Bab 25 Kapan kemejanya menjadi begitu seksi?
"Wakil Komandan He, sampai jumpa di kesatuan." Saat tiba di kompleks militer, Du Peng melambaikan tangan kepada mereka yang baru saja turun dari mobil.
Mobil itu sebenarnya hendak langsung menuju markas militer, namun sengaja mampir ke kompleks perumahan untuk mengantarkan pasangan pengantin baru ini. Du Peng tidak ikut turun karena harus segera membawa barang-barang ke lembaga penelitian militer.
"Baik," sahut He Beichen sambil membalas lambaian tangan Du Peng.
"Sampai jumpa!" Li Xin, yang berada di samping He Beichen, juga melambaikan tangan dengan antusias.
Du Peng membalas lambaiannya dengan senyum di matanya. Gadis kecil ini ternyata berkepribadian terbuka dan tidak kaku sama sekali.
Setelah mobil berlalu, He Beichen mengajak Li Xin masuk ke dalam kompleks perumahan keluarga. Ia memiliki jatah rumah tipe dua kamar di sana, namun karena sebelumnya tinggal sendiri, rumah itu jarang ditempati.
Rumahnya terletak di lantai tiga, tidak terlalu tinggi. Namun saat pintu dibuka, terlihat lapisan debu tipis menutupi lantai dan meja, menandakan sudah cukup lama tidak ada orang yang menghuni tempat itu. Li Xin menoleh ke arah He Beichen dengan tatapan bingung.
"Aku selalu tinggal di asrama militer, jadi jarang pulang ke sini," jelas He Beichen. Ia tidak menyangka akan membawa istri pulang secepat ini, sehingga rumahnya belum sempat dibersihkan. Apakah dia akan menganggapku orang yang jorok? pikirnya.
"Oh," Li Xin mengangguk mengerti.
"Sebenarnya, kalau di asrama, aku selalu rajin bersih-bersih," tambah He Beichen lagi.
"Aku tidak bilang kamu jorok, kok."
He Beichen terdiam. Memang tidak dikatakan, tapi ia merasa istrinya pasti berpikir begitu!
Keduanya mulai berbenah. Karena hanya debu tipis, rumah itu cukup cepat dibersihkan. Namun saat mereka tiba, waktu sudah menunjukkan jam makan malam, dan penjual makanan di luar kompleks pun sudah tutup. Li Xin belum makan banyak sejak siang, perutnya sudah keroncongan. Ia khawatir karena melihat dapur yang kosong melompong.
He Beichen memang pernah tinggal di sini, tapi karena sudah lama tidak pulang, mereka hanya menemukan sisa sedikit minyak, garam, dan sebungkus mi instan yang belum dibuka. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi.
"Aku tidak bisa masak," ujar Li Xin sambil memegang mi, merasa perlu memberi tahu suaminya. Di kehidupan sebelumnya, ia tenggelam dalam penelitian dan selalu makan di kantin atau memesan makanan. Sementara itu, pemilik tubuh asli ini, Zhang Hongmei, tidak pernah mengizinkannya menyentuh dapur karena takut ia akan mencuri makanan.
He Beichen tampak terkejut. "Kalau begitu, biar aku saja." Ia mengambil mi dari tangan Li Xin, mencuci panci yang sudah lama tidak dipakai, lalu merebus air.
Melihat tidak ada yang bisa ia bantu di dapur, Li Xin pergi ke kamar utama. Karena He Beichen pernah tinggal di sana, pakaian dan selimutnya masih lengkap tersimpan di dalam lemari, meski belum digelar di tempat tidur. Setelah membersihkan kamar, Li Xin merapikan tempat tidur. Tak lama kemudian, mi buatan He Beichen sudah matang.
Karena tidak ada sayuran, He Beichen hanya menyajikan dua mangkuk mi kuah dengan sedikit garam. Li Xin, yang sudah lapar selama dua hari, menghabiskan satu mangkuk besar mi hingga kuahnya tak bersisa. Meskipun hanya mi kuah sederhana, Li Xin merasa masakan He Beichen cukup enak; tekstur mienya pas, tidak terlalu lembek atau keras.
