Bab 22 Aku Hanya Menginginkan Tuan Muda Yun
"Jika takut, kau bisa memilih untuk tetap tinggal di sini," ujar Yun Che sambil melirik Jiang Wan'er sekilas.
Jiang Wan'er langsung terdiam dan berdiri dengan patuh di samping.
Song Wanning hampir tertawa terbahak-bahak. Ternyata Yun Che adalah pria yang tidak peka, bahkan tidak bisa melihat niat terselubung Jiang Wan'er. Jelas sekali gadis itu sengaja berpura-pura lemah agar diperhatikan.
Song Wanning berdeham, melangkah maju, dan menepuk bahu Jiang Wan'er. Namun, sebelum ia sempat bicara, Jiang Wan'er tampak jijik dan segera mundur ke sisi Kepala Desa Jiang.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh aku!" seru Jiang Wan'er hampir menjerit.
Song Wanning merasa tak berdaya. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya ingin menenangkan gadis itu. Namun, Jiang Wan'er merasa jijik dengan penampilan Song Wanning. Saat ini, Song Wanning sedang menyamar sebagai laki-laki, namun pakaiannya tidak semewah milik Yun Che, auranya pun berbeda. Ditambah lagi dengan wajah yang kotor dan kusam, wajar jika Jiang Wan'er enggan berdekatan dengannya.
"Sudahlah," gumam Song Wanning sambil menggeleng. Ia berjalan ke samping Yun Che, melirik bayi itu, lalu berpesan, "Berikan anak ini kepada ayah dan ibuku. Aku sudah menempelkan koyo penurun panas di tubuh Jiang'er, minta mereka untuk menjaga dan menggantinya nanti."
"Kalau begitu, berhati-hatilah. Aku akan segera kembali," ucap Yun Che dengan tatapan teduh yang menyiratkan kekhawatiran pada Song Wanning.
"Tenang saja," Song Wanning menepuk lengan Yun Che, lalu menarik tali rami dan menyerahkannya kepada pria itu.
Di bawah tatapan semua orang, Yun Che menggendong bayi tersebut, melompat dengan ilmu meringankan tubuh, dan menghilang dalam sekejap mata. Semua orang terperangah. Siapa sangka di samping Song Wanning terdapat orang dengan kemampuan bela diri sehebat itu. Terlebih lagi, mendengar rencana Yun Che untuk mencari Huzi dan yang lainnya, berarti kelompok Song Wanning ternyata cukup besar. Mungkin mengikuti Song Wanning adalah pilihan yang tepat.
Namun, tidak lama setelah Yun Che pergi, suara guntur mulai terdengar bergemuruh. Jiang Wan'er kembali ketakutan dan menyembunyikan diri di pelukan Kepala Desa Jiang, matanya memerah.
"Ayah, bagaimana jika kita tidak bisa keluar? Jika kita keluar dan bertemu gerombolan perampok, bukankah kita semua akan mati?" Jiang Wan'er mulai menyebarkan kepanikan, membuat Song Wanning merasa kesal. Song Wanning telah berjanji berkali-kali untuk menjamin keselamatan mereka, tetapi sikap Jiang Wan'er justru membuat orang lain kehilangan keberanian.
"Nona Jiang, kau terlalu khawatir. Orang-orangku akan segera datang," ujar Song Wanning datar sambil meliriknya.
Jiang Wan'er hanya mendengus dingin. "Yang hebat itu bukan kau, kau hanya tahu sedikit ilmu medis. Tuan Muda Yun tadi adalah orang yang paling hebat. Seharusnya kau saja yang naik lebih dulu. Jika ada Tuan Muda Yun di sini untuk melindungi kita, kita tidak akan merasa takut seperti ini."
Sikap pilih kasih Jiang Wan'er begitu gamblang. Ia benar-benar terpikat pada Yun Che. Namun, panggilan "Tuan Muda Yun" yang terus diulang-ulang membuat Song Wanning merasa risih.
