Bab Enam Belas: Su Rui Ini Memang Ada Bakat dalam Hal Interogasi
Halaman (1/3)
“Dalam urusan interogasi, mungkin aku bisa membantu sedikit.”
Melihat ketiga orang itu tampak serba salah, terlebih calon ibu mertuanya sudah bergadang selama beberapa malam hingga beberapa helai rambutnya memutih, Su Rui akhirnya memutuskan untuk mencoba kemampuan sebagai ahli interogasi.
Orang-orang yang tidak mampu diinterogasi oleh Xia Jie, Xing Shixuan, dan Li Anmin, mungkin saja bisa ditangani dengan kemampuan ahli interogasi miliknya.
Namun, Su Rui juga tidak berani menjamin apa pun. Karena itu, ia hanya berkata akan mencoba.
Kalau tidak, ia akan memberi semua orang harapan yang terlalu besar. Begitu gagal, kekecewaan mereka pun akan semakin besar.
Tatapan Xia Jie, Xing Shixuan, dan Li Anmin serentak tertuju kepada Su Rui. Wajah mereka memancarkan keterkejutan, kebingungan, bahkan ketidakpercayaan.
Dan semuanya tampak jelas tanpa sedikit pun ditutup-tutupi.
Su Rui dapat melihat perubahan ekspresi mereka dengan sangat gamblang.
Entah keterkejutan, kebingungan, maupun ketidakpercayaan, semuanya merupakan reaksi yang wajar.
Sebagai kekasih putri Xia Jie, Su Rui sudah diketahui bekerja sebagai pekerja lepas. Ia biasanya menulis sesuatu di internet, dan sesekali melakukan siaran langsung. Menurut Xia Jie, ia adalah pemuda berbakat.
Dua hari sebelumnya, Su Rui bahkan mengantarkan beberapa buronan kelas A, termasuk Yuan Cheng, ke rumahnya sebagai hadiah. Hal itu kembali mengubah pandangan Xia Jie terhadapnya.
Terhadap calon menantunya ini, Xia Jie sudah bukan sekadar merasa puas.
“Su Rui, pekerjaan interogasi tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Ini bukan hanya soal mengajukan pertanyaan, tetapi juga menyangkut psikologi. Orang-orang ini sudah bukan sekadar penjahat berpengalaman. Membuka mulut mereka bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa.”
Xia Jie melambaikan tangan, memotong ucapan Su Rui.
Menurutnya, meskipun Su Rui memiliki dasar bela diri dan mampu menangkap empat atau lima buronan seorang diri, bahkan merebut senjata tajam dengan tangan kosong, pekerjaan interogasi sama sekali berbeda dari perkelahian.
Pertama-tama, penguasaan hukum pidana saja sudah menjadi masalah besar. Mereka yang bekerja di bidang ini mungkin tidak sampai hafal setiap pasal di luar kepala, tetapi mereka sangat memahami seluruh ketentuannya.
Namun, orang biasa tentu tidak akan sengaja mempelajari hukum pidana.
Dan masalahnya tidak berhenti di situ.
Yang lebih penting adalah memahami psikologi para penjahat.
Tanpa mampu memahami psikologi dan emosi mereka, tidak perlu membicarakan soal interogasi.
Terlebih lagi, Yuan Cheng dan kawan-kawannya berbeda dari penjahat biasa. Orang-orang itu terlalu tenang—sedemikian tenangnya hingga seluruh unit penyidikan kriminal mereka tidak berdaya. Bagaimana mungkin Su Rui, yang belum pernah melakukan interogasi, bisa mengungguli para penjahat berpengalaman itu?
Hanya dengan memikirkannya saja sudah terasa mustahil.
“Benar! Su Rui, tadi kamu juga mendengarnya dari luar. Orang-orang itu sama sekali tidak mempan dibujuk maupun ditekan. Kami sudah kehabisan kata-kata, tetapi tetap tidak berguna.”
“Bahkan Kepala Xing turun tangan sendiri,” tambah Li Anmin, tanpa menyadari wajah Xing Shixuan yang langsung menghitam.
“Mereka semua kutangkap sendiri. Mungkin kalau aku yang menginterogasi, akan ada kejutan yang tidak terduga,” ujar Su Rui setelah berpikir sejenak.
Melihat mereka masih hendak membujuknya untuk menyerah, Su Rui tidak memberi mereka kesempatan berbicara.
