Bab Tiga Puluh Enam: Raja Hidup Santai Berlapis Emas (Bagian Kedua)
Zhao Ziqiang mendorong kapten Zhu yang menghalangi di depannya, lalu melangkah lebar menuju mobil Santana 3000 yang terakhir. Di samping mobil itu berdiri seorang sopir kecil yang tampak kurus dan lemah, jelas sekali dari gayanya kalau dia sering jadi sasaran penindasan.
Melihat Zhao Ziqiang berjalan dengan langkah mantap ke arahnya, sopir itu langsung tersenyum menyanjung, buru-buru merogoh saku dan mengeluarkan kunci mobil, lalu menyerahkannya pada Zhao Ziqiang sambil berkata dengan jujur, “Selamat siang, ini kunci mobilnya. Mobil ini baru saja saya cuci pagi tadi. Bagian bawah jok dan bagasi sudah saya vakum, cairan lilin mobil saya letakkan di kotak peralatan, sepertinya masih sisa sekitar tiga ratus mililiter. Kalau Bapak ragu, kita bisa ukur bersama sekarang juga!”
“Wah, sampai cairan lilin mobil pun dihitung mililiter segala?” Zhao Ziqiang memandangnya tidak percaya, lalu menepuk bahunya dengan rasa iba, “Saudara, kalau aku jadi kamu sudah lama minggat dari sini. Sekalipun digaji sepuluh juta sebulan, aku nggak tahan diperlakukan segitu pengecutnya!”
“Hehe, sebenarnya nggak apa-apa kok, fasilitas perusahaan lumayan bagus...” sopir kecil itu tersipu-sipu, lalu menunjuk ke arah mobil, “Oh iya, mobil ini dipakai sebagai kendaraan dinas untuk Departemen Umum, minuman keras dan rokok biasanya disimpan di dalam mobil, pihak departemen akan memeriksa persediaannya tiap minggu. Tapi minuman kerasnya mahal-mahal, ratusan ribu per botol, jadi hati-hati kalau mengemudi ya!”
“Makasih!” Zhao Ziqiang menepuk bahunya lagi, lalu berbalik menuju bagasi. Sopir kecil itu mengira dia akan menghitung jumlah barang, buru-buru ikut mendekat, tapi siapa sangka Zhao Ziqiang malah membungkuk dan mengambil sebungkus rokok mewah, dengan cekatan membuka dan menyalakan sebatang untuk dirinya sendiri, lalu melempar dua bungkus lagi ke arah sopir kecil. Melihat sopir itu tertegun, Zhao Ziqiang terkekeh, “Mana ada sopir yang nggak ambil jatah dari barang kantor, cuma orang bloon yang mau repot-repot itung-itungan sama mereka!”
Selesai berkata, Zhao Ziqiang menggigit rokok lalu melompat ke dalam mobil. Kondisi di dalam memang seperti kata sopir kecil tadi, bersih tanpa noda. Zhao Ziqiang sangat puas, menepuk-nepuk setir. Untuk saat ini, ada mobil seperti ini saja sudah cukup nyaman. Kalau disuruh mengemudikan Rolls-Royce Phantom yang seperti tongkat sihir itu, dia malah ogah—mengendarai mobil itu jelas-jelas mengumumkan di jidatnya kalau dia cuma sopir!
Tak lama kemudian, Fang Wen keluar diiringi para pemimpin perusahaan. Para sopir buru-buru naik ke mobil masing-masing, satu per satu seperti pengemudi kendaraan tempur yang siap berangkat, mesin meraung-raung dan perlahan membawa mobil mereka ke depan para atasan.
Saat itu, tiba-tiba sebuah Santana 3000 yang tampak biasa saja melaju dari sisi samping, dalam sebelas detik sudah melampaui Rolls-Royce Phantom yang memimpin di depan. Dengan manuver yang indah, mobil itu berhenti tepat di depan Fang Wen.
