Bab Dua Puluh Sembilan: Ujian Kecil
Setelah berjalan-jalan sebentar, mereka berdua memutuskan untuk pulang naik bus. Bukan karena enggan berkeliling, melainkan khawatir akan terjebak jam sibuk. Jika harus berdesak-desakan lagi, Li Qingchen pasti harus merapalkan mantra penenang sepanjang jalan.
...
Kring!
Hari ini kelas akan mengadakan ujian kecil, dan Pak Lu yang akan mengawasinya. Oleh karena itu, sejak pagi-pagi sekali, banyak siswa yang sudah datang ke kelas sambil memegang buku pelajaran, berusaha menghafal materi di saat-saat terakhir.
Di zaman apa pun, orang tua selalu menganggap nilai ujian sangat penting. Meski hanya ujian kecil, para siswa tetap takut mendapat nilai buruk dan dimarahi saat sampai di rumah. Saat ini, kelas terbagi menjadi dua kubu. Mereka yang biasanya berprestasi atau sudah belajar dengan tekun tampak tenang tanpa rasa takut sedikit pun. Sementara bagi mereka yang baru belajar mendadak, mereka tampak sangat serius membaca buku. Mereka memasang wajah siaga dan melarang siapa pun mendekat agar tidak mengganggu konsentrasi mereka.
"Sudah kuduga, seberapa santai kita di akhir pekan, seberat itulah penderitaan di hari Senin. Kenapa harus ada ujian sepagi ini?" keluh Su Wangwang begitu tiba di kelas dan baru menyadari adanya ujian.
"Benar sekali. Pak Lu sudah memberitahukannya minggu lalu, tapi aku tidak mendengarkan dengan saksama, baru tahu sekarang!"
"Cepat keluarkan bukumu dan baca, ingatlah sebanyak yang kamu bisa." Teman di belakang Su Wangwang, yang biasanya cukup akrab, merasa senasib sepenanggungan dan tampak sangat sedih. Ia tidak lupa mengingatkan Su Wangwang.
"Tidak apa-apa, kan cuma ujian kecil," jawab Su Wangwang yang justru tidak merasa gugup. Teman di belakangnya mengira Su Wangwang sudah pasrah dan menyerah.
"Semoga kita semua bisa mengerjakan apa yang keluar dan menebak dengan benar apa yang tidak kita ketahui."
"Amin, semoga ucapanmu jadi kenyataan!"
Teman di belakang kemudian beralih bertanya kepada Li Qingchen, "Li Qingchen, nilaimu biasanya bagus, tolong bantu ya. Beri tahu aku saat ujian nanti."
Membantu menyontek adalah hal yang mustahil. Li Qingchen tidak menolak secara langsung, melainkan bertanya balik, "Pak Lu sendiri yang mengawasi. Kalau kamu berani menyontek di depan matanya, baru aku akui kamu hebat."
Mendengar itu, siswa tersebut langsung lemas. Pengawasan Pak Lu sangat ketat; jika sampai ketahuan menyontek, hari-hari berikutnya pasti akan sangat menyiksa.
Saat bel masuk berbunyi, Pak Lu masuk dengan membawa tumpukan lembar ujian yang tebal. "Semuanya, simpan buku kalian! Letakkan tas di meja guru! Sekali saja ketahuan menyontek, nilai kalian dianggap hangus!"
Para siswa segera membereskan barang-barang mereka dan duduk di tempat masing-masing untuk menanti ujian.
"Kerjakan dengan baik, meski ini hanya ujian kecil, tetap harus dianggap serius," pesan Li Qingchen kepada Su Wangwang sebelum ujian dimulai.
Su Wangwang mengedipkan matanya dan berkata dengan percaya diri, "Tenang saja."
Setelah belajar selama berhari-hari, Su Wangwang tidak tahu peringkat berapa yang akan ia dapatkan. Namun, setidaknya ia bisa merasakan kemajuannya setiap hari. Untuk ujian kecil ini, ia tidak takut meski belum sempat mengulang materi.
*Srak, srak, srak.*
Tak lama kemudian, setelah lembar ujian dibagikan, suasana kelas menjadi sunyi. Hanya terdengar suara gesekan ujung pena di atas kertas. Soal-soal ini tidak sulit bagi Li Qingchen, sehingga ia menyelesaikannya dengan cepat.
Ia melirik ke arah Su Wangwang yang sesekali menggigit ujung pena sambil mengerutkan kening, lalu tiba-tiba teringat sesuatu dan menulis dengan semangat di lembar ujian. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan.
"Waktu tinggal setengah jam, yang sudah selesai jangan mengganggu siswa lain," tegur Pak Lu.
Menyadari tatapan tajam Pak Lu yang tertuju padanya, Li Qingchen akhirnya mengalihkan pandangan dari wajah Su Wangwang dengan enggan. Rasanya, menatapnya selama apa pun tidak akan pernah cukup!