“Cobalah. Toh sekarang tidak ada seorang pun yang punya cara lain. Siapa tahu berhasil, bukan?”
“Kamu mengerti soal interogasi?” Xing Shixuan menatap Su Rui dengan heran. Pemuda itu tetap bersikeras ingin mencoba.
“Seharusnya... sedikit.”
Su Rui tidak berani berbicara terlalu yakin.
“Aku merasa mungkin punya bakat dalam hal ini.”
Xia Jie: “???”
Xing Shixuan: “???”
Li Anmin: “???”
Ketiganya menatap Su Rui dengan ekspresi aneh.
Pemuda ini benar-benar tidak tahu malu saat berbicara.
Bakat dalam hal ini?
Sekalipun memiliki bakat, bukan berarti seseorang bisa langsung menguasainya hanya dengan melihat sekali!
Terlebih lagi, Yuan Cheng dan kawan-kawannya bukan penjahat biasa. Kalau mereka mudah dibujuk untuk mengaku, ketiga orang itu tidak akan sampai sebegitu tak berdayanya.
Melihat Su Rui yang tampak tidak sabar untuk mencoba, Xing Shixuan dan kedua rekannya saling berpandangan, lalu menghela napas dalam hati.
Anak sapi yang baru lahir memang tidak takut harimau.
Sebagai calon ibu mertua, Xia Jie merenung sejenak sebelum berkata, “Su Rui, aku tahu kamu ingin membantu kami. Namun, pernahkah kamu memikirkan satu hal? Orang-orang ini semua ditangkap olehmu. Secara psikologis, mereka sejak awal sudah memiliki penolakan terhadapmu. Membujuk sekelompok penjahat yang sangat memusuhimu jelas tidak mudah.”
Mendengar itu, Xing Shixuan dan Li Anmin mengangguk.
Itu juga yang mereka khawatirkan. Kalau bukan karena hal tersebut, mereka tentu akan membiarkan Su Rui mencoba. Bagaimanapun, saat ini mereka memang tidak punya cara lain.
Kalau mereka saja mengkhawatirkannya, apalagi Su Rui.
Logikanya sederhana.
Coba bertukar posisi. Jika Su Rui yang menangkap mereka, tanpa membicarakan hal lain, mungkin sejak awal mereka sudah membenci Su Rui sampai ke tulang.
Dalam keadaan seperti itu, jika Su Rui datang menginterogasi mereka, tidak dimaki saja sudah merupakan keberuntungan. Masih berharap mereka berkata jujur?
Memangnya sedang memikirkan apa?
Li Anmin menoleh kepada Xing Shixuan.
“Kepala Xing, bagaimana kalau aku tetap menghubungi profesor psikologi itu?”
“Baiklah. Telepon dia dan tanyakan.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Profesor psikologi yang dimaksud Li Anmin bernama Tong Biqing. Usianya sudah lebih dari lima puluh dan hampir enam puluh tahun. Ia berkacamata, dengan penampilan lembut dan terpelajar.
Setelah tiba, ia berjabat tangan dengan Xing Shixuan.
“Kepala Xing, serahkan saja masalah ini kepadaku. Aku memang tidak bisa menjamin pasti menyelesaikan tugas ini, tetapi secara pribadi, aku cukup yakin bisa membujuk mereka.”
“Kalau begitu, kami merepotkan Profesor Tong,” ujar Xing Shixuan cepat.
“Tidak ada yang perlu direpotkan. Jika aku benar-benar bisa membantu kalian memecahkan kasus ini, berarti aku juga telah melakukan perbuatan baik.”
Tong Biqing melambaikan tangan, lalu masuk ke ruang interogasi lain.
Untuk Yuan Cheng, Xing Shixuan dan yang lainnya sudah tidak menaruh banyak harapan.
Lebih baik mereka mencari celah dari orang-orang lain.
Namun, Tong Biqing masuk dengan cepat dan keluar pun tidak kalah cepat. Ia masuk dengan sikap lembut dan terpelajar, tetapi keluar sambil mengumpat.
“Kepala Xing, sepertinya aku tidak bisa membantu kalian dalam masalah ini. Seumur hidup, aku belum pernah bertemu orang seperti itu.”
“Kamu bertanya ke timur, dia menjawab ke barat. Kamu memintanya bersikap lebih baik, dia langsung memaki.”