Itu adalah orangnya sendiri, apa maunya gadis ini? Mungkin karena terlalu lama bersembunyi di ruang bawah tanah, ia belum pernah melihat pria seperti Yun Che. Dangkal sekali, pikir Song Wanning. Namun, bayangan wajah rupawan dan tubuh atletis Yun Che tiba-tiba melintas di benaknya. Ia pun tak sengaja melamun. Jika dipikir-pikir, penampilan Yun Che memang luar biasa. Tidak heran jika banyak gadis yang terpesona. Jiang Wan'er selalu menatap Yun Che dengan mata berbinar, meski Yun Che bersikap dingin.
...
Sementara itu, Yun Che kembali ke tempat tinggal mereka. Ia mengetuk pintu dengan kode tiga ketukan panjang dan dua ketukan pendek. Huzi segera membuka pintu, namun hanya melihat Yun Che seorang diri.
"Tuan Muda tidak kembali?" tanya Huzi. Pertanyaannya menarik perhatian orang-orang di dalam rumah. Mereka mengira terjadi sesuatu dan bergegas menghampiri. Ternyata benar, Song Wanning tidak ada.
Melihat raut wajah mereka yang cemas, Yun Che segera menyerahkan bayi itu ke tangan Huzi dan menjelaskan dengan cepat apa yang terjadi di ruang bawah tanah. Song Jiang segera mengambil bayi itu untuk dirawat, sementara Liu Mei dan Song Rong membantu. Huzi lalu mengajak beberapa rekannya pergi bersama Yun Che menuju mulut sumur.
Di dasar sumur, orang-orang mulai merasa takut tanpa alasan. Song Wanning mendengar bisik-bisik mereka yang menduga apakah Yun Che akan kembali atau justru meninggalkan mereka karena takut dikepung perampok. Namun, Song Wanning tahu pasti bahwa tidak ada orang di mulut sumur. Jiang Wan'er yang mendengar bisikan itu pun segera membela Yun Che dengan berkacak pinggang.
"Kalian tidak boleh bicara begitu tentang Tuan Muda Yun! Aku yakin dia akan segera kembali. Dia pergi menjemput bantuan demi keselamatan kita semua, jadi jangan asal menebak!" seru Jiang Wan'er dengan bibir cemberut.
Orang-orang terdiam. Song Wanning merasa sedikit berterima kasih karena setidaknya suasana menjadi tenang.
Tak lama, Yun Che kembali. Ia turun dan memberi tahu Song Wanning bahwa Huzi dan yang lainnya sedang berjaga di mulut sumur. Yun Che membawa beberapa tali tambang yang tebal, sehingga mereka bisa naik sekaligus.
"Baiklah, kita lakukan satu per satu," ujar Song Wanning mengatur antrean. Ia mengikatkan ujung tali ke tubuh para orang tua terlebih dahulu agar mereka bisa ditarik ke atas.
Namun, Jiang Wan'er tidak sabar. Ia mencoba menerobos, tetapi dihentikan oleh Song Wanning karena masih ada anak-anak yang harus didahulukan.
"Nona Jiang, harap menunggu sebentar," tegas Song Wanning.
"Apa maksudmu? Aku ingin pergi, tapi kau melarangku!" Jiang Wan'er mulai merengek dan menghentakkan kakinya.
"Adik kecil, biarkan Wan'er naik lebih dulu saja," pinta Kepala Desa Jiang sambil memberikan gilirannya. Song Wanning pun akhirnya membiarkan.
Jiang Wan'er dengan gembira menghampiri Yun Che, berharap pria itu membantunya mengikat tali. Namun, Yun Che justru melemparkan tali itu begitu saja ke tangannya. Song Wanning yang melihat kejadian itu tak mampu menahan tawa. Jiang Wan'er merasa malu, namun penolakan terang-terangan Yun Che tidak memadamkan ketertarikannya.
"Tuan Muda Yun, aku akan menunggumu di atas," ucapnya sebelum naik, tak lupa menatap Yun Che dengan pandangan penuh perasaan.
Song Wanning mendekat ke sisi Yun Che dan menggoda, "Sepertinya kau tidak bisa menghindari penggemarmu yang satu ini." Ia menahan tawa melihat raut wajah Yun Che yang tampak masam.
"Jika kau butuh penggemar seperti itu, aku bisa memberikannya padamu," sahut Yun Che dingin.