Bab 44 Gendang Guntur
"Kau sekarang sedang berlatih teknik tingkat Huang, bukan?" Yue Xin'er melipat kedua tangannya di depan dada. Cahaya rembulan bagaikan air, dengan lembut menyinari wajahnya yang jelita bak giok serta dadanya yang membusung indah, menambah kesan anggun nan misterius padanya, bagaikan sesosok peri di bawah rembulan yang tampak dingin sekaligus memikat.
"Bagaimana menurutmu?" Mendengar itu, Mu Yun tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan mengenai tingkat teknik bela dirinya, melainkan melemparkan kembali pertanyaan itu kepada sang gadis.
"Teknik tertinggi Keluarga Mu seharusnya berada di tingkat Huang bermutu tinggi. Hanya dengan teknik tingkat Huang bermutu tinggi saja, kultivasimu sudah bisa setara dengan para murid dari klan besar yang berlatih teknik tingkat Xuan. Jika kau diberi teknik yang lebih baik lagi, pencapaianmu di masa depan mungkin akan jauh melampaui batas ini," ucap Yue Xin'er dengan nada penuh kagum.
"Benar! Kesenjangan antara satu orang dan orang lainnya sudah ada sejak mereka lahir." Wajah Mu Yun dipenuhi senyuman tanpa menyiratkan sedikit pun keluhan. Teknik *Sembilan Sembilan Menjadi Satu* yang ia kultivasikan saat ini sama sekali bukan berasal dari Keluarga Mu, dan ia sendiri pun tidak tahu berada di tingkat apa teknik tersebut.
"Sebenarnya, dengan kekuatanmu saat ini, kau bisa pergi ke klan besar untuk menjadi seorang tamu agung. Klan-klan besar akan memperlakukanmu dengan istimewa, dan dengan status sebagai tamu agung itu, kau bisa mempelajari teknik tingkat yang lebih tinggi." Niat Yue Xin'er tulus demi kebaikan Mu Yun, sehingga ia sengaja menunjukkan sebuah jalan baginya.
"Kau tidak memahami watakku. Aku tidak suka dikekang, dan aku juga tidak ingin berhutang budi pada orang lain. Bergabung dengan klan besar dan menjadi tamu agung bukanlah jalan yang ingin kuambil," jawab Mu Yun sambil menggelengkan kepala. Meskipun status sebagai tamu agung di klan besar begitu terhormat, pada akhirnya mereka tetap berada di bawah naungan orang lain dan harus hidup dengan mengikuti suasana hati sang penguasa.
Di dunia ini, jika seseorang ingin menjadi lebih kuat dan mendapatkan sumber daya, selain mencarinya sendiri, masih ada satu cara lagi, yaitu... merampas!
Benar, merampas!
Di dunia ini, yang kuat adalah penguasa. Siapa yang memiliki kepalan tangan terbesar, dialah yang memiliki hak untuk berbicara.
"Hm..."
"Setelah seharian bersama, aku baru menyadari bahwa watakmu yang bebas dan tak terikat ini memang kurang cocok dengan cara hidup seperti itu. Tadi aku hanya berucap sekadar saran."
"Bukankah kau ingin mandi? Kenapa masih di sini mengobrol denganku? Tidakkah kau berniat menghadiri upacara ritual Keluarga Mu?"
"Ah, begitu mengobrol, aku malah lupa urusan penting."
Sebelum upacara ritual dilangsungkan, banyak persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Mandi dan mengganti pakaian, membakar dupa dan wewangian...
Yue Xin'er tersenyum manis lalu melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Mu Yun menepuk-nepuk telinganya lalu berjalan menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu tertutup, ia mengeluarkan seluruh sumber daya dari dalam cincin penyimpanan.
Di atas meja tersusun ratusan jenis obat mujarab, ada yang untuk menyembuhkan luka, memulihkan energi darah, hingga meningkatkan kultivasi...
Di lantai berserakan ratusan senjata dengan kualitas yang lumayan bagus. Senjata-senjata itu tidak dibutuhkannya, sehingga bisa ia berikan kepada para generasi muda Keluarga Mu.
