Bab 28: Beraninya si Lemah Mempertanyakan yang Kuat?
"Tuan Muda, kesaktian Anda tak tertandingi. Jangan, jangan bunuh saya, saya masih punya orang tua dan anak-anak yang harus dinafkahi," ucap si tukang kayu dengan wajah penuh ketakutan. Ia melangkah mundur, tangan dan kakinya gemetar, suaranya terbata-bata.
Seorang wanita berpakaian gaun panjang berwarna hijau perlahan keluar. Di sampingnya, berdiri seorang nenek yang tertatih-tatih menopang tongkat; wajahnya dipenuhi guratan usia dan tatapan matanya tampak keruh. Dua anak kecil yang polos bersembunyi di balik punggung mereka, mengintip ke arah Mu Yun.
"Aku datang untuk membeli barang, bukan untuk membunuhmu. Apa yang kau takutkan?" Mu Yun tersenyum tipis, tampak begitu ramah dan tidak berbahaya, sangat kontras dengan ekspresi dinginnya tadi.
"Ibu, Kakak ipar, kembalilah ke dalam!"
"Tidak apa-apa..."
Mu Yun melambaikan tangan kepada mereka dengan senyuman.
"Mu Zi, yang datang adalah tamu, jangan abaikan mereka," seru sang nenek kepada putranya. Dalam situasi di mana ia tidak tahu apakah orang asing itu berniat baik atau jahat, lebih baik tetap tersenyum dan tidak menyinggung mereka. Bukankah ada pepatah bahwa seseorang tidak akan memukul orang yang tersenyum?
"Baik, Bu, saya mengerti. Kalian kembalilah!" Tukang kayu itu mengangguk, melambaikan tangan pada mereka, lalu menatap Mu Yun dengan senyum ramah. "Tuan Muda, kayu cendana emas itu disimpan di ruangan dalam. Ingin saya tunjukkan?"
"Ya." Mu Yun mengikuti di belakangnya menuju halaman belakang.
Di halaman belakang, beberapa murid sedang bekerja. Saat melihat sang tukang kayu, mereka segera menyapa, "Guru." Mereka kemudian mengalihkan pandangan ke arah Mu Yun dan Su Ling'er, terpesona oleh aura yang terpancar dari keduanya.
"Tuan Muda, di ruangan ini tersimpan peti mati dari kayu cendana emas. Peti ini berusia lima ratus tahun, diwariskan turun-temurun sejak kakek buyut saya dan dirawat hingga sekarang," ujar si tukang kayu dengan nada bangga.
Mu Yun masuk ke dalam ruangan. Di tengah ruangan, tampak sebuah peti mati yang dimaksud. Di bawah sinar matahari, permukaan peti itu memancarkan warna emas yang dalam dengan serat kayu yang halus dan unik. Udara di sekitarnya menebarkan aroma kayu yang samar, memberikan kesan misterius dan agung.
Mu Yun melangkah maju, meletakkan tangannya di atas peti, dan menyalurkan tenaga dalam. Energi itu seketika menyelimuti seluruh peti, membuatnya melayang di udara dan bersinar terang di bawah sinar matahari.
Peti itu tampak seperti harta karun yang baru muncul ke dunia, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Para pejalan kaki di jalanan berhenti dan menatap ke arah toko peti mati, terpesona oleh cahaya kemilau yang memenuhi udara.
Hal yang paling lucu adalah seorang tukang cukur yang perhatiannya teralihkan; ia tanpa sadar terus mencukur rambut pelanggannya hingga gundul, sementara sang wanita tidak menyadarinya sama sekali.
*Wush!*
Beberapa orang dengan tatapan serakah dan penuh nafsu mulai bergerak menuju toko peti mati tersebut.
Orang-orang di halaman yang tadi sedang bekerja kini ternganga melihat pemandangan di depan mata, berpikir bahwa teknik yang ditunjukkan pemuda ini jauh lebih hebat daripada guru mereka sendiri.
"Tuan muda ini hebat sekali!" gumam salah satu murid perempuan dengan tatapan memuja.
"Berapa harganya? Aku membelinya," ujar Mu Yun sambil memasukkan peti kayu cendana emas itu ke dalam cincin penyimpanannya, lalu menatap si tukang kayu.
Tukang kayu itu tampak ragu, terdiam sejenak, lalu memberanikan diri berkata, "Sepuluh ribu tael."
Mu Yun menyadari bahwa pria itu takut padanya dan sengaja memberikan harga yang murah. "Katakan yang sebenarnya, tidak perlu dikurangi."
"Dua belas... ribu," ucap tukang kayu itu dengan hati-hati, memperhatikan ekspresi Mu Yun.
Mu Yun menyerahkan dua belas ribu tael ke tangan pria itu.