“Selama bertahun-tahun mendidik dan mengajar, aku juga sudah sering membantu dalam interogasi. Namun, aku benar-benar belum pernah melihat penjahat yang begitu angkuh dan tak terkendali. Mereka benar-benar keras kepala dan tidak bisa disadarkan.”
Melihat Tong Biqing yang murka, Xing Shixuan merasa agak canggung.
Ia semula mengira pengalaman Tong Biqing dalam bidang psikologi akan membantu mereka. Siapa sangka, dalam waktu sesingkat itu, profesor tersebut sudah dibuat naik pitam oleh orang yang diinterogasinya.
Untuk sesaat, Xing Shixuan tidak tahu bagaimana cara menenangkannya.
“Ah!”
Begitu Tong Biqing pergi, Li Anmin menghela napas. Saat itu ia sudah tidak peduli pada apa pun lagi dan langsung menyalakan sebatang rokok.
Ia jarang merokok, tetapi kali ini Yuan Cheng dan beberapa orang lainnya benar-benar membuatnya tak berdaya.
“Sudahlah, Lao Li. Profesor Tong Biqing sudah berusaha semampunya. Nanti aku akan menelepon kepala biro untuk melaporkan situasi di sini. Aku yakin dia akan memahaminya.”
Xing Shixuan menghampiri dan menepuk bahu Li Anmin, berusaha menghiburnya.
“Kepala Xing, aku tidak rela!”
Li Anmin mengisap rokoknya dalam-dalam.
“Padahal semua orangnya sudah kita tangkap, tetapi kita justru terhenti tepat di depan kebenaran.”
Semua orang terdiam.
Mereka tahu betul bahwa mendapatkan petunjuk dalam penyidikan kriminal bukanlah perkara mudah. Menangkap para pelaku bahkan jauh lebih sulit.
Kini para pelaku memang sudah tertangkap, tetapi kasusnya tetap tidak dapat dipecahkan. Bahkan, karena kurangnya bukti, mereka mungkin terpaksa membebaskan orang-orang itu.
Jika kesempatan ini terlewat dan kelima orang tersebut dibebaskan, menangkap mereka kembali di masa depan tidak ubahnya mencari jarum di tengah lautan.
Selain itu, sekalipun mereka berhasil menangkapnya lagi, tanpa bukti, mereka hanya bisa menyaksikan kelima orang itu hidup bebas dan bersenang-senang.
“Kepala Xing, Bibi, Ketua Li, biarkan aku mencoba,” kata Su Rui cepat sambil maju.
“Su Rui, aku tahu kamu ingin membantu kami, tetapi kamu sendiri sudah melihatnya. Profesor Tong Biqing saja sampai dimaki dan diusir.”
“Tetapi, Kepala Xing, apakah kalian masih punya cara lain?”
Su Rui tidak berniat menjelaskan. Ia hanya balik bertanya.
“Tidak ada,” jawab Xing Shixuan sambil menggeleng.
“Kalau begitu, bukankah sudah jelas?”
Su Rui merentangkan kedua tangannya. Kali ini ia tidak takut menyinggung siapa pun.
“Bagaimanapun, kita sudah tidak punya cara lain. Lebih baik biarkan aku mencoba. Toh tidak ada kerugian apa pun, bukan?”
Li Anmin hendak mengatakan sesuatu, tetapi Xing Shixuan menahannya. Ia menatap Su Rui, lalu tiba-tiba mengubah sikap.
“Benar juga. Perkataanmu masuk akal.”
“Kalau situasinya sudah seperti ini, tidak ada salahnya mencoba mengobati kuda yang sekarat. Cobalah.”
Xing Shixuan melangkah maju dan menepuk bahu Su Rui.
“Kawan Su Rui, jangan merasa tertekan. Berhasil atau tidak, tidak masalah.”
“Benar, Su Rui. Anggap saja ini sebagai kesempatan untuk mengenal pekerjaan interogasi. Mampu membujuk mereka atau tidak, tidak jadi soal,” sambung Xia Jie sambil tersenyum.
【Menerima tugas menginterogasi buronan kelas A】
【Hadiah: satu kali undian】
Su Rui mengangguk. Setelah berpamitan kepada mereka bertiga, ia langsung masuk ke ruang interogasi Yuan Cheng.
Wajah Li Anmin berubah. Ia hendak mengingatkan Su Rui agar menginterogasi orang lain, tetapi Xing Shixuan langsung memotongnya.
