Bab Sembilan Belas: Prinsip Hidup Paman Ular
“Kepalaku sakit sekali!”
Ye Cang memegangi kepalanya saat bangun dari tempat tidur, rasa nyeri yang menusuk-nusuk menyerang bagian belakang kepalanya. Siapa pun yang pernah mengalami mabuk pasti tahu rasanya.
“Ayo, sikat gigimu dulu, lalu cuci muka.”
Melihat Ye Cang akhirnya sadar, Li Qingyuan segera menyodorkan sikat gigi dan handuk padanya.
“Eh!”
Ye Cang bingung, di mana sebenarnya dia sekarang? Namun dia tak sempat berpikir panjang, karena seseorang sudah memberi isyarat agar ia segera memasukkan sikat gigi ke mulut.
Dengan wajah penuh kebingungan, Ye Cang tidak punya tenaga untuk melawan. Sebanyak apa pun pertanyaan yang berputar di kepalanya, sepertinya ia memang harus menyikat gigi dan mencuci muka dulu!
Sepuluh menit berlalu, Ye Cang yang sudah rapi kini duduk di meja makan. Ia menatap Li Qingyuan yang sedang berkemas, lalu bertanya,
“Tadi malam, apa aku mengatakan hal aneh, atau melakukan sesuatu yang aneh?”
Sampai sekarang kepalanya masih kosong. Jika ingatannya benar, tadi malam ia memang minum terlalu banyak? Lalu samar-samar ia mengingat, setelah mabuk dirinya malah menekan kepala seseorang ke dadanya dan menggelindingkannya ke sana kemari?
Mengingat hal itu, wajah Ye Cang mendadak terasa panas, bahkan ia jadi ragu untuk menatap orang itu. Bagaimana mungkin ia melakukan hal yang begitu memalukan? Semakin dipikir, tubuhnya terasa semakin panas. Setelah ia tertidur, apakah orang itu melakukan sesuatu yang tidak pantas?
“Tadi malam kau baik-baik saja, habis mabuk langsung tidur. Oh iya, bereskan barangmu, kita harus bersiap pulang!”
Li Qingyuan sudah tahu apa yang ingin ditanyakan Ye Cang, jadi ia menjawab dengan santai.
“Eh? Pulang?”
Ye Cang sempat tertegun, baru kemudian menyadari maksudnya.
“Benar, semuanya sudah dibicarakan dengan Desa Daun, kontraknya pun sudah ditandatangani!”
Li Qingyuan mengeluarkan sebuah dokumen perjanjian dari dalam tas dan menyerahkannya pada Ye Cang.
“Desa Daun dan Desa Pasir sepakat melakukan gencatan senjata penuh, dan Desa Daun membayar bantuan perang sebesar dua puluh lima miliar ryo pada kita?”
Kontrak itu pendek saja, Ye Cang langsung selesai membacanya. Ia pun bertanya lirih,
“Tadi malam serangan mendadak berhasil?”
Kontrak ini memang membuat Desa Pasir kehilangan harga diri, mereka harus mengakui Desa Daun sebagai negara pemimpin aliansi, bahkan harus menerima arahan dari negara pemimpin itu. Tapi dua puluh lima miliar ryo uang tunai adalah angka yang luar biasa bagi Desa Pasir.
Untuk gambaran, enam belas tahun kemudian, satu Asuma saja hanya bernilai tiga puluh lima juta ryo. Dua puluh lima miliar berarti setara lebih dari tujuh puluh Asuma!
Jadi, Ye Cang mengira secara naluriah kalau aksi Rasa telah berhasil. Logistik Desa Daun terputus dan mereka harus menghadapi tekanan dari tiga pihak lain, sehingga terpaksa membeli perdamaian dengan uang.
“Gagal. Kazekage keempat gugur dalam tugas, jasadnya baru saja aku ambil kembali, ada di sini.”
Li Qingyuan menyerahkan sebuah gulungan segel. Tadi malam, ia butuh banyak upaya untuk mendapatkan jasad Rasa dari Orochimaru.
Bagaimanapun juga, Rasa adalah seorang Kazekage, jasadnya pasti sangat berharga untuk penelitian Orochimaru. Mengambil sesuatu dari tangan ular itu jelas bukan perkara mudah. Tapi apapun yang terjadi, Li Qingyuan harus membawa pulang jasad ini. Sebagai duta perundingan, mana bisa ia membiarkan jasad Kazekage keempat jatuh ke tangan orang lain?