Saat hendak berbalik pergi, ia melihat sekelompok orang datang dengan penuh emosi. Mata mereka berkilat penuh nafsu, seolah baru saja melihat wanita tercantik di dunia. Mu Yun mengira mereka adalah orang-orang dari suku Hu yang datang membuat masalah, namun setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata bukan; pakaian mereka beraneka ragam.
Sekelompok orang itu tiba di hadapan Mu Yun dan yang lainnya, mata mereka liar mencari keberadaan harta karun. Beberapa orang yang tidak sabar langsung berteriak, "Hei tukang kayu! Di mana kau sembunyikan harta yang memancarkan cahaya tadi? Cepat serahkan!"
Tukang kayu itu kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba banyak orang datang? Kapan ia menyembunyikan harta? Mungkinkah ini karena cahaya yang muncul saat pemuda berambut putih itu memeriksa peti tadi?
Ia menangkupkan tangan dan berkata dengan sopan, "Tuan-tuan, ini hanya kesalahpahaman. Tadi hanya pemuda ini yang sedang memeriksa peti, bukan harta karun yang muncul!"
Mendengar itu, mereka semua menatap Mu Yun dengan pandangan mengancam. Mu Yun tidak berniat meladeni mereka; ia merangkul wanita di pelukannya dan hendak pergi.
"Tunggu, serahkan peti itu!" Dua orang melangkah maju, menghalangi jalan Mu Yun. Yang lain pun ikut mengepung. Peti yang bisa memancarkan cahaya pasti luar biasa, tidak diragukan lagi itu adalah harta karun.
Mu Yun menatap kelompok orang bodoh ini dengan dingin. Kemarahan mulai membuncah di dalam hatinya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan tenang bersama Ling'er, namun masalah selalu saja datang.
"Enyah!" bentaknya dengan suara yang disertai gelombang energi.
Siapa pun yang menatap mata Mu Yun akan merasakan jantung mereka bergetar hebat. Mereka melihat aura pembunuh yang tak terbatas dari mata pemuda itu. Berapa banyak nyawa yang telah ia renggut di usianya yang masih muda hingga memiliki tatapan yang begitu mengerikan?
Setelah dibentak, orang-orang di sekitarnya menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
"Hehe... bocah, sombong sekali kau. Entah apakah kekuatanmu sehebat kesombonganmu," ejek seorang pria pendek bermata segitiga.
"Serahkan barang itu, maka kami tidak akan mempersulitmu dan membiarkanmu pergi," ujar seorang pria jangkung kurus yang berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap Mu Yun dengan angkuh.
"Hmph, orang lemah berani menantang dan mengancam orang kuat, benar-benar bodoh," dengus Mu Yun. Bukankah mereka sekarang sedang mempersulitnya? Jika mereka memang mencari mati, maka ia tidak keberatan mengirim mereka ke alam baka.
"Bocah, kau benar-benar keras kepala. Biarkan aku mengajarimu bagaimana cara menghormati senior!" Seorang pria yang temperamental, merasa tidak dihargai oleh sikap acuh tak acuh Mu Yun, langsung meluapkan amarahnya.
Ia memancarkan aura yang kuat, seekor harimau tampak muncul di belakangnya. Dengan kepalan tangan yang kuat dan injakan kaki yang membuat tanah retak, ia menerjang ke arah Mu Yun.
Melihat itu, orang-orang di sekitarnya mencibir, menantikan nasib buruk Mu Yun.
Melihat lawannya begitu terburu-buru mencari mati, Mu Yun menangkis dengan satu tangan, membentuk kuda-kuda Taiji. Serangan harimau yang dahsyat itu kini terasa seperti anak kucing yang lehernya terjepit di tangan Mu Yun. Kekuatan tinju harimau itu tidak mampu membuat sedikit pun riak di tangan Mu Yun.
*Krak!*
Mu Yun meremas tangannya, dan lengan lawan pun seketika terpelintir, tulang serta uratnya hancur.
"Aaaaa!!!" Pria itu mencoba menarik tangannya kembali, namun terasa seolah terjebak di dalam lumpur yang semakin dalam.
Mu Yun membalikkan telapak tangannya, mengembalikan seluruh kekuatan itu berlipat ganda!
Pria itu terhempas seperti karung pasir, darah memercik di udara, tubuhnya hancur berantakan dan seketika tewas akibat serangan Mu Yun.
Orang-orang yang berada di dekatnya terkena percikan darah. Mereka menatap Mu Yun dengan syok; pemuda yang tampak lembut itu hanya melambaikan tangan sekali, dan seorang ahli tingkat Qi Wu segera tewas seketika.
Tukang kayu yang berada di sampingnya sudah menduga hal ini. Melihat orang itu tewas, ia membatin, "Cari mati sendiri, tidak ada yang bisa menolong!"
Orang-orang lainnya yang baru sadar dari keterkejutan mereka segera mengubah sikap secara drastis, "Senior, kami tidak berniat menyinggung Anda, mohon ampuni kami!"