Bab 42 Memukul Wanita Simpanan
Zhou Bai tentu saja tidak memiliki kemampuan luar biasa untuk menebak bahwa Zhou Fumin ikut campur.
Ia hanya teringat pada Yu Zhenzhen. Berdasarkan pertemuan mereka hari itu, ia bisa menebak bahwa perempuan itu bukanlah sosok yang cerdas dan berpendirian teguh.
Jika tidak, bagaimana mungkin ia bisa tertipu oleh seorang pria tua hanya demi melahirkan seorang anak laki-laki?
Oleh karena itu, ia menduga pasti ada seseorang di balik layar yang menghasut dan mengatur semua ini.
Ia sebenarnya tidak tahu siapa dalang di balik semua itu, ia hanya sengaja memancing Zhou Fumin, dan tidak menyangka tebakannya ternyata benar.
Zhou Bai merasa sangat marah dan geram. Ayah macam apa ini?
Bahkan ayah tiri pun jarang ada yang begitu kejam dan tidak berhati nurani.
"Zhou Fumin, aku ini anak kandungmu! Kalau tidak percaya, sana, bawa aku tes DNA. Bagaimana bisa kamu bekerja sama dengan perempuan itu untuk mencelakai anak kandungmu sendiri?"
Zhao Jianfang yang telanjur emosi langsung menerjang ke arah Zhou Fumin, mencubit dan memukulinya.
Zhou Fumin hanya bisa menghindar sambil memohon ampun, "Istriku, dengar dulu penjelasanku. Aku sama sekali tidak menyuruh Yu Zhenzhen mencelakai anak kita. Zhou Bai itu anakku, buat apa tes DNA? Mana mungkin aku tidak percaya padamu? Percayalah padaku, ini semua hanya kesalahpahaman."
"Mencelakai Gu Chengjin juga tidak bisa dibenarkan, dia itu menantu kita!" Zhao Jianfang menghentikan pukulannya.
"Ibu, untuk apa Ibu banyak bicara dengan dia? Pertanyaanku cuma satu, di mana Yu Zhenzhen?" tanya Zhou Bai dengan wajah dingin.
Zhou Fumin terdiam.
Zhou Bai mendengus dingin, lalu menoleh ke arah Zhao Jianfang dan berkata, "Ibu, lihat sendiri kan! Semua kebaikan yang dia tunjukkan itu hanya palsu. Sampai sekarang pun dia masih melindungi perempuan itu."
Wajah Zhao Jianfang menggelap. Ia kembali melayangkan pukulan ke arah Zhou Fumin. "Kamu masih berani melindungi perempuan itu?!"
"Aku tidak melindunginya! Iya, iya, kuberi tahu di mana dia." Karena tidak punya pilihan lain, Zhou Fumin akhirnya membocorkan alamat Yu Zhenzhen.
Rasa kecewa Zhou Bai terhadap ayahnya semakin menjadi-jadi.
Ia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa ayahnya menjadi pria seperti ini?
Berselingkuh, memukuli istri sah, egois dan mementingkan diri sendiri saat menghadapi masalah, serta tega mengkhianati orang lain...
Zhou Bai menarik ibunya masuk ke dalam kamar. "Ibu, apakah Ibu benar-benar berniat memaafkan dia? Ibu lihat sendiri kan seperti apa orang itu? Dia sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab. Pria seperti itu masih mau Ibu beri kesempatan?"
"Kalau tidak, apa aku harus bercerai?" jawab Zhao Jianfang. "Usia sudah separuh baya begini, kalau benar-benar bercerai, nanti aku harus bagaimana?"
"Masih ada aku dan Kakak yang akan merawat Ibu," ujar Zhou Bai.
Zhao Jianfang tersenyum pahit. "Kalian berdua cepat atau lambat akan menikah dan punya keluarga sendiri. Mana mungkin aku menumpang hidup pada anak dan menantu? Nanti aku malah jadi bahan tertawaan orang."
"Ibu, ini sudah zaman apa, kenapa pemikiran Ibu masih kuno begitu?" Zhou Bai mengerutkan kening, sungguh tidak mengerti dengan pola pikir ibunya.
Zhao Jianfang menggeleng. "Ini bukan soal pemikiran kuno. Kamu dan kakakmu memang bisa diandalkan. Tapi, bagaimana dengan suami kalian? Apakah keluarga suami kalian bisa diandalkan? Mungkin untuk jangka pendek tidak masalah, tapi kalau lama-lama pasti akan timbul kejengkelan, dan itu akan merusak pernikahan kalian. Ibu tidak mau menjadi beban bagi kalian."
"Kalau begitu aku tidak akan menikah saja, jadi Ibu tidak perlu khawatir lagi."
