Bab 12: Pecah

Abu yang Membara Awan Tinta, Burung Phoenix 1371kata 2026-03-05 07:45:09

Terdengar suara letupan dan aroma harum menyebar di udara. Dalam dua menit, sepanci popcorn rumahan sudah siap. Jiang Haiyin mengambil satu butir, memasukkannya ke dalam mulut, dan sekejap matanya berbinar, seraya berseru, "Enak sekali!"

Ia tidak langsung melanjutkan makan, melainkan mengambil sebutir lagi dan menyodorkannya ke bibir lelaki itu. Zou Yan menampakkan ekspresi jijik dan memalingkan kepala. Ia tertegun sesaat, lalu tersadar, menelan popcorn di tangannya sendiri dan sengaja mengunyah dengan suara keras.

"Aku tidak meracuni, sungguh," ujarnya.

Lelaki itu memalingkan badan, masih saja tak menggubrisnya. Jiang Haiyin pun tak ambil pusing, ia mendekat, sambil menikmati pemandangan macan tutul yang berlari dan mengunyah popcorn dengan lahap.

Ketika macan tutul itu mengejar kijang dan hampir saja mendapatkannya, Zou Yan akhirnya tak tahan lagi, "Berisik sekali."

Gadis itu seperti memang menunggu momen ini, langsung mengangkat ember popcorn di tangannya dan tersenyum dengan riang, "Makan satu saja, setelah itu aku pasti tidak berisik lagi."

Setelah butir pertama, butir kedua pun terasa jauh lebih mudah diterima. Tanpa terasa, satu ember popcorn pun habis. Padahal itu hanya teman menonton film yang paling biasa di zaman ini, namun bagi mereka berdua, pengalaman itu terasa asing.

Yang satu tak punya uang dan tak sempat menikmati, yang satu lagi tak punya waktu ataupun minat.

Namun di kamar kontrakan kecil itu, mereka bersama-sama mencicipi pengalaman baru yang segar bagi mereka.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras memecah kedamaian itu.

"Haiyin, kau di rumah? Bukakan pintunya! Kalau kau terus berdiam dan tak bersuara, aku akan pakai kunci cadangan!"

Jiang Haiyin terkejut, segera melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke luar. Baru saja ujung jarinya menyentuh gagang pintu, dari luar sudah ada yang tak sabar memutarnya.

Mereka beradu pandang secara tiba-tiba. Ibu kos menepuk dada, menggerutu dengan kesal, "Berdiri di depan pintu seperti hantu saja, kau mau menakuti siapa?"

"Aku..."

"Lihat dirimu, gadis muda, tiap hari rambut awut-awutan, penampilan berantakan, tak ada semangat sama sekali. Jendela tertutup, tirai balkon juga selalu ditarik, rumahku jadi suram begitu. Bagaimana bisa aku sewakan ke orang lain nanti?"

Ibu kos mengomel tanpa henti, yakin bahwa Jiang Haiyin tak akan membantah. Ia secara tak sengaja melirik foto mendiang yang tergantung di dinding, tubuhnya langsung bergidik, kata-kata yang tadi terucap serasa jadi kenyataan, membuatnya semakin tidak suka.

"Tante Li, bukankah Anda bilang akan memberi saya beberapa hari lagi..." Jiang Haiyin berusaha tersenyum, berharap bisa membujuknya pergi.

Tapi ibu kos jelas bukan tipe yang mudah disingkirkan hanya dengan beberapa kata. Ia bahkan belum selesai bicara, ibu kos sudah memutar badan, mendorong tubuh mungil gadis itu ke samping, dan langsung masuk ke dalam.

"Aku sudah memberimu waktu lebih dari cukup. Sudah sejauh mana beres-beresmu?" sambil bertanya, ibu kos mulai memeriksa setiap sudut ruangan seperti seorang ketua RT.

Melihat itu, Jiang Haiyin semakin cemas, apalagi mengingat tadi ia keluar terburu-buru sehingga pintu kamar tidur belum terkunci. Kalau saja Zou Yan keluar sambil menyeret rantai saat ini...

Dalam sekejap, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia seolah sudah mendengar suara lelaki itu turun dari ranjang. Gemerincing rantai logam yang pelan terdengar bagai hitungan mundur, menandai berakhirnya waktu bahagia mereka.

Tidak, belum cukup. Baru dua hari, masih banyak hal di daftar yang belum dilakukan. Semua ini sudah ia perjuangkan mati-matian, kenapa nasib harus menghalangi lagi?

Jiang Haiyin buru-buru menuju lemari kecil, mengobrak-abrik hingga menemukan kotak biskuit, dan membukanya dengan suara keras. Ibu kos sampai mundur beberapa langkah karena kaget, mengira gadis itu sudah putus asa dan hendak nekat.

"Kau... kau mau apa sebenarnya—"

Segenggam uang kontan muncul di hadapannya, kira-kira tujuh atau delapan ratus yuan. Tidak banyak, tapi setidaknya bisa menutup uang sewa satu bulan.

"Tolong beri saya waktu sedikit lagi. Uang ini anggap saja kompensasi, nanti entah saya masih menyewa atau tidak, Anda tak perlu mengembalikannya, boleh?"

Gadis itu bicara dengan nafas terengah-engah, matanya mulai berkaca-kaca.