Menunggu ujian berakhir terasa sangat membosankan. Li Qingchen sudah memeriksa lembar ujiannya sendiri setidaknya tiga kali. Ia pun memutuskan untuk menelungkup di meja dan beristirahat sejenak.
Di dalam kelas, sebagian siswa sudah berhenti menulis. Mereka yang selesai lebih awal biasanya adalah siswa berprestasi atau mereka yang sudah menyerah, seperti Bai Yueya dan Li Tong. Keduanya sibuk dengan dunianya sendiri; yang satu menggambar di kertas buram, yang lainnya melamun.
"Cih, sok jago," gumam Bai Yueya. Saat waktu ujian hampir habis, ia melirik ke arah Li Qingchen dan kebetulan melihat Su Wangwang yang masih terburu-buru menjawab soal. Ia mencibir dengan nada meremehkan. Nilai Su Wangwang biasanya hanya sedikit lebih baik darinya, jadi Bai Yueya tidak percaya Su Wangwang bisa mendapat nilai bagus.
"Ujian selesai! Berhenti menulis, ketua kelompok kumpulkan lembar ujiannya!"
Di saat-saat terakhir, Su Wangwang baru saja menyelesaikan soal terakhirnya. Setelah ujian, ia tampak sedikit kecewa. "Aku bahkan belum sempat memeriksa lembar jawabanku, kenapa waktu ujian sudah habis."
"Tidak apa-apa, target kita bukan ujian kecil ini, melainkan ujian tengah semester. Teruslah belajar dengan giat, usahakan lain kali bisa lebih cepat," hibur Li Qingchen saat melihat gadis kecil itu bermuram durja.
"Benar! Ujian tengah semester adalah penentuan akhirnya!" Su Wangwang kembali penuh semangat.
Ia tetaplah Su Wangwang yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.
"Li Qingchen, kita pasti bisa berhasil, kan?"
"Tentu! Su Wangwang kita ini adalah petarung tangguh yang tak bisa dikalahkan!"
"Siapa itu petarung tangguh?"
"Eh... itu artinya orang yang kuat." Li Qingchen keceplosan menggunakan istilah dari masa depan. Untungnya, ia cukup sigap untuk mengalihkan pembicaraan.
"Hahaha, betul! Aku adalah petarung tangguh!"
Melihat betapa bangganya Su Wangwang, Li Qingchen tidak berani menjelaskan bahwa istilah itu sebenarnya merujuk pada kecoa. Ia tidak ingin mati muda...
Malam harinya, Li Qingchen datang ke rumah Bibi Wang untuk memberikan les tambahan kepada Chen Xiaotang seperti biasa. Setelah selesai, Bibi Wang menahan Li Qingchen. Dengan penuh semangat, ia mengeluarkan rapor Chen Xiaotang.
"Ini nilai Tangtang kali ini. Kamu hebat sekali! Bisa membuat kemajuan Tangtang begitu pesat!"
Nilai Chen Xiaotang sebenarnya lumayan, tetapi untuk bisa masuk ke SMA Negeri 2 Dengzhou, ia belum memiliki kepastian. Semakin tinggi tingkat pelajarannya, semakin sulit untuk meningkatkan nilai. Chen Xiaotang sempat mengalami kebuntuan dalam belajar, itulah sebabnya Bibi Wang memutuskan untuk menyewa guru les.
Awalnya, Bibi Wang menyewa Li Qingchen hanya sebagai bentuk balas budi atas jasanya menyelamatkan nyawa mereka. Bibi Wang tidak menaruh harapan besar tentang seberapa jauh Li Qingchen bisa membimbing Chen Xiaotang, mengingat Li Qingchen sendiri masih seorang siswa.
Namun, Li Qingchen memberikan kejutan yang luar biasa. Baru sepuluh hari mengajar, pada ujian bulanan kali ini, peringkat Chen Xiaotang naik lima tingkat dibandingkan sebelumnya.
"Terima kasih banyak. Tangtang selalu ingin masuk ke SMA Negeri 2 Zhengzhou. Dengan nilainya yang dulu, sebenarnya tidak ada harapan. Berkat bantuanmu, dia berkembang sangat cepat. Seluruh keluarga kami sangat terkejut."
Sambil berkata demikian, Bibi Wang mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari sakunya dan memberikannya kepada Li Qingchen. "Ini bayaranmu, silakan dihitung."
Setelah menerima uang tersebut, Li Qingchen menghitungnya sekilas. Jumlahnya mencapai 1.500 yuan. Ditambah dengan uang muka 300 yuan yang diberikan sebelumnya, totalnya menjadi 1.800 yuan. Padahal, bayaran les Chen Xiaotang biasanya hanya 500 sampai 600 yuan sebulan. Bibi Wang memberikan bayaran untuk tiga bulan sekaligus.
Li Qingchen mengerutkan kening, berniat mengembalikan kelebihan uang tersebut kepada Bibi Wang.