"Omong kosong apa itu! Mana ada gadis yang tidak menikah? Lagipula, Gu Chengjin adalah menantu yang begitu baik. Kalau sampai kamu melepaskannya, Ibu tidak akan memaafkanmu. Sudah, tidak usah membujuk lagi. Urusan antara aku dan ayahmu, aku tahu batasan dan keputusannya sendiri."
Zhou Bai menggigit bibirnya.
Seperti kata pepatah, seseorang tidak akan pernah bisa dibangunkan dari pura-pura tidur, dan ibunya saat ini sedang bersikap seperti itu.
Sebagai seorang anak, apa yang harus ia lakukan telah ia lakukan, dan urusan lainnya sudah di luar kendalinya.
Namun, mengingat Yu Zhenzhen berani bertindak nekat pada Gu Chengjin, ia tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.
"Aku harus menemui Yu Zhenzhen. Ibu mau ikut? Manfaatkan kesempatan ini sekalian agar Ayah bisa benar-benar memutuskan hubungan dengannya."
Mungkin dengan cara itu, ibunya bisa melihat dengan jelas rupa aslinya yang munafik.
Zhao Jianfang mengangguk.
Ia sebenarnya sudah sejak lama ingin melabrak perempuan itu. Sekarang dengan dukungan putrinya, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ibu dan anak itu segera bergegas mencari Yu Zhenzhen, sementara Zhou Fumin mengekor di belakang mereka.
Yu Zhenzhen telah mendengar kabar tentang kakaknya. Begitu melihat Zhao Jianfang dan putrinya datang menghampiri, wajahnya langsung pucat pasi karena ketakutan.
"Lao Zhou, lindungi aku," rengek Yu Zhenzhen sambil bermanja-manja pada Zhou Fumin.
Zhou Fumin menghindari tatapannya dan bertanya dengan perasaan bersalah, "Kutanya kau, apa benar kau yang menyuruh orang suruhanmu menabrak putriku? Bagaimana bisa hatimu sekejam itu? Bagaimanapun juga dia anakku, tega sekali kau melukainya?"
"Zhou Fumin, jangan pura-pura tidak tahu, kau juga tahu rencana ini!" caci Yu Zhenzhen dengan marah.
Zhou Bai melangkah maju dan langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Yu Zhenzhen.
"Aku menamparmu bukan sekadar karena kau berani merayu ayahku—kalian berdua memang sehati dan sama-sama busuk, tidak ada yang benar. Tamparan ini kuberikan demi Gu Chengjin. Jangan berfikir karena orang suruhanmu sudah menanggung semua kesalahan, kau bisa lolos begitu saja."
Setelah berkata demikian, Zhou Bai mencengkeram kerah baju Yu Zhenzhen dan menghujani wajah perempuan itu dengan tamparan bertubi-tubi ke kanan dan ke kiri.
Yu Zhenzhen tercengang hingga kehilangan akal sehatnya.
Zhou Fumin dan Zhao Jianfang pun terpaku saking kagetnya.
Di mata mereka selama ini, Zhou Bai selalu dikenal sebagai anak yang pendiam, lembut, dan tampak sebagai gadis yang mudah ditindas.
Sejak kapan ia berubah menjadi begitu galak dan berani, hingga mereka sama sekali tidak menyadarinya?
"Lao Zhou, selamatkan aku! Putrimu mau membunuhku!" teriak Yu Zhenzhen histeris sambil memohon perlindungan pada Zhou Fumin.
Zhou Fumin tidak tahan lagi lalu menegur Zhou Bai, "Zhou Bai, lepaskan dia, jangan dipukuli lagi. Sebagai anak perempuan bersikaplah yang anggun, kalau galak begitu nanti siapa yang mau menikahimu?"
"Urusan aku menikah atau tidak bukan urusanmu! Ibu, lihat sendiri kan? Sampai detik ini pun dia masih membela perempuan lain dan sama sekali tidak ada niat untuk bertobat. Pria seperti ini masih mau Ibu pertahankan?" Zhou Bai menoleh dan mengadu pada ibunya.
Zhou Fumin merasa sangat frustrasi hingga hampir mati berdiri.
Dosa apa yang telah diperbuatnya di masa lalu?
Hingga dikaruniai seorang putri seperti ini?
"Istriku, dengar dulu penjelasanku. Aku bukan membela dia, aku hanya tidak tahan melihat kekerasan seperti ini, terlalu kejam rasanya."
"Kekerasan? Waktu kau memukuli aku di ruang judi, perbuatanmu jauh lebih kejam daripada ini, kenapa saat itu kau tidak merasa itu sebuah kekerasan?" sergah Zhao Jianfang sengit.
Zhou Fumin langsung terbungkam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Di satu sisi adalah selingkuhannya yang baru saja dipukuli, di sisi lain adalah istrinya sahnya. Ia terjepit di tengah dan merasa serba salah.