“Sudahlah, Lao Li. Biarkan saja Yuan Cheng. Toh Su Rui hanya ingin mencoba dan mengenal pekerjaan ini. Siapa pun sama saja, bukan?”
Li Anmin mendengar itu dan merasa ada benarnya.
Mereka semua tidak mampu berbuat apa-apa terhadap kelima orang tersebut. Bahkan Profesor Tong Biqing, seorang pakar psikologi, sudah mereka datangkan, tetapi tetap tidak membuahkan hasil.
Su Rui hanyalah pemuda berusia dua puluhan yang tidak pernah mempelajari psikologi. Bagaimana mungkin ia memahami interogasi?
Mungkin setelah menyaksikan mereka melakukan interogasi, ia merasa gatal ingin mencoba.
Kalau orang lain yang mengajukan diri, Xing Shixuan mungkin sudah langsung menolaknya.
Namun, Su Rui-lah yang menangkap para pelaku. Sekalipun Xing Shixuan tidak percaya Su Rui mampu membuat Yuan Cheng dan kawan-kawannya membuka mulut, ia tetap merasa tidak enak menolaknya.
Saat mereka bertiga sedang berbicara, Wang Li tiba-tiba muncul.
“Kepala Xing, Kapten Xia, Ketua Li, mengapa kalian membiarkan Su Rui masuk?”
“Dia ingin membantu kami, jadi biarkan saja dia mencoba.”
“Bukankah itu hanya pekerjaan sia-sia? Bahkan bisa membuat Yuan Cheng semakin waspada dan menambah kesulitan dalam interogasi berikutnya,” kata Wang Li dengan agak tak berdaya.
Untuk kemampuan bertarung Su Rui, ia benar-benar mengakuinya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Namun, pekerjaan interogasi bukanlah pertarungan.
Selain harus pandai berbicara, seseorang juga harus menguasai psikologi.
“Kalau dia ingin mencoba, biarkan saja. Tidak buruk kalau anak muda sesekali mengalami kegagalan,” kata Li Anmin sambil melambaikan tangan.
Wang Li melirik Xing Shixuan. Melihat sang kepala tidak mengatakan apa-apa, ia hanya bisa menarik kembali kepalanya dan menutup pintu ruang interogasi.
Melihat punggung Su Rui yang membelakanginya, Wang Li menghela napas dalam hati.
“Benar juga. Dia masih muda. Mengalami sedikit kegagalan jauh lebih baik daripada selalu berjalan mulus.”
Wang Li memang tidak jauh lebih tua daripada Su Rui, tetapi dalam hal ini, ia sudah cukup berpengalaman.
Saat baru mulai bekerja, ia pernah menangkap beberapa penjahat dan menjadi sangat besar kepala.
Namun, setelah Li Anmin menyerahkan seorang penjahat kepadanya untuk diinterogasi, seluruh kesombongannya langsung lenyap.
“Oh, mereka menemukan bantuan baru lagi?”
Mendengar suara dari ruang interogasi, Yuan Cheng membuka sepasang matanya yang entah sudah berapa lama terpejam.
Namun, ketika melihat bahwa orang yang datang adalah Su Rui—orang yang menangkapnya dan membawanya ke tempat itu—raut wajahnya langsung berubah masam.
“Kamu datang untuk apa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Kita bisa membicarakan di mana kalian menyembunyikan emas dan berlian itu, serta peran apa yang kamu mainkan dalam perampokan besar emas tiga tahun lalu.”
Su Rui dengan tenang menjelaskan tujuan kedatangannya.
“Apa?”
“Sekali menipuku belum cukup? Sekarang kamu masih ingin mengorek sesuatu dari mulutku? Kamu kira aku akan tertipu lagi?”
“Padahal aku sudah berbaik hati membiarkanmu datang ke rumahku untuk menggunakan toilet. Siapa sangka, beginilah caramu membalas kebaikanku.”
Melihat sosok yang begitu dikenalnya, Yuan Cheng semakin marah. Kemarahan di matanya kian membara.
“Ingin tahu di mana emas dan berlian itu disembunyikan? Bermimpilah!”
“Jadi, emas dan berlian dari perampokan tiga tahun lalu itu memang kalian yang merampoknya?”
“Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan perampokan besar emas.”
Yuan Cheng menutup matanya dengan wajah meremehkan.
