Bab 36: Ekskavator Gila
Gila! Dokter Sakti Min ini benar-benar sudah gila!
Seharusnya, setelah dia secara tidak sengaja membuat dua orang meledak berturut-turut sebelumnya, dia menyadari situasi sedang tidak beres dan harus tetap tenang untuk memikirkan cara mengatasinya. Namun, karena terlalu terpukul, dia justru tidak mau menyerah dan terus melakukan akupunktur pada yang lain, hingga akhirnya membuat semuanya meledak secara bersamaan! Dia benar-benar telah merenggut nyawa banyak orang!
Cheng Jinxu, yang biasanya berhati kejam, pun merasa ngeri melihat kekejaman Dokter Sakti Min. Takut menjadi korban jarum berikutnya, dia tidak berani berlama-lama di sana.
Pergi! Harus segera pergi!
Memanfaatkan kelengahan Dokter Sakti Min, Cheng Jinxu membawa anak buahnya menyelinap keluar dari Menara Shengtong. Begitu sampai di luar, dia menghela napas lega, namun tiba-tiba meluapkan amarahnya dengan memukul pohon di pinggir jalan hingga patah berkeping-keping.
Dia memaki Ye Yuan dengan penuh kebencian, "Sialan! Kenapa kau tidak mati saja! Kenapa harus kembali dan membuatku kesal!"
Teringat betapa memalukannya kondisi Min Quandao dan dirinya sendiri tadi, dia ingin sekali mencincang Ye Yuan menjadi potongan-potongan kecil. Namun, di saat yang sama, muncul rasa gelisah di hatinya. Semua yang terjadi baru-baru ini menunjukkan bahwa Ye Yuan yang kembali ke Guangjiang bukan lagi orang yang dulu. Sampah yang seharusnya dia injak-injak dan tak akan pernah bisa bangkit itu, kini justru memiliki kekuatan untuk menyulitkannya. Hal ini sama sekali tidak bisa dia toleransi!
Awalnya, Cheng Jinxu tidak ingin segera membunuh Ye Yuan karena ingin mempermainkannya seperti kucing yang bermain dengan tikus. Namun sekarang, dia merasa tidak sabar dan ingin segera menghabisi Ye Yuan untuk memadamkan ancaman itu sejak dini.
Cheng Jinxu menatap anak buahnya dengan dahi berkerut, "Di mana Abao? Bukankah dia pergi ke Heji untuk menangkap adik perempuan si Ye itu? Mengapa belum ada kabar?"
Baru saja dia bicara, seorang anak buah berlari kencang ke arahnya sambil berteriak panik, "Tuan Muda! Gawat! Tuan Muda! Gawat sekali..."
Wajah Cheng Jinxu menggelap. Dia melayangkan tamparan keras hingga anak buahnya itu jatuh ke tanah. "Sialan! Kau yang gawat! Aku baik-baik saja!"
Anak buahnya memegangi wajahnya sambil meminta maaf, "Maaf, Tuan Muda, saya yang salah... bukan itu maksud saya, maksudnya situasi sedang gawat!"
"Katakan! Apa yang terjadi?"
"Ini soal Kak Bao! Kak Bao kalah!"
"Apa?"
Setelah anak buahnya melaporkan kabar yang datang dari Akademi Kedokteran Heji, wajah Cheng Jinxu memucat. Dia marah sekaligus terkejut. Ye Yuan ini benar-benar tidak kenal takut. Dia bahkan berani memicu amarah Tuan Muda Song Yingzhuo dan menghancurkan masa depan sang Tuan Muda bersama sekelompok anak orang kaya lainnya! Apakah dia tidak takut langit akan runtuh?
Dan Ye Yuan ini benar-benar sudah hebat! Dia bisa dengan mudah melumpuhkan Xu Bao dan semua preman keluarga Cheng yang dibawanya! Selain itu, dia bahkan menyelamatkan Song Yunshan dan mendapatkan dukungan dari keluarga kaya raya Song! Jika dibiarkan, ini akan menjadi bencana besar bagi dirinya!
Anak buah di sekitarnya mulai berteriak marah, "Tuan Muda, Kak Bao tidak boleh berakhir seperti ini! Kita harus segera menyelamatkannya dan membalaskan dendamnya!"
"Benar! Pemuda bernama Ye Yuan itu benar-benar pantas mati! Kita tidak boleh membiarkannya terus hidup!"
"Tuan Muda, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Cheng Jinxu berkata dengan kejam, "Apa lagi? Panggil semua orang! Serbu langsung ke sana! Utang lama tiga tahun lalu, hari ini harus aku selesaikan dengannya!"
"Siap!"
...
Di kediaman keluarga Ye, di ruang makan, Xia Weiliang memuji hidangan yang tersaji di meja dengan penuh kekaguman. "Bibi, masakan Bibi sangat lezat! Rasanya tidak kalah dengan koki berbintang Michelin. Keputusan saya untuk menginap malam ini benar-benar tepat, saya bisa makan sepuasnya."
