Fang Wen menunjuk Huang Wenfei dengan marah. Kasus pengembang yang melarikan diri itu sudah menggemparkan seluruh kota, tentu saja tidak mungkin luput dari telinga Fang Wen. Namun, Huang Wenfei memasang wajah merana dan merapat ke pelukan Fang Wen.
“Bibi! Aku benar-benar sudah sadar akan kesalahanku. Hari ini aku mengajak Bibi makan karena ingin Bibi menemaniku pulang untuk mengakui kesalahan. Aku benar-benar ketakutan hari ini. Banyak sekali orang datang menagih utang kepadaku. Bahkan orang jahat ini merampas semua barang di kamarku!”
“Tenang, Sayang! Selama ada Bibi, kau tidak perlu takut pada apa pun. Zhao Ziqiang! Sebenarnya berapa banyak utang keponakanku? Kenapa kau tega menindas gadis muda seperti dia?”
Fang Wen memelototi Zhao Ziqiang dengan geram. Huang Wenfei buru-buru menggerakkan bibirnya, terus-menerus mengucapkan, “Dua puluh juta.”
Namun, setelah menutup pintu, Zhao Ziqiang malah berkata dengan jujur, “Pria itu telah menipu kami sebanyak satu juta delapan ratus lima puluh ribu secara keseluruhan. Ditambah tiga ratus ribu milik temanku, jumlahnya sudah lebih dari dua juta. Itu semua uang hasil jerih payah orang lain. Kalau bukan kepada dia, kepada siapa lagi aku harus menagihnya?”
“Oh! Dasar keledai bodoh…”
Huang Wenfei menepuk dahinya keras-keras lalu menjatuhkan diri di atas tatami. Fang Wen sama sekali tidak menyadari akal-akalan kecilnya. Ia menunjuk Zhao Ziqiang dan memakinya, “Lihatlah betapa piciknya dirimu. Baru lebih dari dua juta saja kau sudah menindas orang seperti ini. Kalau lebih dari dua puluh juta, apa kau akan langsung membunuh orang? Aku akan menuliskan cek tunai untukmu sekarang juga. Kalau kau berani mengganggu keponakanku lagi, akan kuhancurkan batu sialanmu itu!”
“Aku tidak mau uangmu. Kalau kau memang ingin membayar, lunasi saja tiga ratus ribu milik temanku. Uangku yang lebih dari satu juta itu anggap saja sebagai pelajaran. Nanti akan kucari cara untuk mendapatkannya kembali…”
Zhao Ziqiang menarik ujung celananya, lalu duduk berhadapan dengan kedua perempuan itu. Fang Wen pun semakin tersulut emosinya. Ia menepuk meja dan berkata, “Jangan keras kepala di depanku. Kalau kusuruh kau menerimanya, ya terima saja. Kau dan aku sama-sama tahu bahwa kau hidup dari belas kasihan perempuan. Kalaupun kau tidak mengambil uang ini, kau tetap tidak akan menjadi orang yang terhormat!”
“Ya ampun! Bibi, kau memelihara pria muda?”
Huang Wenfei seolah baru saja mendengar berita yang menggemparkan. Ia segera bangkit dan menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak penuh keterkejutan. Wajah Fang Wen seketika memerah padam, sementara ia tergagap-gagap tanpa tahu harus menjawab apa.