Uang bulanan yang didapatnya mencapai lima juta liang. Angka tersebut sempat membuatnya terkejut; kemampuan Benteng Qingfeng dalam meraup kekayaan benar-benar membuat entah sudah berapa banyak orang yang menderita kerugian karenanya.
Ia memeriksa barang-barang itu satu per satu, dan senyuman di wajahnya kian mengembang. Perjalanan ke Benteng Qingfeng kali ini memberikan hasil panen yang kekayaannya melampaui imajinasi.
Ia mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya, sementara sisanya ia simpan ke dalam cincin penyimpanan yang lain.
"Mu Yun," suara lembut Yue Xin'er terdengar dari luar pintu.
Mendengar suara itu, Mu Yun membuka pintu.
Yue Xin'er mengenakan gaun porselen berwarna biru muda, berdiri dengan tenang di luar pintu. Sosoknya tampak semakin anggun dan mempesona di bawah bayang-bayang cahaya bulan. Rambut hitamnya yang sedikit basah menempel di lehernya yang putih jenjang, memancarkan wangi harum yang samar.
Wajah jelitanya tampak semakin jernih dan menawan diterpa cahaya rembulan, sementara sepasang matanya memancarkan binar penuh kehidupana.
Yue Xin'er menyelipkan anak rambut di dahinya ke belakang telinga lalu berkata, "Ayo kita pergi! Upacara ritualnya sepertinya sudah akan dimulai."
Mu Yun dan Yue Xin'er berjalan berdampingan menuju aula leluhur.
Di aula leluhur Keluarga Mu, gelak tawa dan suara percakapan bersahutan tanpa henti. Pria dan wanita, tua dan muda, berkumpul menjadi satu untuk menikmati jamuan pesta yang berlimpah dalam suasana yang hangat dan harmonis.
Kendati demikian, di tengah keriangan tersebut, tampaknya ada satu sosok penting yang absen.
"Aneh, kemana Tuan Muda Mu Yun?"
"Benar juga, aku tidak melihatnya. Ke mana perginya dia?"
Bisik-bisik mulai menyebar di tengah kerumunan. Orang-orang saling melempar pandangan penuh tanya, ingin menemukan sosok yang telah menjadi panutan di dalam hati mereka.
Tepat pada saat itu, Mu Yun dan Yue Xin'er datang bersama-sama, kontan menarik perhatian semua orang yang hadir. Mu Yun dapat merasakan bahwa tatapan yang dilayangkan oleh para anggota klannya dipenuhi dengan rasa takzim dan hormat.
Di dalam aula, cahaya lampu berpendar terang dan kepulan asap dupa membubung tinggi.
Upacara ritual telah dimulai. Para tetua klan yang mengenakan pakaian seragam upacara yang khidmat tengah memimpin hadirin untuk memanjatkan doa keselamatan kepada langit.
"Berdoa kepada langit memohon berkah, hukum alam berjalan teratur. Siapa yang menegakkan kebenaran akan mendapat banyak bantuan, siapa yang menyimpang akan dijatuhi hukuman surgawi."
"Mu Yun! Kau datang." Sesepuh Kedua telah pulih dari cederanya. Malam ini ia datang untuk mengikuti ritual klan. Begitu melihat Mu Yun, ia langsung menyambut dengan senyuman hangat dan mengucapkan rasa terima kasih, "Aku dengar dari para pelayan bahwa setelah aku terluka, kau khusus datang menjengukku dan menyembuhkan luka-luka ku. Terima kasih banyak!"
"Sesepuh Kedua, jangan sungkan begitu, ini memang sudah sepatutnya kulakukan," balas Mu Yun sambil melambaikan tangan merendah.
Setelah itu, Mu Yun berjalan menghampiri kakeknya dan membungkuk memberi hormat.
"Kakek, terimalah cincin penyimpanan ini." Mu Yun mengeluarkan cincin penyimpanan yang penuh berisi sumber daya dan menyerahkannya kepada sang kakek.
Mu An menerima cincin tersebut, secercah kebingungan melintas di matanya, namun sesaat kemudian, indra kesadarannya langsung menerobos masuk ke dalam cincin itu. Hanya dalam sekejap, pupil matanya langsung menyusut tajam. Rasa terkejut terpancar jelas di wajahnya hingga ia tak kuasa berseru, "Ini... sebanyak ini!"