Jiang Yun tertawa senang. "Ah, tidak juga, masakan Bibi biasa saja. Ayo, Xiao Liang, coba masakan ini, ini adalah keahlian Bibi dan juga hidangan favorit Ye Yuan dulu."
"Bibi, biar saya sendiri saja... Terima kasih. Wah! Benar-benar enak! Saya sangat suka!"
"Kalau suka, makanlah yang banyak. Ayo, coba yang ini, ini kesukaan Huanhuan."
"Benarkah? Kalau begitu saya harus mencobanya... Hmm! Enak! Luar biasa!"
Melihat Xia Weiliang yang begitu pandai memuji dan bersikap akrab seolah menantu dan ibu mertua yang harmonis, Ye Yuan hanya bisa terdiam tidak habis pikir.
Sementara itu, Ye Huan mendekat dan berbisik, "Kak, bukankah Kakak bilang tidak punya pacar dan ingin mengejar Kak Muyue? Kenapa tiba-tiba membawa pulang seorang kakak ipar?"
Tak disangka, pendengaran Xia Weiliang cukup tajam. Dia langsung mendongak dan bertanya pada Ye Huan sambil tersenyum, "Huanhuan, siapa Kak Muyue itu?"
"Eh..." Ye Huan merasa bersalah pada kakaknya dan langsung menunduk sambil menyantap makanannya dengan cepat.
Xia Weiliang menatap Ye Yuan dengan senyum penuh arti, seolah sedang memergoki perselingkuhan, lalu berkata, "Sayang..."
Ye Yuan memotong dengan dingin, "Tutup mulutmu! Jangan memanggil sembarangan!"
"Baiklah, A-Yuan, siapa Kak Muyue itu?"
"Apa urusannya denganmu? Cepat habiskan makananmu!"
"Hmph! Pria yang merasa bersalah!" Xia Weiliang mendengus, meski tidak terus mendesak, dia diam-diam mencatat nama itu di dalam hatinya...
Tunggu! Ada yang aneh! Mengapa nama itu terdengar sangat familiar? Rasanya dia sering sekali mendengarnya...
"BOOM!"
Tiba-tiba sebuah dentuman keras memutus lamunan Xia Weiliang. Saat dia dan keluarga Ye menoleh dengan terkejut ke arah suara, mereka mendapati Ye Yuan sudah tidak ada di kursinya, seolah menghilang ke udara!
"Gemuruh—"
Beberapa ekskavator besar melaju kencang di sepanjang jalan sempit, menghancurkan rumah dan tembok yang menghalangi jalan mereka menuju Klinik Huichun. Cheng Jinxu duduk di dalam salah satu ekskavator, menunjuk ke arah klinik dan memberi perintah, "Ratakan tempat itu! Buat jadi tanah rata! Jangan sisakan satu batu pun!"
Di belakang ekskavator itu, ada iring-iringan kendaraan panjang berisi para preman yang dia kumpulkan untuk menghabisi Ye Yuan. Dalam sekejap, ekskavator besar itu sudah mendekati klinik. Ayunan ekskavator yang raksasa siap merobohkan dinding luar klinik yang kokoh, mengubah klinik besar itu menjadi puing-puing.
Namun, tepat pada saat itu, sekelompok wanita berambut pendek berbaju hitam tiba-tiba muncul dari kegelapan, berdiri di depan klinik untuk menghadang laju ekskavator. Mereka berteriak keras, "Berhenti! Segera berhenti!"
Pemandangan ini sangat aneh. Ekskavator di depan melambat seolah ragu. Namun, Cheng Jinxu membentak dengan kejam, "Apa yang kalian lakukan? Siapa yang menyuruh kalian berhenti?"
"Jangan pedulikan para wanita itu! Gilas saja mereka!"
"Kalau mereka ingin mati, biarkan saja!"
Ekskavator besar itu kembali menambah kecepatan dan terus melaju. Para wanita itu terpaksa menghindar agar tidak tergilas hingga hancur. Namun, menyadari majikan mereka masih berada di dalam klinik, mereka tidak memedulikan bahaya dan bersiap melompat ke atas ekskavator untuk menyeret pengemudinya keluar.
Tak disangka, Cheng Jinxu yang berada di ekskavator belakang melaju kencang dan mengayunkan sekop raksasanya ke arah mereka! Para wanita itu berhamburan menghindar. Salah satu dari mereka, yang masih terluka, bergerak terlalu lambat. Dia hanya bisa terpaku melihat sekop raksasa itu menghantam ke arah kepalanya dengan putus asa, membayangkan darah akan membanjiri tempat itu.
Namun tepat di saat itu!
Sebuah tangan tiba-tiba terangkat dari belakangnya!
Disertai dentuman keras, tangan itu dengan kekuatan yang luar biasa sanggup menahan sekop raksasa seberat seribu kati yang sedang menghantam ke bawah!