Zhou Bai kembali menampar Yu Zhenzhen satu kali lagi, membuat perempuan itu menangis sejadi-jadinya.
Zhao Jianfang berdiri di tengah-tengah sambil menatap tajam ke arah Zhou Fumin.
Tatapan itu seolah memperingatkan: Jika kau berani melangkah maju satu langkah saja, aku tidak akan melepaskanmu hari ini.
"Terserah kalian mau berbuat apa, aku pergi saja!" Karena merasa tidak sanggup mengatasi situasi itu, Zhou Fumin memilih untuk pergi agar tidak pusing melihatnya.
Begitu Zhou Fumin pergi, Zhou Bai melepaskan cengkeramannya dari Yu Zhenzhen.
"Kau lihat sendiri kan? Bahkan setelah kau melahirkan seorang anak laki-laki untuknya, di saat-saat krusial ia tetap akan membuangmu dan membiarkanmu mati tersiksa. Pria seperti itu masih mau kauandalkan?" tanya Zhou Bai dingin.
Yu Zhenzhen merosot jatuh ke lantai sambil menutupi wajahnya dan menangis histeris.
Zhao Jianfang masih berniat maju untuk melabrak, tetapi dicegah oleh Zhou Bai.
"Begitu saja mau membiarkan dia lolos?" gerutu Zhao Jianfang tidak puas.
Zhou Bai menggeleng. "Menepuk tangan butuh dua belah pihak, ini bukan sepenuhnya kesalahan dia saja. Kalau Ibu benar-benar masih marah, seharusnya Ibu tidak memaafkan orang yang telah mengkhianati Ibu."
"Tapi aku tidak akan membiarkan perempuan ini hidup tenang begitu saja," kata Zhao Jianfang penuh dendam.
Zhou Bai menghela napas pasrah. Ia tahu dirinya tidak akan pernah bisa meluruskan pola pikir ibunya, maka lebih baik ia pergi daripada terus merasa kesal.
Ia mengantar ibunya sampai di depan pintu rumah, bahkan tanpa sempat masuk ke dalam, ia langsung pamit pergi.
Namun, begitu ia melangkah keluar dari area perumahan, ia melihat Yan Wei turun dari sebuah mobil.
"Nyonya," sapa Yan Wei ramah.
"Kenapa kamu ada di sini? Ada apa dengan Gu Chengjin?" tanya Zhou Bai dengan ekspresi cemas.
Yan Wei menjelaskan, "Nyonya tenang saja, Tuan baik-baik saja. Hanya saja beliau tahu Anda sudah pulang, jadi beliau khusus mengutus saya untuk menjemput Anda."
"Syukurlah kalau dia tidak apa-apa. Kebetulan aku juga mau pulang, terima kasih ya sudah menjemputku," ucap Zhou Bai lega.
Yan Wei membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilakannya masuk.
Sebenarnya, Yan Wei sudah datang sejak tadi. Ia bahkan diam-diam mengikuti Zhou Bai saat mendatangi Yu Zhenzhen.
Tentu saja, ia juga menyaksikan seluruh adegan saat Zhou Bai menghajar Yu Zhenzhen habis-habisan.
Yan Wei mengantar Zhou Bai ke kampusnya terlebih dahulu, sebelum kembali ke rumah sakit untuk melaporkan semuanya kepada atasannya.
Sambil menyelam minum air, ia menceritakan seluruh kejadian itu secara detail tanpa ada yang dikurangi.
Mendengar bahwa Zhou Bai nekat mendatangi dan menghajar Yu Zhenzhen demi melampiaskan kekesalan untuknya, Gu Chengjin merasa gemas sekaligus geli.
"Gadis itu ternyata bernali juga, apa dia tidak takut rugi?"
"Demi membela Tuan, Nyonya tentu tidak memikirkan hal semacam itu lagi," puji Yan Wei.
Gu Chengjin tersenyum puas. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu, wajahnya kembali mendingin saat ia memberi instruksi pada asistennya itu.
"Lanjutkan rencana semula. Watak dasar seseorang memang sulit diubah, pasang orang untuk terus mengawasi mereka dengan ketat. Laporkan padaku segera jika ada perkembangan sekecil apa pun."
"Tuan, apakah sebaiknya kita memberi tahu Nyonya tentang hal ini terlebih dahulu? Mengingat watak Nyonya, beliau mungkin akan marah jika mengetahuinya belakangan," saran Yan Wei.
"Tidak perlu memberitahunya. Selama dia tidak tahu, dia tidak akan marah. Jalankan rencana sesuai jadwal. Karena hampir saja merenggut satu lenganku, aku harus membalasnya dengan hadiah yang setimpal agar pantas bagi mereka."