“Ketua, silakan naik!” Zhao Ziqiang menurunkan kaca jendela Santana dan melambai penuh percaya diri pada Fang Wen, sementara kapten Zhu di Rolls-Royce belakang hampir saja meledak marah, membunyikan klakson berkali-kali agar Zhao Ziqiang segera menyingkir.
“Kenapa kamu pakai mobil ini?” tanya Fang Wen heran pada Zhao Ziqiang. Tapi Zhao Ziqiang dengan santai menjawab, “Mereka semua keroyokan ngerjain aku yang baru, cuma dikasih mobil ini. Tapi nggak apa-apa, mobil ini sudah aku bersihkan sampai kinclong, bahkan di bawah karpet kaki sudah aku vakum juga, lihat sendiri, mengilap kan!”
Kalau orang lain bicara begini pada Fang Wen, mungkin sudah sejak tadi dia putar wajah dan memecat orang itu. Tapi Fang Wen tahu pria ini tidak pernah bisa bersikap serius. Maka, di antara tatapan penuh keheranan banyak orang, dia benar-benar membuka pintu Santana dan duduk di dalam, bahkan memilih kursi penumpang depan!
Zhao Ziqiang segera membawa Fang Wen melesat pergi, bahkan dua asisten di belakang pun tak sempat ikut serta. Dia mengeluh, “Perusahaan kamu ini birokratis banget, aku cuma sopir baru saja sudah dikeroyok, orang yang sebelumnya pegang mobil ini malah lebih parah, sampai lilin mobil pun ditakar gram!”
“Ketelitian, ketelitian, dan ketelitian, itu prinsip yang selalu kutekankan, sekarang kamu juga harus ingat itu...” Fang Wen menoleh tanpa ekspresi memandang Zhao Ziqiang, seolah itu adalah hal yang wajar. Zhao Ziqiang yang mendengar itu langsung jengkel, lalu mengubah topik, “Ngomong-ngomong, kenapa kamu sudah keluar rumah sakit? Peluru di kepalamu itu bukan perkara main-main!”
“Seandainya kemarin kamu tanya, mungkin aku benar-benar bingung harus bagaimana. Tapi hari ini...” Fang Wen tiba-tiba tersenyum cerah, memiringkan kepala memandang Zhao Ziqiang, “Aku putuskan menambah satu tugas lagi untukmu, yaitu menjadi terapis pribadiku!”
“Hah? Jangan bercanda, kemampuanku cuma bisa memperbaiki cedera fisik, nggak bisa ngeluarin peluru dari kepala kamu...” ujar Zhao Ziqiang kaget.
Fang Wen dengan santai menjawab, “Dokter sudah bilang, selama sakit kepala ku tidak kambuh lagi, tidak perlu operasi. Dan kemampuan dalam kamu memang ajaib, rasanya bukan cuma meredakan sakit, tapi benar-benar menyembuhkan. Jadi selama kamu terus mengobatiku, pasti tidak ada masalah!”
“Tidak bisa, itu kan inti kekuatanku, menggunakannya sangat melelahkan...” Zhao Ziqiang langsung memandang Fang Wen licik, lalu berkata, “Gaji sopir dan terapis harus dipisah, kalau tidak aku rugi. Lagipula, kamu bos besar, masa pelit soal uang segitu?”
“Kamu tahu tidak, aku paling benci karyawan rewel soal hal sepele seperti kamu...” Fang Wen memelototinya dengan wajah malu dan kesal, tapi Zhao Ziqiang malah nyengir tak tahu malu, “Hehe~ Tapi harus ada modal buat tawar-menawar, kelebihanku cuma aku yang bisa masuk dan keluar tubuhmu, pekerjaan ini tak bisa dilakukan orang lain!”
“Aku transfer dua ratus juta ke rekeningmu, kalau masih nggak puas, aku cari orang lain yang lebih hebat...” Fang Wen langsung memalingkan wajah, enggan bicara lagi. Zhao Ziqiang dengan hati-hati mengangkat empat jari, menawarkan, “Empat ratus juta?”
“Seratus lima puluh juta, kalau kamu berani nawar lagi, aku kurangi lima puluh juta...”