“Gagal?”
Ye Cang terpaku, bahkan tak menyentuh gulungan segel itu, hanya menatap Li Qingyuan dengan tatapan kosong.
“Misi Kazekage memang gagal, tapi misi kita berhasil!”
Melihat ekspresi Ye Cang yang tertegun, Li Qingyuan tahu gadis ini pasti butuh waktu untuk mencerna semuanya.
“Mengapa bisa begitu?”
Ye Cang menatapnya kaku, pikirannya penuh tanda tanya.
Kenapa aksi Kazekage gagal, tapi Desa Daun malah mau menandatangani perjanjian gencatan senjata yang aneh?
“Penjelasan detailnya cukup rumit, nanti saat kita pulang, biar aku jelaskan perlahan pada kedua tetua.”
Mendengar itu, Ye Cang segera mengangguk. Meski kematian Kazekage membuatnya sulit menerima, sekarang memang bukan saat yang tepat untuk mengobrol.
“Qingyuan, aku berharap kau benar-benar menepati isi perjanjian ini.”
Setelah mereka berdua selesai berkemas dan keluar dari kemah, Orochimaru sudah menunggu di luar.
“Tenang saja, selama Desa Daun memberikan bantuan ekonomi, Desa Pasir pasti akan menjadi sekutu paling setia bagi Desa Daun!”
Begitu bertemu, mereka saling bertukar salam ramah, membuat Minato Namikaze yang berdiri di samping merasa merinding.
Tadi malam, ia bahkan bersembunyi di depan tenda seseorang, tinggal menunggu Orochimaru memberi perintah untuk masuk dan membunuh sepasang kekasih itu. Orochimaru memang bukan orang baik-baik, mengkhianati rekan sendiri adalah hal biasa baginya.
Tapi baik Minato maupun Orochimaru tak menyangka orang itu begitu licik, tak memberi celah sedikit pun bagi lawan maupun desa sendiri.
Desa Awan sejak dulu kekuatannya hanya sedikit di bawah Desa Daun, tiga kali perang ninja besar pun umumnya dipicu oleh mereka. Jika Desa Pasir langsung berafiliasi dengan Desa Awan, itu bisa jadi bencana besar bagi Desa Daun.
Saat ini posisi Desa Daun mirip Amerika di masa depan, sedangkan Desa Awan seperti Beruang Merah. Meski kekuatan militer mereka tak jauh berbeda, dari segi sumber daya dan ekonomi, Beruang Merah hanya mengancam tapi tak bisa membinasakan Amerika.
Desa Pasir sendiri seperti Ukraina di Eropa, lemah di militer maupun ekonomi, miskin dan tak punya keunggulan apa pun. Namun, jika dua negara yang tampak tak ada hubungannya itu bergabung, mereka bisa jadi momok dunia, seperti legenda Kekaisaran Baja Merah.
Begitu pula, jika Desa Awan menelan Desa Pasir, posisi Desa Daun sebagai nomor satu dunia ninja bisa saja tergeser!
Jika predikat nomor satu lepas, apakah Desa Daun akan mampu mempertahankan tanah suburnya?
Tentu saja Orochimaru tahu orang itu sedang menggertaknya, memaksa agar seluruh desa berafiliasi ke luar negeri sama saja dengan kehilangan negara. Hampir semua orang pasti menolak.
Tapi siapa tahu nenek Chiyo tiba-tiba nekat? Setelah kematian anak dan menantunya, pikirannya memang tak stabil. Jika harapan masa depan Desa Pasir pun dimusnahkan, bukan mustahil ia akan memilih jalan bunuh diri bersama musuh.
Kalau sampai itu terjadi, Desa Daun kehilangan sekutu sekaligus menghadapi ancaman mematikan, jangan harap jadi Hokage keempat. Dengan watak gurunya, Hiruzen Sarutobi, bisa-bisa kulitnya dikuliti tiga lapis!
Akhirnya, setelah pergulatan batin, Orochimaru memilih jalan aman.
Tentu saja, alasan utamanya karena Orochimaru tahu, orang secerdik dan licik itu tak mungkin menjerumuskan diri sendiri ke jurang maut. Entah kartu apa yang disimpannya, Orochimaru pun enggan mencobanya.
Prinsip hidup Paman Ular: Bertahan hidup adalah segalanya, jangan pernah mencoba-coba mencari mati!