Su Rui tidak memedulikannya. Ia hanya menatap lawannya dalam diam.
“Kenapa? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan sehingga tidak berani menatapku?”
Su Rui tersenyum.
“Sejujurnya, kalau aku yang ditipu seperti itu, aku pasti sudah memaki selama tiga hari tiga malam. Tidak kusangka kamu ternyata begitu lapang dada. Sepertinya aku memang telah menilai orang baik dengan prasangka buruk.”
Yuan Cheng jarang-jarang membuka matanya.
Ia semula mengira pemuda ini akan langsung mengatakan hal-hal seperti, “Mengaku akan diringankan, melawan akan diperberat,” sebagaimana orang-orang lain.
Namun, pemuda ini tidak melakukannya.
Meski setiap ucapannya terdengar menjengkelkan, entah mengapa Yuan Cheng justru merasa nyaman mendengarkannya.
Tanpa sadar, ia mulai merasa bahwa pemuda di hadapannya layak dipercaya.
Bahkan, di dalam hatinya muncul dorongan untuk mengakui semuanya.
Perasaan yang sangat aneh.
Namun, perasaan itu justru membuat Yuan Cheng waspada.
Bagaimana mungkin ia mempercayai orang ini?
Bagaimana mungkin ia mengakui perampokan besar emas tiga tahun lalu? Kejahatan itu bisa berujung hukuman mati!
“Kamu tahu mengapa aku tahu bahwa kalian adalah pelaku perampokan besar emas tiga tahun lalu?”
Su Rui berjalan perlahan mengelilingi ruang interogasi.
“Perlu kamu ketahui, bahkan polisi tidak memiliki informasi apa pun tentang kalian. Pengumuman pencarian di internet hanya meminta masyarakat memberikan petunjuk, tanpa keterangan wajah atau hal semacamnya. Kurasa kamu lebih memahami hal ini daripada aku.”
“Dalam kasus tiga tahun lalu, kalian tidak meninggalkan petunjuk apa pun di lokasi kejadian. Emas dan berlian itu juga tidak pernah kalian gunakan sedikit pun. Secara logika, sekalipun kalian setiap hari mondar-mandir di depan kantor polisi, tidak akan ada yang mengira bahwa kalian adalah penjahat yang melakukan kejahatan besar seperti itu. Benar, bukan?”
Begitu mendengar kata-kata tersebut, bukan hanya Yuan Cheng yang tercengang. Xing Shixuan dan dua orang lainnya yang mendengarkan dari luar pun menunjukkan wajah penuh keheranan.
Benar juga!
Dalam pengumuman pencarian yang mereka sebarkan, tidak ada informasi mengenai orang-orang ini. Bahkan mereka sendiri tidak memiliki petunjuk sedikit pun.
Bagaimana Su Rui bisa tahu bahwa mereka adalah pelaku perampokan besar emas?
Alis Yuan Cheng berkerut sangat dalam. Seandainya Su Rui tidak mengingatkannya, sampai saat ini ia tidak pernah memikirkan pertanyaan tersebut.
Bahkan di alam bawah sadarnya, ia mengira dirinya terbongkar karena polisi telah menemukan suatu petunjuk.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Yuan Cheng tanpa sadar.
“Aku sangat yakin bahwa aku tidak mengenalmu. Tiga tahun lalu, aku juga tidak pernah melihatmu di sekitar lokasi kejadian. Jadi, kamu pasti bukan saksi mata. Selain itu, saat itu kami semua mengenakan penutup kepala dan sepatu peninggi badan. Pakaian yang kami kenakan juga sangat tebal. Bagaimana kamu bisa tahu bahwa pelakunya adalah kami?”
Yuan Cheng melontarkan beberapa pertanyaan berturut-turut. Ia sendiri belum menyadari masalah yang tersembunyi di balik pertanyaannya.
Namun, Xing Shixuan dan kedua rekannya yang mengamati setiap gerak-gerik di dalam ruang interogasi melalui kaca justru langsung berbinar.
Li Anmin bahkan tampak sangat gembira.
“Kepala Xing, Su Rui ini ternyata benar-benar punya kemampuan!”
“Tidak kusangka dia memang memahami interogasi.”
Xing Shixuan tersenyum tanpa memberikan pendapat, lalu menoleh kepada Xia Jie.
“Kawan Xia Jie, kali ini kamu benar-benar mendapatkan harta karun.”