Di dalam cincin itu, tumpukan obat mujarab berlimpah ruah, berbagai macam bijih berharga tersusun rapi, cukup untuk menopang konsumsi sebuah kekuatan besar selama beberapa tahun. Sumber daya yang dibawa pulang oleh Mu Yun kali ini benar-benar berhasil mengatasi krisis kekurangan sumber daya di Keluarga Mu yang sudah di ambang tandus.
Mu An menatap Mu Yun, lalu mengangguk sebagai isyarat agar cucunya itu berdiri di sisi arena untuk menyaksikan jalannya upacara.
Seiring dengan berakhirnya upacara doa dan persembahan kepada langit, para hadirin perlahan-lahan beranjak menuju kursi-kursi yang telah disiapkan di sekeliling arena pertarungan.
Area di sekitar arena bermandi cahaya terang benderang bagaikan siang hari.
Bantalan tempat duduk di atas kursi-kursi tersebut terbuat dari sutra pilihan yang terasa lembut dan nyaman saat disentuh.
Mu Yun duduk di sebelah Mu An, sementara Yue Xin'er duduk di samping ibunya, Mu Yuqing.
Sudah bertahun-tahun Mu Yuqing tidak pernah berpartisipasi dalam upacara ritual Keluarga Mu. Malam ini, bisa mendapat kehormatan untuk turut hadir membuat hatinya diliputi rasa haru dan emosi yang mendalam.
"Siapa yang akan menabuh Gendang Guncang Langit tahun ini?"
"Entahlah, tahun-tahun sebelumnya selalu para junior yang memiliki bakat luar biasa yang menabuh gendang, tahun ini pastinya juga begitu."
Para anggota klan saling berbisik-bisik, memperbincangkan sesi penabuhan gendang yang akan segera dimulai.
Di bawah tatapan penuh antisipasi dari orang banyak, Mu Hu memimpin belasan pria bertubuh tegap mengangkat sebuah gendang besar menuju ke tengah arena, lalu meletakkannya dengan dentuman yang berat.
Sang Kepala Klan, Mu An, perlahan bangkit berdiri. Sosoknya tampak agung dan berwibawa di bawah pantulan cahaya lampu.
Ia menyapu pandangannya ke sekeliling. Ke mana pun tatapannya beralih, para anggota klan langsung menahan napas dan menanti pengumumannya dalam keheningan.
"Hari ini adalah upacara ritual Keluarga Mu kita. Sesi penabuhan Gendang Guncang Langit adalah ujian untuk menguji kekuatan para generasi muda klan kita," suara Mu An terdengar tebal dan bertenaga, menggema di langit malam.
"Selanjutnya, siapa yang akan menabuh gendang, mari kita tentukan bersama-sama untuk memilih talenta terunggul Keluarga Mu yang paling berpotensi membunyikan sembilan tabuhan gendang!"
Begitu suara Mu An mereda, pandangan sejumlah orang langsung tertuju kepada para jenius berbakat di dalam klan. Para jenius tersebut juga tampak tidak sabar dan bersemangat untuk naik ke atas panggung guna menunjukkan kemampuan diri mereka.
Namun, mereka semua tahu di dalam hati, bahwa orang yang mampu membuat Gendang Guncang Langit berbunyi hingga sembilan kali, hanya ada satu orang di antara mereka yang sanggup melakukannya!
Semua orang secara serempak mengarahkan pandangan mereka kepada Mu Yun yang sedang duduk menikmati teh. Dulu, Mu Yun dianggap sebagai sampah sehingga mereka tidak pernah mengira pemuda itu mampu memikul tanggung jawab besar seperti ini. Kini, bakat Mu Yun telah pulih dan ia bangkit dengan dominasi penuh. Aksi heroiknya saat menebas mati praktisi alam Bela Diri Roh masih terpatri jelas di ingatan mereka dan sulit untuk dilupakan.
"Tuan Muda Mu Yun, tabuhlah gendangnya!"
"Tuan Muda Mu Yun, tabuhlah gendangnya!"
...
Semua orang meneriakkan satu nama yang sama secara serempak. Mu Yun memang sosok yang paling dijagokan dan diharapkan oleh semua orang!