Melihat mangkuk istrinya kosong, sudut bibir He Beichen yang biasanya kaku sedikit terangkat. Ia merasa Li Xin terlalu kurus dan belum banyak makan sejak di kereta, jadi ia sengaja memasak porsi lebih banyak. Melihatnya makan dengan lahap, hatinya pun lega.
"Biar aku yang mencuci piring. Air panas sudah siap, kamu bisa mandi lebih dulu," kata He Beichen sambil mengambil dua mangkuk kosong dari tangan Li Xin.
"Terima kasih," jawab Li Xin. Sejak memiliki sistem, ia jarang melakukan pekerjaan rumah tangga dan tidak yakin bisa mencuci piring dengan benar, jadi ia menyerahkannya pada He Beichen.
Ia kembali ke kamar. Ia tidak membawa baju saat meninggalkan keluarga Li karena semua bajunya ada di dalam ruang penyimpanannya, tetapi karena He Beichen ada di rumah, ia tidak mungkin memunculkan baju secara tiba-tiba. Ia tidak punya penjelasan untuk itu.
Li Xin teringat lemari He Beichen. Karena He Beichen berbadan tinggi besar, kemejanya mungkin bisa ia pakai sebagai gaun. Ia membuka lemari dan menemukan sebuah kemeja. Saat dicoba di depan tubuhnya, ujung kemeja itu mencapai lututnya. Bahannya terasa nyaman untuk dijadikan baju tidur.
Ia pun berlari ke depan dapur sambil membawa kemeja itu. "He Beichen, bolehkah aku memakai baju ini?"
He Beichen menoleh dan melihat Li Xin sedang menempelkan kemejanya ke tubuhnya. Istrinya ingin memakai bajunya? Ah, benar, dia tidak membawa pakaian dari rumahnya. "Boleh," jawabnya. Itu hanya kemeja, ia tidak keberatan jika istrinya menyukainya.
"Terima kasih," ujar Li Xin. Ia membawa baju itu ke kamar mandi sementara He Beichen menyiapkan air panas untuknya.
Setelah mandi, Li Xin mengenakan kemeja He Beichen. Panjangnya sangat pas, sedikit di atas lutut, tidak terlalu terbuka. Namun, kerahnya agak lebar; meski kancing paling atas sudah dipasang, bahunya masih terlihat sebelah. Lengan bajunya juga agak panjang, sehingga jika tidak digulung, baju itu tampak seperti model sabrina. Tapi karena ia hanya akan memakainya di rumah sebagai baju tidur, ia merasa tidak masalah.
"Aku sudah selesai," kata Li Xin saat keluar dari kamar mandi. "Sekarang giliranmu."
Mendengar suaranya, He Beichen mendongak dan melihat Li Xin berjalan ke arahnya dengan kemeja yang longgar. *Glek.* He Beichen menelan ludah.
Saat istrinya berjalan, ujung baju yang lebar itu bergoyang, menarik perhatiannya. Di balik ujung baju itu, terlihat sepasang kaki yang jenjang dan putih bersih. Dengan penglihatannya yang tajam, He Beichen bahkan bisa melihat butiran air di lututnya. Belum lagi tulang selangkanya yang samar-samar terlihat, sungguh memikat.
Tunggu... di mana celananya?
He Beichen tidak pernah menyangka kemejanya akan terlihat begitu seksi saat dipakai Li Xin. Ia mencoba duduk dengan tegap, lalu menyilangkan kakinya untuk menyembunyikan reaksi tubuhnya. Ia tidak berani menatap lebih jauh.
"Di mana celanamu?" tanya He Beichen dengan suara serak.
Li Xin tidak menyadari keanehan suaminya. Setelah tiga hari tidak mandi, ia merasa sangat segar. Ia berjalan mengambil segelas air. Cuaca di perbatasan selatan ini jauh lebih panas daripada Desa Guangyuan, sehingga ia masih merasa kepanasan meski baru selesai mandi air hangat.
"Celanamu terlalu besar, aku tidak bisa memakainya."
He Beichen terdiam. Maksudnya adalah celana milik istrinya sendiri!